
"Kak ada masalah, tiba - tiba saja saham utama menurun drastis tanpa sebab yang pasti." Aditya melapor pada Alan yang baru saja selesai pertemuan.
"Apa maksudmu? Bagaimana bisa seperti itu, bukankah kita sudah menstabilkan semuanya." Alan terlihat sangat kaget dengan info dari Aditya.
"Ya itulah, aku juga baru dapat kabarnya hari ini dan laporannya juga baru masuk hari ini. Aku tak tau kenapa bisa seperti itu, dan semuanya terjadi begitu cepat." Aditya menghela nafas dan menatap Alan yang terlihat lemas seolah mendapatkan pukulan berat.
"Kita harus melakukan sesuatu dan siapkan ruang rapat sekarang juga. Karena para pemegang saham pasti habis ini akan ribut" Alan berkata dengan nada yang lemah.
"Baiklah aku siapkan sekarang, dan ini semua berkasnya kakak lihat dan pelajari dulu" Aditya keluar dari ruang kerja Alan.
...🌴🌴🌴...
"Rencana mu apa nak Syafa? Tidak mungkin bisa dengan mudah meredam omongan orang." Bu Prapti yang sedang berbincang dengan Syafira menatap Syafira penuh rasa kasian.
"Masih belum tau Bu, tapi yang jelas syafa gak mungkin bilang sama yang lainnya karena Syafa gak mau membuat mereka semuanya merasa khawatir dan susah." Syafira berkata dan menghela nafas berkali - kali.
"Bagaimana kalau kamu ikut program belajar saja, nanti kalau ada ibu akan mendaftarkan kamu jadi kamu bisa mengikutinya dan juga bisa meredam sedikit omongan dari orang - orang." Bu Prapti menyarankan pada Syafira.
"Untuk berapa lama Bu biasanya program belajar yang diadakan oleh sanggar dan sekolah tari ini?" Syafira terlihat sangat tertarik.
"Memang tak lama hanya 7 bulan saja, tapi setidaknya itu jauh lebih baik." ucap Bu Prapti.
"Baiklah, nanti Syafa akan bilang dan meminta ijin pada keluarga Syafa dan semoga saja mereka menyetujui semuanya, dan tolong jangan katakan apa pun pada mereka Bu." Syafira berkata dan meminta pada Bu Prapti untuk berjanji agar tak cerita yang sebenarnya pada keluarganya, Bu Prapti pun menyetujuinya.
...🌴🌴🌴...
"Bagaimana ini bisa terjadi tuan Alan, selama bertahun - tahun saya ikut berbisnis belum pernah sekali pun ada hal seperti ini, apa lagi kebocoran rahasia pemegang saham sampai menurunkan nilai saham utama hingga 45 persen dari nilai awal." Seorang pemegang saham menanyakan pada Alan mengenai penurunan nilai saham utama yang tiba - tiba.
"Anda tenang saja tuan, aku tau kejadian ini sangat langkah dan ini pertama kali terjadi itu pun di perusahaan saya. Tapi aku yakin semua ini tak akan terjadi jika tak ada pemicunya. Aku pastikan aku akan menemukan dalang dibalik semuanya." jelas Alan.
"Apa kau bisa menjamin kalau semuanya bisa kembali normal lagi? Kalau semakin menurun maka kebangkrutan sudah dapat dipastikan akan terjadi." Salah seorang pemegang saham lainnya juga ikut bersuara.
Ruang rapat siang itu sangat ramai, mereka semua meminta penjelasan dan penanganan pada Alan atas semua yang terjadi. Siang itu Alan menjelaskan cara kerja dari perusahaannya dan akan memasang sistem keamanan yang lebih baik lagi disetiap departemen, Alan juga menjanjikan kalau kenaikan saham akan kembali normal dan stabil dalam 1 bulan kedepan.
Beberapa dari mereka yang baru bergabung dengan perusahaan Alan merasa tak yakin dengan kemampuan Alan untuk mengembalikan kenaikan saham utama dalam waktu 1 bulan, sedangkan mereka yang sudah berkerja sama dengan Alan lebih dari 15 tahun telah tau kemampuan Alan yang waktu itu masih begitu muda dengan usia 18 tahun namun mampu merubah segalanya dan mengguncang dunia bisnis.
"Baik, begini saja. Bagi kalian yang masih mendengarkan dan percaya pada ku untuk mengembalikan semuanya pada posisi sebelumnya silakan terus bergabung dengan saya, dan yang merasa ragu silakan keluar dan saya akan membayar kerugian kalian, tapi kalian harus menunggu untuk beberapa waktu agar saya bisa membayar semuanya." Alan berkata dengan sangat percaya diri dan formal yang menandakan kalau dia telah jenuh dengan mereka yang tak bisa percaya dengan kemampuannya.
"Apa? Apa maksud dari tuan Alan sebenarnya?" Seorang pemegang saham menyela dan merasa tak terima.
"Aku rasa Alan sudah mengatakan dengan sangat jelas, apakah kau masih belum mengerti maksudnya? Alan mengatakan silakan anda keluar dari pemegang saham di perusahaan ini jika anda tak ingin tetap di sini dan keberatan untuk menanggung bersama kerugian yang mungkin akan terjadi." jelas tuan Baron pada seorang pemegang saham yang dari tadi bertanya seolah dia merasa takut akan terjadinya kerugian dari dampak penurunan nilai saham utama.
"Ya, itu penyelesaian yang sangat tepat." tuan Budianto ikut bersuara.
"Hm, masuk akal. Itu cara yang efisien, memangkas rumput liar." tuan Sugeng pun ikut menimpali, Alan dan Aditya tersenyum mendengar ucapan orang - orang yang masih mendukung Alan.
"Aku jangan ditinggalkan karena aku juga pasti akan berjuang bersama dengan kalian." tuan Nanang ikut mengutarakan pendapatnya.
...🌴🌴🌴...
Sore itu Syafira baru pulang dari sanggar tari bersama dengan Alga naik taksi karena Alan tak menjemput dan memberi tau Syafira kalau di perusahaan sedang ada masalah dan Alan harus menyelesaikannya.
"Hey, coba lihat bukan kah itu adalah gadis itu? Yang katanya hamil diluar nikah bahkan disaat dia masih duduk di bangku sekolah" ibu 2
"Iya benar, sepertinya yang dikatakan oleh orang - orang itu benar, dia memang wanita yang gak bener." Ibu 3
Beberapa ibu - ibu yang sedang duduk ngerumpi membicarakan Syafira yang baru pulang dari sanggar dan membawah Alga. Pandangan orang tentang Syafira telah menjadi tatapan mengejek, meremehkan dan menghina karena latar belakang kelahiran Alga dan juga status dari pekerjaan Syafira.
"Ya ampun ibu - ibu ini, apa tak enak jika tak bergunjing dan ngomongin kekurangan orang lain? Bukankah kita tak tau jelasnya, sudah - sudah jangan ngomongin sesuatu yang belum tentu sesuai dengan apa yang kita pikirkan dan kita nilai." bu RT memotong pembicaraan beberapa dari ibu - ibu yang sedang duduk dan berkumpul.
"Lah kami kan bicara soal fakta Bu RT." ibu 2
"Iya Bu RT, lagian masak bu RT diam saja di tempat kita ini ada wanita murahan yang gak jelas asal usul anaknya itu." ibu 1
"Jangan - jangan nanti suami dan anak - anak kita lagi yang kena" Ibu 2
"Ih, amit - amit banget." ibu 3
"Sudah - sudah, bukankah tadi saya sudah bilang, kalau apa yang kita lihat itu belum tentu yang sebenarnya, lagian kita juga tidak tau cerita dibalik semuanya. Bagaimana kalau dibalikkan kepada kita, apakah kita tau dan yakin kalau para suami dan anak kita yang lagi kerja di luar rumah itu baik dan tidak berbuat salah? Bagaimana kalau misalnya justru mereka malah membuat anak gadis orang lain menderita apa yang akan kita lakukan?" jelas Bu RT pada para ibu - ibu yang sedang ngerumpi.
"Tapi kan Bu RT, kita tau anak kita seperti apa dan suami kita seperti apa." ibu 1
"Iya benar itu Bu RT." ibu 2
"Siapa bilang? Itu buktinya suami ibu sebelah rumah blok H suaminya yang alim dan rajin solat buktinya malah menghamili anak orang bersama dengan anaknya sendiri. Dan tidak ada orang yang ingin menjadi buruk dalam hidupnya, semua ada jalannya selama kita mau mencari dan berusaha." Bu RT memberikan contoh dari tetangganya yang terlihat baik dan sopan ternyata telah memp*rkosa seorang gadis bersama dengan putranya.
Para ibu - ibu yang tadi ngomongin Syafira pun terdiam dan menunduk, mereka mengatakan kalau ucapan Bu RT ada benarnya juga. Sebab orang yang dulu mereka hormati dan banggakan karena miliki anak yang patuh - patuh dan rajin ternyata seorang penjahat bahkan termasuk anak - anaknya juga.
"Iya juga sih, yang dikatakan oleh Bu RT." ibu 3
"Iya, dulu kita juga sangat menghormatinya dan tak sangka ternyata keluarga mereka hanya terlihat baik diluar saja." ibu 1
"Lagian kenapa kalian terus saja menilai nak Syafira, dia kan gak ada menyakiti kalian dan lagi anaknya sangat baik." ucap Bu RT. "Jangan suka menilai orang sembarangan jika kita tak tau apa - apa mengenai orang itu." sambung Bu RT.
"Iya sih, dia tak pernah berbuat salah. Kami cuma merasa curiga saja karena dia tiba - tiba saja datang dan sudah punya anak sebesar itu, lalu dulu waktu masih sekolah tiba - tiba menghilang begitu lama yang katanya sembunyi karena hamil di luar nikah, siapa yang gak curiga dan berfikir tidak - tidak Bu RT, dan lagi pekerjaannya itu keluar masuk klub malam." ibu 2
...🌴🌴🌴...
"Jadi seperti itu mereka menilai aku, apa mereka tau bagaimana cara ku menjalani hidup ini? Kalau mereka jadi aku pasti mereka belum tentu bisa seperti diriku dan tak akan kuat" gumam Syafira sambil menghirup nafas dalam berkali - kali selama menyiapkan masakan untuk makan malam.
Syafira terlihat sangat tertekan dengan segala omongan dan juga penilaian dari beberapa ibu - ibu yang selalu memandangnya remeh dan rendah. Bahkan membuat putranya yang tak bersalah jadi ikut mendapatkan imbasnya.