
Pagi itu Syafira tak keluar rumah dan dia mengajak Alga untuk berolah raga, dan Alga selalu sangat senang saat diajak berolah raga dengan mamanya karena dia bisa diayun - ayun dan bolak - balik mengikuti gerakan sang mama.
"Pagi bi, kenapa begitu sepi pada kemana semuanya?" tanya Alan pada bi Aminah saat dia baru bangun dan turun tak ada siapa pun.
"Oh, nak Syafa dan Alga sedang berolah raga di ruang olah raga, apa nak Alan mau sarapan dulu? Tadi nak Syafa sudah buat sarapan." bi Aminah memberi tau Alan dan sekaligus bertanya karena tadi diminta sama Syafira
"Tidak, nanti saja bi. Aku mau lihat mereka dulu." Alan berjalan kesamping rumah menuju tepat olah raga.
"Apa dia tak capek setelah permainan semalam, dan pagi hari masih harus olahraga." gumam Alan sambil mengingat pergulatannya dengan Syafira semalam yang sangat seru.
Alan membuka pintu dan melihat Syafira melakukan gerakan yoga dengan Alga yang memeluk erat di tubuh Syafira serta mengikuti setiap gerakan Syafira. Alan tersenyum melihat itu dan dia jadi membayangkan kalau dirinya ber yoga dengan Syafira seperti kemaren malam, jadi bagaimana gerakan mereka. Alan tersenyum dan berjalan masuk.
Alan menyaksikan kegiatan dua orang yang dia sayang itu dengan seksama dan duduk di bangku yang tak jauh dari tempat Syafira melakukan yoga. Alan tak pernah menyangka kalau dia akan memiliki takdir yang begitu sangat tak terduga seperti saat ini.
"Mama aku haus, mau minum." Alga merengek minta minum pada Syafira.
"Hay kamu dari tadi cuma nemplok sama mama kenapa merengek haus." Syafira mencubit hidung Alga saat mereka berdua duduk santai untuk istirahat.
"Mama, aku juga ikut menahan napas jadi aku juga capek." ucap Alga dengan memajukan bibirnya karena kesal sama Syafira.
"Hey..." Syafira menciumi Alga
Alga tertawa terpingkal - pingkal karena diserbu oleh ciuman Syafira, dan hal itu membuat Alan ikut tertawa karena dia selama ini dia tak pernah melihat interaksi kedua orang itu yang selama ini tak pernah dia lihat bagaimana cara Syafira merawat dan membesarkan anak seorang diri hingga putra mereka sudah sebesar itu.
"Mama geli, keringat mama jatuh semua ke wajahku." protes Alga yang tak dihiraukan oleh Syafira dan terus saja menciuminya.
"Papa." ucap Alga dan seketika Syafira berhenti dan menoleh.
"Loh, Daddy sejak kapan di sini?"Syafira bertanya dan berdiri mengelap dirinya dengan handuk.
"Sejak tadi, sudah berada di sini dari kalian melakukan gerak yoga terakhir sampai kalian bermain dengan seru tanpa mengajak ku ikut serta." jawab Alan mendekat pada Alga yang duduk di lantai.
"Waktunya mandi, aku akan membawah kalian ke restoran serta kafe dan akan ku kenalkan dengan mereka semuanya ayo." Alan menggendong Alga dan keluar dari ruang olahraga.
...🌴🌴🌴...
"Selamat sore pak." sapa salah seorang pegawai kafe itu saat dia melihat Alan masuk.
"Iya, apa kak Lea tak di sini?" tanya Alan dan berjalan masuk menuju meja pribadi.
"Biasanya jam 5 sore baru di sini pak, mungkin sebentar lagi." jawab pegawai itu setelah melihat jam dan menunjukkan pukul 4 sore
"Baiklah, siapkan saja makanan ringan dan juga jus mangga. Aku akan ada di sini sampai kakak datang." Alan mengatakan pada pegawai itu dengan tersenyum
"Baik pak." pegawai itu pun pergi menyiapkan apa yang diminta oleh Alan tadi dan dia bercerita dengan seru bersama dengan teman - temannya.
"Benarkah? Wah kamu mendapat durian runtuh dong kalau gitu, tau gitu aku juga ada di pelayanan depan saja biar bisa melihat senyum pak Alan yang sangat langkah itu." ucap teman pegawai itu.
"Iya, dan dia bersama dengan seorang wanita cantik dan seorang anak kecil yang lucu. Tapi sepertinya usia mereka sungguh sangat jauh, tapi mereka terlihat serasi, cantik dan tampan, siapa sebenarnya wanita itu." gumam pegawai itu dan temannya juga ikut bertanya - tanya.
"Aku mau ikut kedepan, ingin lihat juga." dua orang temannya juga ikut mengantar menu yang diminta Alan karena mereka juga ingin melihat Alan dan siapa orang yang dibawah oleh Alan.
"Silakan pak." ucap pegawai itu setelah meletakkan semua menu diatas meja Alan.
"Terima kasih kakak - kakak." ucap Alga dan Alan tersenyum sambil mengusap kepala Alga dengan lembut.
"Apa di sini ada band ya kalau malam?" tanya Syafira karena dia melihat ada drummer dan beberapa alat musik lainnya.
"Iya, setiap akhir pekan selalu ada band yang akan tampil." jawab pegawai itu ramah.
Syafira tersenyum karena dia sangat suka dengan drum dan juga alat musik lainnya, karena waktu belajar dia mengambil sekolah di seni musik untuk bisa mengalihkan fokusnya agar tak terlalu memikirkan Alan dan merindukannya.
"Mama, apa mama sakit? Kenapa wajah mama merah?" Alga bertanya karena melihat wajah mamanya bersemu merah.
"Apa ada yang tak enak? Alga benar wajahmu sangat merah, kamu gak apa kan sayang?" tanya Alan dan hal itu membuat Syafira jadi semakin salah tingkah.
Melihat reaksi Syafira akhirnya Alan sadar kalau gadis kecilnya itu sedang memikirkan hal lain sehingga membuat wajahnya bersemu merah bagai udang rebut yang terlalu matang itu.
"Baiklah, sebelum waktunya tiba bagaimana kalau kita isi dengan suara - suara merdu dari para pengunjung saja, siapa saja boleh yang ingin bernyanyi dengan menghibur kami semua. Ayo siapa yang ingin tampil dan bernyanyi di sini, yang mau silakan berdiri." ucap seorang pegawai kafe itu setelah dia bernyanyi 1 lagi dan menawarkan pada semua pengunjung untuk unjuk kebolehan juga. Karena setiap akhir pekan kafe itu akan sangat ramai sebab didatangi para anak muda yang ingin bernyanyi dan membuat event.
"Jangan dipikirkan sekarang, aku akan memberikan mu semuanya nanti malam dan kamu boleh menikmatinya sampai puas." bisik Alan ditelinga Syafira sehingga membuat Syafira kaget dan langsung berdiri.
"Ya, silakan nona yang ada di meja pribadi untuk datang dan bernyanyi untuk kita, ayo kita beri tepuk tangan untuk nona itu." ucap pegawai itu saat melihat seketika Syafira berdiri.
"Eh?" Syafira menoleh dengan bingung dan sorak semua pengunjung terdengar.
"Ayo mama bernyanyilah" ucap Alga dan Syafira yang tak mendengarkan ucap pegawai itu pun merasa bingung dan malu.
"Silakan nona naik kemari dan tunjukkan suara merdu anda." pegawai itu memanggil Syafira.
"Pergilah" Alan tersenyum dan Syafira menatap kesal pada Alan
"Aku juga ingin lihat, apakah nona yang mahir main drum dan DJ juga bisa bernyanyi" Alan berkata dengan sedikit mengejek Syafira
"Aku akan membalas Daddy nanti." ucap Syafira dengan kesal dan pergi kearah pegawai yang memanggilnya
"Aku tunggu dengan senang hati" jawab Alan dengan senyuman.
"Mama sangat hebat, bernyanyilah dengan gitar mama." teriak Alga dengan seru.
"Ok baby." jawab Syafira dan tersenyum dengan sebuah gitar ditangannya.
Syafira mulai memetik senar gitarnya dan menutup matanya dan suaranya pun mulai keluar seiring dengan tarian jemarinya pada senar gitar itu dengan sebuah lagu Rahasia hati dari Element.
Reff
Bila aku harus mencintai
Dan berbagi hati, itu hanya denganmu
Namun bila ku harus tanpamu
Akan tetap ku arungi hidup tanpa cinta
Bila aku, aku harus mencintai (ku harus mencintai)
Dan berbagi hati, itu hanya denganmu (namun bila)
Namun bila, bila ku harus tanpamu (aku harus tanpamu)
Akan tetap ku arungi hidup tanpa bercinta
Alan terkejud karena gadis kecilnya tak hanya bisa bermain keras namun dia juga bisa bernyanyi dan bermain gitar dengan sangat baik sama persis dengan mamanya dulu (Adinda), alan menatap terpukau pada penampilan Syafira. Dan keseruan dari pengunjung juga terdengar sangat ramai meneriaki Syafira karena suara merdunya.
"Suaranya sangat merdu, siapa ya wanita itu?"
"Suaranya sangat enak didengar."
"Jadi teringat akan penyanyi yang dulu."
Para pengunjung yang sudah lama menjadi pengunjung tetap lama kafe itu mulai membicarakan akan penampilan Adinda yang dulu sering bernyanyi dan menghibur semua orang. Semua itu membuat Alan jadi bernostalgia akan dirinya yang mendengarkan sang mama dulu bernyanyi disetiap akhir pekan.