
Kegiatan Alan selama melakukan akuisisi perusahan guntoro dan juga persaingannya dengan Daren membuat dia sangat sibuk hingga tak pernah bertemu dengan Syafira dan Alga secara benar, karena Alan selalu berangkat pagi - pagi sekali dan pulang setelah semua orang telah tertidur.
Hari pernikahan Ayunda pun sudah dekat dan Syarifah sudah menerima kain untuk dijahit yang nanti akan digunakan untuk datang ke acara pesta pernikahan Ayunda, Syafira pergi ke penjahit yang diberitahukan oleh ibu dari salah satu teman Alga di sekolah, dan hasilnya juga sangat baik, Syafira sangat puas dengan hasilnya.
"Mommy, Aga mau ikut ke acara kakak Ayu. Aga mau pakai baju yang bagus." Alga juga sangat antusias ingin ikut datang ke acara nikahan Ayunda.
"Syafa sayang." alea masuk dan berteriak memanggil Syafira
"Ma, Syafa ada di kamar lagi nyoba baju yang baru saja dijahit." teriak Syafira.
"Hem, cantik sekali." alea memuji Syafira dan Syafira tersenyum
"Aga juga mau ikut nanti dan pakai baju bagus." teriak Alga.
"Iya sayang ku, kamu nanti akan jadi pangeran paling tampan sedunia." alea menangkub wajah Alga dan mencium pipi Alga
"Kamu nanti akan jadi Bridesmaid atau apa gitu kata Ayu, apa kamu akan mencari sendiri pendamping pria mu atau ikut yang sudah ada saja nanti?" tanya alea pada Syafira.
"Syafa ikut saja ma, karena Syafa gak tau mau ngajak siapa. Tapi ma, bolehkah nanti Syafa datang membawah teman?" tanya Syafira sedikit khawatir
"Tentu saja boleh sayang, kenapa kamu terlihat begitu khawatir." Alea tersenyum menatap Syafira yang sedang berganti baju setelah mencobak baju untuk ke pesta Ayunda.
"Ada apa mama kemari?" tanya Syafira setelah selesai ganti baju.
"Cuma mau ingatkan sama kamu kalau besok itu adalah acara nikahan Ayu dan kamu harus ikut besok, takut kamu lupa jadi mama ingatkan sekarang." ucap Alea mengingatkan Syafira.
"Oh iya, Syafa hampir lupa kalau acara nikahnya besok. Kalau gitu Syafa siapkan bajunya untuk besok." Syafira bangun lagi dan memilih gaun.
"Mama bantu." Alea juga ikut membantu dan melihat Syafira mencoba beberapa gaun yang cocok lagi.
...🌴🌴🌴...
"Kak semuanya sudah menunggu, rapatnya mau dimulai sekarang?" Aditya bertanya pada Alan yang terlihat sangat lelah karena selama sebulan telah bekerja keras untuk menangani semuanya.
"Hem, iya baiklah ayo kita selesaikan semuanya." Alan berdiri dan berjalan ke arah ruang rapat.
Didalam ruangan itu semua orang telah menunggu dengan sangat tenang. Alan menyelesaikan rapat hari itu dengan waktu sedikit lama karena adanya masalah di sana sini dan juga adanya penyanggahan dari beberapa orang yang masih ada keraguan pada Alan.
"Maaf pak ada telepon dari tuan Daren yang katanya mau bicara langsung dengan bapak apakah mau saya sambungkan panggilannya pak, atau saya putuskan saja." telepon dari sekretaris Alan. Karena saat ini Alan sedang istirahat di ruangannya.
"Sambungkan saja biar ku terima." jawab Alan.
"Halo Lan, tak ku sangka begitu sulit menghubungi mu. Apakah setelah menjadi saingan bisnis kau jadi begitu sulit untuk dihubungi." suara Daren terdengar setelah tersambung dengan Alan.
"Hem, katakan apa yang ingin kau katakan setelah itu matikan teleponnya karena aku sibuk." Alan
"Hahaha,,, kau begitu sombong. Hari ini aku kalah bukan berarti nanti aku akan kalah lagi, ingat aku tak akan mengalah dari mu dalam segala urusan, tidak hanya soal perusahaan bahkan soal wanita aku pasti akan berebut dengan mu. Apa kau tau Lan, kalau sekarang aku telah mendapatkan wanita yang dulu sangat kau jaga itu, bahkan kami sudah sampai tahap saling memuaskan satu sama lain." Daren.
"Ya, kau menang. Tapi asal kau tau saja kalau aku tak pernah menaruh satu wanita pun didalam hati ku, jadi semua itu tak berpengaruh pada ku kau dengan siapa dan sedang melakukan apa." Alan.
"C*h kau sangat percaya diri, ingatlah saat nanti tiba ada seseorang yang akan kau perhatikan namun dia tak mampu untuk kau gapai kau baru akan tau bagaimana menggodanya dia. Dan pada saat itu aku akan pastikan kau akan menangis saat aku telah menggapai wanita itu dalam pelukanku." Daren
"Omong kosong. Ingatlah kau tak akan pernah menemukan kelemahan ku sampai kapan pun." jawab Alan lalu mematikan teleponnya dengan daren.
"Dia kira akan ada wanita seperti itu dalam hidup ku, bodoh." gumam Alan dan melanjutkan pekerjaannya lagi.
...🌴🌴🌴...
"Siapa yang menyalakan musik begitu keras, bukankah ruangan itu kedap suara?" Alan bertanya - tanya dan melangkah kearah samping rumah untuk melihat siapa orang yang telah berolah raga malam - malam.
"Deg." jantung Alan berdebar sangat cepat saat dia melihat siapa orang yang menggunakan ruang fitnes itu.
Dengan pintu yang sedikit dibuka Syafira melakukan beberapa gerakan indah dalam tariannya, dan Syafira sengaja membuka pintu ruang olahraga itu. Karena dia tak ingin kalau nanti Alga terbangun dan tak melihatnya akan menangis, karena itulah Syafira sengaja melakukan itu agar nanti Alga tau kalau dirinya ada di ruang olahraga dan bisa menemukan dirinya dengan mengikuti alunan musik.
Syafira dengan baju yang minim dan seksi serta melekat pada tubuhnya menari dengan sangat indah dengan mengikuti alunan musik dan iramanya sesuai dengan gerakan Syafira. Baju yang digunakan oleh Syafira menunjukkan lekuk tubuh Syafira dengan sangat nyata dan sempurna.
"Gila, kenapa tubuhku bereaksi padanya, bukannya tadi aku merasa begitu lelah dan ingin segerah tidur, kenapa sekarang seolah ada sesuatu yang membara dan bergejolak dengan cepat." gumam Alan bersandar di dinding dan mengatur nafasnya dengan susah paya.
Alan bergegas pergi dari tepat itu dan langsung masuk kedalam kamarnya. Alan mengguyur tubuhnya dengan air dingin tanpa melepaskan bajunya karena hasrat dalam dirinya telah bangkit dan hampir menguasai dirinya. Alan menutup matanya namun dia malah melihat dengan sangat jelas gambaran tubuh Syafira yang sedang menari dengan sangat indah.
"Kenapa dia menggunakan baju yang berbeda dengan setiap kali dia tampil di klub, kenapa dia harus menggunakan baju yang menunjukkan semua lekuk tubuhnya dengan sangat sempurna seperti itu?" gumam Alan dibawah guyuran air, "Kenapa, kenapa dia harus putri yang ku besarkan, kenapa dia terlihat begitu menggoda, dan kenapa tubuhku justru bereaksi pada dirinya, kenapa.!" Alan terus saja bergumam dan memukul - mukulkan tangannya di dinding.
"Ah, segar sekali. Sepertinya Alga tak terbangun." Syafira yang selesai melakukan tariannya mematikan musiknya dan kembali kekamarnya. Syafira melihat tersenyum pada putranya yang masih terlelap.
Saat Syafira telah tidur Alan malah masih mengguyur tubuhnya di air dingin hampir 2 jam lamanya hingga jari tangannya mulai keriput karena kedinginan. Dan setelah Alan berhasil menguasai dirinya dia keluar dan menjalankan solat lalu turun untuk melihat kalau Syafira sudah tertidur dengan Alga.
Alan menghela nafas dalam, "Kau tak pernah melihat kegelisahan ku, apa yang harus aku lakukan untuk mu sayang" gumam Alan membetulkan selimut Syafira seperti setiap malam dia lakukan lalu melangkah keluar dari kamar Syafira dan kembali ke kamarnya.
Keesokan paginya Alan melihat Syafira masak pagi - pagi sekali karena tak tau kalau Alan hari itu tak kekantor karena diminta sama Alea untuk menemaninya dan suaminya mengantar Ayunda nikahan. Alan menatap cukup lama Syafira yang terlihat sangat mahir dalam menggunakan alat - alat dapur dengan tampilan rambut kuncir kuda dan kaos oblong, Alan menelan salifanya saat dia menatap leher putih Syafira yang mulus dan lagi - lagi Alan teringat akan apa yang dia lihat semalam.
"Dia benar - benar telah menjadi seorang wanita. Wanita yang menggoda, apa yang harus aku lakukan padanya ya." gumam Alan liri dan menuruni tangga.
"Untuk apa kamu masak?" tanya Alan berjalan mendekati Syafira.
"Oh, itu, untuk." Syafira kaget dan bingung mau jawab kalau dia masak untuk sarapan dan bekal untuk Alan ke kantor.
"Hari ini adalah pernikahan ayunda kita akan mengantarkannya dan pasti nanti disana kita akan makan - makan. Apa kamu lupa?" Alan duduk di kursi menghadap dapur.
"Iya Syafa lupa kalau harinya hari ini. Kalau begitu Syafa selesaikan ini dulu saja untuk sarapan Alga biar dia tak lapar nanti." jawab Syafira mencari alasan.
"Alga masih tidur?" Alan bertanya lagi
"Iya karena tadi Syafa gak membangunkannya." jawab Syafira.
"Daddy melihat dia dulu." ucap Alan dan pergi ke kamar Alga.
Alan menatap Alga yang masih terlelap dan memeluk guling dengan sangat erat. Alan tersenyum karena dia teringat akan masa kecil Syafira yang suka sekali tidur dengan memeluk guling, karena kalau tak ada guling maka Syafira akan naik ke tubuhnya dan menjadikan tubuh Alan sebagai alas untuk tidurnya dan jika dipindahkan akan menangis kencang.
Alan menunduk dan mencium pipi Alga lembut lalu mengusap kepala Alga, "Putra ku jadilah orang yang kuat dan selalu berbakti pada orang tua. Kau adalah anak yang hebat, aku sangat menyayangimu." bisik Alan pada Alga yang tertidur.
"Aga juga sayang mommy." ucap Alga yang ternyata terbangun.
"Eh, putra papa kebangun ya." Alan tersenyum menatap Alga.
"Papa, mana mommy Aga?" tanya Alga setelah dia menatap Alan.
Setelah itu Alan membantu Alga ke kamar mandi dan membawahnya keluar, Syafira yang melihat tersenyum sambil menata beberapa menu sarapan diatas meja makan.