Baby I Love You

Baby I Love You
Buka Puasa



"Wanita itu, dia benar - benar tak bisa untuk dimaafkan" Daren berkata dengan kesal saat dia mengetahui kalau Syafira tak hanya menghinanya di acara pesta namun juga melaporkan dirinya sebagai orang yang telah mengancamnya dan membuat hidupnya dalam bahaya.


"Dia sama saja dengan keluarganya dan si Alan yang sialan itu." Daren membanting semua barang yang ada di ruangannya dengan sangat marah


"Apa yang terjadi?" seorang pegawai yang lewat depan ruangan Daren bertanya pada temannya


"Tidak tau pastinya, tapi kalau dari rumor dia telah dilaporkan sebagai orang yang berbahaya karena telah mengancam seseorang yang salah, dan dia berurusan dengan duta New York" jelas dari temannya.


"Memangnya siapa yang telah diusik oleh bos kita?" tanya pegawai itu lagi


"Katanya dia adalah artis dari salah satu orkestra yang terkenal di sana dan juga merupakan keluarga terpandang di sana" jawab dari temannya


Di kantor Daren benar - benar sedang ramai membicarakan dirinya yang sedang dalam penyelidikan dan tahanan rumah karena telah meresahkan publik dan melakukan ancaman pada seseorang secara disengaja dan dalam keadaan sadar.


"Anita, apa yang kau lakukan hah?!" Daren marah besar pada Anita yang berkata kalau dia ingin pisah dengan dirinya.


"Apa kau tak dengar apa yang baru saja aku katakan hah? Aku ingin kita selesai dan tak ada hubungan lagi jadi tolong jangan pernah menghubungi aku lagi." jelas Anita dengan nada mengejek Daren


"Apa yang kau bilang, kau pikir kau bisa melakukan semuanya semau mu dan seenaknya saja hah?!" Daren berkata dengan keras.


"Tuan tolong tenanglah." Yusnia menahan Daren yang ingin memukul Anita


"Ya, sebaiknya kau bermain saja dengan sekretaris mu itu. Apa kau pikir aku tak tau kalau kalian ada main dibelakang ku selama ini. Menjijikkan" ucap Anita dan dia melangkah pergi meninggalkan kantor Daren.


"Haaah!!" Daren marah besar.


...🌴🌴🌴...


Saat di kantor Daren sedang dalam masalah dan keributan, berbeda dengan di kantor Alan. Di sana sedang ditumbuhi banyak bunga sehingga semua orang juga ikut merasakan kebahagiaan seperti yang sedang dirasakan oleh Alan saat ini.


"Selamat siang nyonya Syafira" sapa seorang pegawai yang melihat Syafira datang ke kantor Alan.


"Selamat siang" jawab Syafira dengan ramah dan senyuman tulus.


"Selamat siang nyonya" pegawai


"Siang" Syafira


"Selamat siang nyonya" pegawai


"Siang" Syafira


"Dia cantik sekali ya."


"Iya benar dia sangat cantik"


"Hooo, aku rasanya seperti bermimpi bisa melihat pemain piano dunia itu secara langsung. Karena dia selalu dilindungi dan disembunyikan, ku pikir karena ada skandal ternyata dia adalah istri bos kita."


Semua pegawai Alan juga sedang bergosip dan membicarakan dia, namun mereka berkata tentang kebaikan yang membawa senyum untuk semua orang.


"Kau datang sayang." sapa Aditya yang melihat Syafira


"Daddy." Syafira tersenyum dan memeluk Aditya


"Kak lihat siapa yang datang." Aditya membuka pintu kantor Alan dan terlihat Syafira melangkah dari belakang Aditya sehingga membuat senyum langsung mengembang di bibir Alan.


"Sendirian, tak bersama dengan Lisa." Alan bertanya dan bangun untuk menyambut Syafira


"Dia pergi sama kak Ayu, kebetulan dari kafe jadi aku mampir ke sini. Apakah masih sibuk" Syafira bertanya dan memeluk Alan.


"Hem tinggal rapat siang ini setelah itu selesai, tunggulah di sini" Alan mencium Syafira sebelum dia pergi ke ruang rapat bersama dengan Aditya.


Syafira duduk di sofa dengan tenang sambil membaca beberapa buku tentang manajemen dan akuntansi yang ada di rak buku di ruangan Alan. Setelah itu Syafira membuka handphonenya dan dia terlihat sedang sibuk memainkan sesuatu dengan serius sampai dia merasa lelah dan tertidur di sofa.


"Nyo, oh nyonya tertidur. Mungkin kelamaan menunggu bos ya." gumam Ninis yang ingin memberikan minuman dan makanan ringan untuk Syafira.


"Dia sangat cantik dan juga kulitnya sangat terawat, bagaimana bisa ada orang yang secantik ini ya" sambung Ninis yang memperhatikan Syafira dari dekat.


"Oh maaf pak, nyonya tertidur. Saya datang membawahkan minuman dan camilan, tapi sepertinya nyonya sangat lelah. Saya permisi pak." Ninis pergi setelah menjelaskan pada Alan tujuannya


Alan berjalan mendekati Syafira dan tersenyum melihat Syafira yang tertidur dengan sangat lelah hingga tak bisa merasakan kehadiran seseorang yang datang dan memperhatikan dirinya.


Setelah itu Alan membiarkan Syafira tertidur dan dia menyelesaikan semua pekerjaannya, hingga tak terasa waktu sudah cukup larut namun saat Alan melihat Syafira masih saja terjatuh dalam alam mimpinya. Alan tersenyum dan dia memesan makanan untuk dimakan saat nanti Syafira terbangun karena waktu telah menunjukkan pukul 10 malam.


"Dia selalu tak ada kewaspadaan dan tak pernah memasang curiga pada semua orang." Alan bergumam dan duduk disamping Syafira sambil memperhatikan wajah teduh Syafira yang sedang tenggelam dalam dunia mimpinya.


"Cantik, sungguh sangat sempurna." Alan menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah Syafira dan tersenyum


"Ugh, maaf aku tertidur ya." Syafira terbangun dan tersenyum pada Alan


"Apa aku membangunkan mu, hem" Alan tersenyum


"Tidak, maaf aku ketiduran. Apa sudah selesai." Syafira bangun dan duduk


"Ya, sudah selesai. Bersihkan wajahmu kita makan dulu" jawab Alan


"Eh, kita makan di rumah saja karena tadi aku sudah belanja sebelum datang ke sini." jawab Syafira dengan polos


Alan tersenyum menatap Syafira "kau pikir jam berapa sekarang"


"Kenapa memangnya" Syafira membuka handphonenya dan melihat kalau ini sudah pukul 10 malam


"Hah! Jadi aku jadi aku tertidur selama itu." Syafira menatap Alan dengan kaget.


"Iya, kau tertidur sudah cukup lama" jawab Alan tersenyum


"Kau bersihkan wajah mu kita makan aku sudah lapar." Alan berkata dengan tersenyum


Dengan malu - malu Syafira pun beranjak dan menyeka wajahnya lalu kembali dan menikmati makan malam merak yang sudah terlambat cukup Malam.


Setelah selesai makan Syafira merapikan tempat itu dan Alan mengajak dia intim sholat berjamaah di kantor karena Syafira telah melewatkan sholat magrib dan isya karena dia tertidur cukup lama.


Setelah selesai sholat terlihat Alan merebahkan tubuhnya di tempat tidur karena dia merasa lelah menyelesaikan semua pekerjaannya hari itu juga karena tadi sebelum pulang Aditya sengaja menyerahkan semua pekerjaan pada Alan sebab Alan tak ingin pulang karena ingin menunggu Syafira sampai terbangun sendiri dari tidurnya.


"Mas kok malah tiduran ayo kita pulang, nanti Lisa mencari kita." Syafira mengajak Alan untuk pulang


"Sayang ini sudah sangat larut, dan tadi aku sudah menghubungi kakak katanya Lisa sudah tidur di rumah Ayunda dan baru pulang besok, sudahlah besok adalah hari libur" Alan berkata dengan rebahan dan malas untuk bangun.


"Hem begitu ya, baiklah kalau begitu aku bersih - bersih dulu dan tidur." Syafira pergi ke kamar mandi untuk mandi


Alan dengan cepat menata kamar di kantornya dan menaburi tempat tidur itu dengan kelopak bunga mawar yang dia pesan bareng sama pesan makanan tadi.


"Mas mandilah, oh. Apa ini" Syafira kaget melihat kamar itu berubah jadi kamar yang sangat romantis dan juga terlihat Alan yang sudah terlihat sangat menggoda dengan berpose diatas tempat tidur dengan telanjang dada.


"Kemarilah sayang." panggil Alan dan hal itu membuat Syafira jadi bergetar


Perlahan Syafira berjalan mendekati Alan dan berkali - kali menelan salivanya karena merasa tergoda dengan penampilan Alan yang terlihat sangat menggoda.


"Sudah hampir 5 tahun aku menahannya dan aku ingin mengakhiri puasa ku, aku ingin buka puasa sekarang sayang." bisik Alan ditelinga Syafira dan mulai mencium bahu Syafira dan terus turun kebawah.


"Ah mas, tunggu." Syafira menahan Alan


"Tolong jangan biarkan aku menghentikan semuanya sayang, aku sudah tak sanggup untuk menahannya." Alan langsung menarik dan membawah Syafira ketempat tidur.


Alan menatap dengan dalam pada Syafira yang ada dibawahnya dengan rambut yang masih setengah basah, Alan tersenyum dan perlahan menurunkan wajahnya. "Ijinkan aku buka puasa"


"Em" Syafira mengangguk dan tersenyum


Alan pun langsung menikmati hidangannya setelah mendapatkan ijin dan dia sangat menikmatinya serta melakukannya dengan perlahan seolah dia tak ingin langsung melahap hidangan yang sangat dia inginkan selama ini.


Perlahan suara Syafira mulai terdengar dan hal itu membuat Alan semakin menikmatinya dan dengan sengaja membuat Syafira untuk semakin banyak mengeluarkan suaranya.


Ruangan itu telah menjadi saksi bisu perpaduan cinta dan kasih sayang antara Alan dan Syafira, dan seluruh ruangan telah dipenuhi oleh irama suara Alan dan Syafira yang saling berpadu karena menikmati apa yang sedang dialami dan dirasakan oleh keduanya.