
"Sayang kenapa, pulang rutinan kok mukanya ditekuk begitu?" Alan merangkul Syafira yang baru saja pulang dari kegiatan rutinan bulanan.
"Tidak ada Syafa hanya capek saja" Syafira menjawab dengan tersenyum pada Alan
"Daddy sudah makan? Mau Syafa masakin?" Syafira mengalihkan pembicara karena dia tak ingin mengingat lagi ucapan para ibu - ibu ditempat rutinan tadi.
"Mama Aga juga mau makan pisang goreng." Alga ikut nyahut saat mendengar kalau mamanya mau masak.
"Tidak usah sayang, kita pesan saja kamu duduk sini katanya capek." Alan menarik Syafira untuk duduk di sofa depan tv.
"Alga, kita pesan lewat hanpon saja saja ya kasian mama capek, kita beli makanan yang banyak." bujuk Alan pada putranya.
"Ya, ya beli gulali juga ya pa." Alga terlihat sangat antusias memilih makanan kesukaannya.
"Sayang katakan pada Daddy ada apa sebenarnya, kenapa baby kecil Daddy yang cantik ini jadi pendiam dan banyak melamun hem?" Alan menatap Syafira yang duduk diam setelah memilih dan memesan banyak makanan.
"Syafa benar tidak apa - apa. Syafa mandi dulu ya." Syafira bangun dan berjalan ke kamar Alga untuk mandi.
Setelah selesai makan malam dan menidurkan Alga di kamarnya Alan menjemput Syafira untuk tidur bersama dan sepeti biasa Alan akan meminta jatahnya pada Syafira.
"Ada yang aneh dengannya." gumam Alan setelah mereka bergulat bersama hampir 5 jam lamanya. "Apa permainanku tak sehebat biasanya atau dia sudah tak suka dan tertarik lagi pada ku?" Alan menatap kepergian Syafira ke kamar mandi segerah setelah mereka selesai berhubungan suami istri.
"Sayang kenapa langsung mandi? Bagaimana jika nanti Daddy menginginkan kamu lagi?" goda Alan setelah Syafira kembali ke tempat tidur.
"Daddy, Syafa hanya ingin buang air kecil makanya sekalian saja mandi." Syafira menjawab dengan alasan.
"Kamu melakukannya seolah mengatakan kalau Daddy gak boleh menyentuh kamu lagi nanti." Alan menyusupkan kepalanya di leher Syafira.
"Daddy bicara apa. Sudah malam ayo Daddy tidur biar besok gak kesiangan." Syafira mendorong Alan untuk tidur.
"Daddy ingin peluk kamu." Alan membuka kedua tangannya.
Syafira tersenyum menatap Alan dan dia langsung naik ketempat tidur dan masuk kedalam pelukan Alan setelah dia selesai mengeringkan rambutnya yang basah sehabis mandi.
"Selamat malam sayang." Alan mencium puncak kepala Syafira.
"Hm, selamat malam." jawab Syafira dan mulai menutup matanya.
Keesokan paginya Alan berangkat kerja seperti biasa setelah mengantarkan alga ke sekolahnya dan Syafira ketempat sanggar tari langsung ke kantornya dan rutinitas itu membuat Alan sangat menyukainya karena dia merasa hidupnya tak lagi hanya monoton ke tempat kerja dan rumah saja.
...🌴🌴🌴...
"Selamat pagi pak." sapa beberapa karyawan Alan saat mereka berpapasan dengan Alan.
"Ninis apa Aditya sudah datang?" Alan bertanya pada sekretarisnya karena sejak Aditya menikah dan Alan bersama dengan Syafira mereka telah berangkat sendiri - sendiri untuk ke kantor.
"Sudah pak, sedang di ruangannya." Ninis menjawab dengan sopan
"Baiklah, bacakan jadwalku hati ini dan berkas yang kemaren belum aku cek tolong kamu kirim ke ruangan ku ya." perintah Alan pada Ninis lalu masuk kedalam ruangannya.
"Eh Ninis, kakak sudah datang?" Aditya yang mau keruangan Alan bertanya dulu pada Ninis yang sedang membawah beberapa berkas.
"Sudah pak Adit, tolong bukakan pintunya." Ninis menjawab dengan kesusahan membawah berkas.
"Kak kau benar - benar penyiksa wanita ya." tegur Aditya pada Alan sambil membawahkan beberapa berkas yang tadi dibawah oleh Ninis.
"Sengaja biar dia tambah pendek." jawab Alan dan tersenyum sekilas lalu fokus lagi pada komputernya.
"Benar - benar kejam sekali." gumam Ninis dan Alan yang mendengar diam saja.
"Bacakan jadwalnya." Alan memerintah dan Aditya tersenyum menatap Ninis.
...🌴🌴🌴...
"Syafa dari tadi hanpon mu berbunyi angkatlah dulu mungkin saja penting." Bu Parti membawahkan hanpon Syafira.
"Terima kasih Bu." Syafira menerima panggilan di hanponnya dan dan dia merasa kaget dengan kabar yang dia terima.
"Ada apa Syafa, apa ada masalah?" Bu Parti bertanya setelah Syafira mematikan panggilannya dan terlihat panik.
"Dari guru Alga, dan bilang kalau Alga harus dikeluarkan dari sekolah." jawab Syafira dan terlihat bingung.
"Syafa pergi ke sekolah Alga dulu Bu." Syafira minta ijin pada Bu Parti
"Pergilah." Bu Parti berkata dengan terlihat khawatir pada Syafira.
...🌴🌴🌴...
Setelah sampai di sekolahnya Alga Syafira melihat ada banyak orang dan mereka.demuamya adalah wali dari para teman Alga.
"Bu guru." Apa Syafira.
"Mama." Alga lari dan memeluk Syafira dengan menangis.
"Sayang tenanglah ada mama di sini, sudah jangan menangis lagi ya anak mama yang kuat." Syafira menyeka air mata Alga.
"Mama Alga maaf saya tak bisa berbuat apa h apa, mereka adalah perwakilan dari para investor di sekolah ini, dan mereka bilang kalau Alga tak memiliki ayah dan terlahir tanpa seorang ayah jadi mereka ingin agar Alga tidak lagi bersekolah di sini." jelas guru Alga.
"Tapi kenapa harus begitu Bu? Apa salah dari putra saya? Kenapa lahan pendidikan harus mendiskriminasi seperti ini?" Syafira bertanya dengan tak puas atas alasan mereka.
"Karena aku gak mau kalau sekolah yang aku biayai ini menjadi sekolahan yang sembarangan menerima anak dari seorang j*l*ng seperti mu itu." ucap Anita yang keluar dari kerumunan para orang - orang.
Syafira berdiri sambil menutup kedua telinga Alga yang berdiri terisak memeluk kaki Syafira. "Apa maksud anda, dan saya tak mengenal anda. Kenapa anda bisa menghina saya seperti itu?" bela Syafira
"Kau adalah perebut cowok orang, apa kau tak tau karena dirimu Alan meninggalkan Fira tunangannya dan sekarang karena dirimu juga Alan menolak aku yang sudah lama berada disisinya. Kalau bukan j*l*ng lalu aku harus memanggilmu apa? Wanita yang bekerja di klub malam dan menari dengan menunjukkan tubuhnya dihadapan semua pria hidung belang yang menginginkan tubuh seorang wanita, dan jangan - jangan putramu itu juga hasil dari hal itu." Anita berkata dengan menghina Syafira.
"Benar, kami gak mau kalau nanti anak - anak kami terpengaruh oleh anak yang tak benar asal usulnya."
"Benar keluarkan saja dia dari sekolah ini."
"Iya, kalau dia tak kelaut maka kami yang akan mengeluarkan akan - anak kami."
Semua orang berkata dan menuding pada Syafira, serta mereka tak mau mendengarkan penjelasan dari Syafira. Sementara Syafira merasakan kalau Alga semakin erat memeluk kakinya dan tubuhnya bergetar hebat.
"Baiklah. Saya permisi, saya akan membawah anak saya keluar." Jawab Syafira dan langsung membawah Alga pergi dari tempat itu, karena Syafira gak mau membuat trauma pada putranya yang sangat dia sayangi.
...🌴🌴🌴...
"Tenanglah sayang tidak apa - apa. Lihat mama, Alga adalah anak yang kuat dan permata mama hm? Jangan menangis ya sayang, jangan membuat papa khawatir ok." Syafira menenangkan Alga setelah mereka sampai di rumah dan memberikan pengertian pada putra kecilnya itu.
"Iya mama, Aga hanya takut. Tante - tante itu menakutkan." Alga menjawab dengan isak tangis.
"Iya, dengarkan mama. Alga dan mama akan selalu bersama kemana pun kita akan pergi dan tak akan menyusahkan orang. Sekarang Alga senyum, mama akan mengatasi semuanya." Syafira memeluk Alga dan mulai meneteskan air matanya.
Baru saja mereka merasakan kebahagian dengan hidup bahagia serta lengkap, namun sekarang hidup Syafira kembali terguncang dengan adanya orang yang mengetahui akan riwayat kelahiran Alga yang terjadi karena sebuah kesalahan.
"Haruskah aku cerita pada Daddy? Tapi jika aku cerita memangnya apa yang aku harapkan? Alga adalah putraku dan selama ini kami sudah biasa menjalani kehidupan yang berat, aku gak mau membuat Daddy susah." Syafira bergumam dalam hati.
"Kenapa aku merasakan keraguan akan menjalani hidup ini? Harusnya aku tak kembali dan tak pernah datang dalam kehidupan Daddy juga yang lainnya." Syafira mengusap kepala Alga yang telah tertidur.
Dalam pemikiran yang dalam Syafira tak berani bilang dan mengatakan pada Alan dan juga yang lainnya, Syafira hanya bisa cerita pada Bu Prapti akan segalanya dan setiap hari Alga ikut dengan Syafira ke sanggar tari. Syafira berusaha keras untuk menutupi semuanya dari Alan dan keluarganya yang lain, bahkan bagi Syafira Alga adalah anak yang begitu dewasa karena dia pun diam dan tak bercerita apa pun serta selalu terlihat bahagia saat bersama Alan.