
"Apa kamu Alga" tanya seorang wanita pada Alga
"Oh iya, apa ada yang bisa aku bantu?" Alga menatap gadis itu
"Tidak aku hanya ingin menyapa mu saja" ucap gadis itu
"Oh baiklah, kalau begitu aku permisi" ucap Alga dengan sopan
"Tunggu, bolehkah aku meminta nomer mu" gadis itu memberanikan diri
"Maaf tapi kita belum begitu kenal, permisi" tolak Alga dengan lembut
"Hei, katanya dia adalah pemimpin perusahaan terbesar nomer dua. Lihatlah banyak sekali wanita yang ingin mendekatinya." ucap seseorang yang memperhatikan Alga
"Ku harap tak ada yang berhasil, karena mereka pasti hanya mencari untung" sambung temannya
Beberapa hari kemudian Alga kembali lagi muncul di kampusnya setelah 4 hari dia sibuk dengan perusahaannya, terlihat semua orang memperhatikan kedatangan Alga dan mereka bertanya - tanya kenapa bisa dia sebagai seorang mahasiswa datang seenaknya sendiri padahal dia tak mendaftar di jalur khusus.
"Selamat siang Alga" sapa seorang dosen pada Alga yang melintas di koridor.
"Dia selalu sendirian, seolah tak mau berteman atau mencobak untuk akrab dengan seseorang."
"Iya benar, ku lihat dia selalu seorang diri dan sibuk di perpustakaan setiap jam kosong. Dan lagi dia selalu sibuk dengan laptopnya."
"Tapi aku dengar dia masuk dengan jalur beasiswa loh"
"He, benarkah? Tapi dia adalah seorang anak dari orang kaya."
"Emangnya beasiswa tidak boleh didapat untuk anak orang kaya, dia kan masuk dengan IP tertinggi dan juga dia lulusan dari luar negeri."
Kasak kusuk semua orang yang selalu membicarakan Alga setiap kali dia ada di kampusnya.
"Halo pa, ada apa? Apakah ada masalah di sana, papa dan mama menikmati liburannya kan?" Alga
"Hem sangat menikmatinya, tapi papa kesal di sini." Alan
"Eh ada apa memangnya?" Alga
"Banyak sekali orang yang mencobak untuk mendekati mamamu" Alan
"Hahaha, papa harus waspada untuk itu" Alga
"Hai."
Sapa seseorang pada Alga saat Alga sedang berbicara dengan papanya lewat panggilan telepon, dan Alga tersenyum sambil melambaikan tangannya seolah dia berkata tunggu pada orang yang menyapanya.
Kedua orang itu saling menatap dengan temannya lalu mereka duduk tepat didepan Alga yang sedang menelepon, mereka terpukau saat Alga tersenyum pada mereka dengan ramah sambil tetap berbicara lewat telepon.
"Maaf apa kalian menunggu aku, apakah ada yang bisa aku bantu?" tanya Alga dengan ramah pada kedua orang didepannya.
"Oh tidak maafkan aku yang mengganggu kamu, aku cuma ingin kenal dengan mu saja. Namaku Ardi dan dia Andri" orang itu memperkenalkan diri
"Oh baiklah, salam kenal aku Algazali kalian cukup memanggil aku Alga." Alga
"Algazali ya" ucap Andri
"Hem, jika kalian ingin lebih dekat denganku dan berteman dengan ku kalian bisa memanggil aku Aga" Alga
"Oh, apakah itu panggilan khusus?" tanya Ardi penasaran
"Ya, teman - temanku yang dekat dan spesial mereka akan memanggil aku Aga, kalian juga bisa karena aku tak punya teman di Indonesia. Itu pun jika kalian mau berteman dengan ku." Alga
"Tentu kami mau, Aga." ucap Ardi dan Andri bersamaan
Alga tersenyum melihat Ardi dan Andri yang terlihat sangat bersemangat. Mereka pun berbicara dan mulai berteman baik, bahkan dimana ada Alga di situ juga ada Ardi dan Andri. Dan mereka bertiga telah menjadi sahabat baik bahkan kedua sahabat Alga itu selalu mengikuti Alga, serta banyak belajar dari Alga soal banyak hal. Mereka bertiga bagaikan kesatuan yang saling mendukung satu sama lain dan tak bisa terpisahkan.
...🌴🌴🌴...
"Halo nona bolehkah saya mengenal anda" seorang pria mendekati Syafira yang sedang duduk santai seorang diri di kursi yang berada di tepi pantai
"Oh maaf saya datang dengan pasangan saya" tolak Syafira dengan halus pada pria itu
"Begitu ya" ucap pria itu terdengar kecewa
"Iya maaf" Syafira
"Baiklah kalau begitu bolehkah aku sekedar tau nama nona" ucap pria itu lagi
"Syafira, namanya adalah Syafira." terdengar seorang pria berkata dengan lantang dan ternyata itu adalah Alan yang baru datang setelah menghubungi Alga.
"Oh apa anda pacarnya" pria itu menatap Alan
"Bukan, dia bukan pacar saya" Syafira berkata dan bangun dari posisi duduknya lalu berjalan mendekati Alan yang berdiri tepat didepan pria yang mencoba untuk mengenalnya "tapi dia adalah suami saya" Syafira tersenyum dan meraih tangan Alan untuk dipeluknya.
"Apa kau menunggu lama" Alan memainkan rambut yang menutup sebagian wajah Syafira karena tertiup angin
"Hem, kenapa begitu lama membiarkan aku sendirian" Syafira berkata dengan manja
"Oh kalau begitu saya permisi" pria itu pun berpamitan dan pergi
"Bahagia" Syafira menatap Alan setelah pria itue menjauh
"Oh, tapi beberapa hari ada yang marah karena aku tak bilang apa - apa." Syafira berjalan mendekati Alan dan duduk dipangkuan Alan.
Kebahagiaan Alan dan Syafira pun tak bisa dipungkiri karena mereka benar - benar menikmati kebersamaan mereka dan menghabiskan waktu bersama seolah mereka berdua mengisi moment pacaran yang tak pernah ada diantara mereka berdua.
Waktu yang diberikan kepada mereka oleh anak - anak mereka dihabiskan dengan sangat baik, Alan melepas semua urusan pekerjaan dan dia hanya fokus pada Syafira. Mereka mendatangi hampir semua tempat dan mengambil gambar untuk meninggalkan bukti kebahagian mereka berdua selama di Paris.
Kali ini Alan dan Syafira tak langsung pulang setelah selesai liburan di Paris, mereka menambah hari libur untuk menghabiskan waktu berdua dengan pergi ke Bali, dan Aditya mengurusi perusahaan dengan bantuan Alga saat Alga senggang dan tak ada pekerjaan di kantornya, bahkan Ardi dan Andri pun telah bergabung dengan perusahaan Alga.
...🌴🌴🌴...
1 tahun pun berlalu dan kebahagian semua orang benar - benar sangat sempurna, karena semuanya telah bahagia tanpa terkecuali. Sehingga Alea mengadakan acara tahlilan atas peringatan kematian Mexca dan Adinda bersamaan untuk mengenang mereka berdua.
"Kau terlihat cantik malam ini sayang" didalam kamar Alan memuji Syafira yang baru saja selesai mandi.
"Jangan mengada - ada" Syafira menghindari pandangan Alan karena merasa malu.
"Kenapa kamu menghindari" Alan mendekati Syafira yang sedang bersiap
"Tolong jangan ganggu aku, biarkan aku menyelesaikan dandanku nanti Mama Lea menunggu ku kelamaan" Syafira menahan tangan Alan yang nakal.
"Aku sangat mencintaimu sayang" Alan
"Aku tau, aku juga mencintaimu mas" Syafira
"Katakan sejak kapan kau mencintai ku" Alan
"Aku tak tau tepatnya, yang jelas aku telah merasakan perasaan berbeda saat bertemu dengan mas Alan, pertama kali kita bertemu saat mas Alan baru datang dari luar negeri. Dan aku gak mau menjadi putrimu sehingga aku meminta pada Daddy Yos untuk merubah kartu keluarga" Syafira
"Kau begitu sangat mencintaiku." Alan
"Hem, mungkin begitu. Hingga aku rela membiarkan tubuhku menjadi pelampiasan amarah mas Alan" Syafira
"Terima kasih sudah bertahan untukku dan mencintaiku."
Alan memeluk Syafira dan mencium kening Syafira dengan lembut, "i love you baby"
Didalam ruangan khusus yang jarang dibuka duduk seorang wanita dan menatap lurus kedepan dan orang itu adalah Alea.
"Ma, Pa, apa kalian tau. Sekarang rumah ini hanya ada kebahagian dan kami semuanya telah bahagia sesuai dengan keinginan Mama dan Papa."
"Kalian pasti juga akan sangat bahagia bukan, karena Alan telah menemukan kebahagiaanya. Dia tak lagi hanya menghabiskan waktu untuk bekerja dan memburu mereka yang telah membuatnya merasakan sakit"
"Oh iya Ma, Pa, sepertinya gen kalian telah diwarisi oleh cucu kalian. Apa Papa tau Alga telah melampaui Alan, dia bahkan telah mampu mendobrak dunia bisnis saat usianya masih dibawah umur dan telah memiliki perusahaannya sendiri dengan caranya sendiri tanpa bantuan dari kami, dan kami baru mengetahui semuanya saat semuanya telah berhasil dan dia berdiri tegap didepan kami sebagai pimpinan perusahaan besar."
Alea tersenyum sambil menatap foto Mexca dan Adinda yang terpasang dengan ukuran besar di ruangan khusus yang dulu adalah ruang kerja Mexca.
"Dan untuk Mama, gen Mama telah ada pada cucu kedua kalian Alisa. Dia sungguh mirip dengan Mama, cantik, lembut, memiliki senyum yang indah dan juga tomboy dan suka mengendarai motor besar sama dengan Mama"
"Kalau soal musik bukan hanya menantu Mama tapi kedua cucu Mama juga sangat menyukai musik, bahkan mereka bisa memainkan alat musik dengan sangat bagus dan suara mereka juga sangat merdu."
Alea meneteskan air matanya saat dia bercerita soal Alan dan keluarga kecil Alan, karena Alea sangat tau bagaimana Alan saat dia kehilangan Mama dan Papa mereka.
"Kenapa kakak hanya berbicara sendiri dengan Mama dan Papa"
Alan masuk kedalam ruangan khusus dimana ruangan itu ada banyak barang peninggalan kedua orang tua mereka, Alan berjalan mendekati Alea dan duduk disamping Alea sambil memeluk Alea.
"Ma, Pa. Kalian tak perlu khawatir lagi dengan semua hal karena kami telah bahagia"
"Kasih sayang yang kalian ajarkan pada kami telah kami ajarkan pada anak - anak kami. Aku dan kak Lea juga telah mewariskan semuanya kepada anak - anak kami."
Alan berbicara dan tersenyum menatap foto orang tuanya.
"Terima kasih untuk kalian yang telah memberikan aku seorang kakak yang baik dan juga sangat menyayangiku."
Alan menatap Alea dan memeluk Alea dengan erat
"Terima kasih juga karena telah menjadi adik yang begitu sangat membanggakan untuk ku."
Alea berkata dan mulai menangis lagi dalam pelukan Alan.
"Apa kalian hanya bernostalgia berdua saja" Yoni berkata diambang pintu sambil tersenyum
"Kak" Alan
"Mas" Alea
Yoni mendekat dan memeluk istri serta adik iparnya dengan erat.
"Bisakah aku ikut bergabung?" Syafira
"Kemari lah sayang" Alan
Syafira datang mendekat dan mereka berempat duduk di sofa panjang menghadap bingkai foto Mexca dan Adinda yang tergantung di dinding dengan ukuran besar.
"Haruskah kalian menikmati kedamaian kalian tanpa kami" Merisca dan Faris ikut bergabung dengan keempatnya dan mereka terlihat sangat bahagia.
Kini keluarga Abigail telah mendapatkan kebahagian mereka dan tak ada hal buruk atau suara - suara sumbang yang mampu mengguncang mereka.