
"Biarkan Syafa yang menentukannya sendiri kak, karena ini adalah kehidupan dia, kita tak bisa memaksakan semuanya karena dia pasti punya pilihan dan juga sudah cukup menderita selama ini. Kita jangan membuat kesalahan lagi."
Alan terus saja teringat akan kata - kata Aditya tadi siang dan itu sangat mengganggu bagi Alan hingga dia tak fokus lagi dalam mengerjakan pekerjaannya di rumah. "Hah, sua ini sangat menyesakkan. Sebenarnya apa yang ku inginkan." gumam Alan memegang kepalanya.
"Aga gak mau ini bibi, Aga mau yang itu saja." Alga lagi rewel gak mau makan masakan yang sudah dimasakkan dan ingin makan mie instan.
"Tapi tadi kan mama sudah pesan kalau Alga gak boleh makan mie instan lagi karena kemaren sudah makan mie instan." jelas bi Aminah pada Alga yang bersih keras ingin makan mie instan lagi.
"Tapi Aga gak mau makan kalau gak makan itu." Alga ngambek dan melipat kedua tangannya didepan dadanya dengan memonyongkan bibirnya serta gak mau menatap bi Aminah.
"Ada apa ini?" Alan yang dari dalam ruang kerjanya mendengar keributan antara Alga dan bi Inah akhirnya keluar.
"Ini tuan, tuan kecil gak mau makan kalau bukan mie instan. Tapi kemaren sudah makan mie instan." jelas bi Aminah pada Alan.
"Boy, jagoan papa kenapa harus rewel soal makanan? Kalau mama sudah bilang tidak boleh itu artinya tidak boleh, dari pada nanti mama melarang untuk makan mie instan seterusnya lebih baik patuhi apa kata mama sekarang, ayo makan sama papa." bujuk Alan dan menjelaskan dengan lembut pada Alga yang lagi ngambek.
"Tapi nanti Aga mau makan itu." Alga menatap Alan dengan tatapan memohon.
"Iya, nanti kalau sudah selesai makan yang dimasak oleh bibi ok." jawab Alan dan menemani Alga makan.
"Apa Syafa berangkat lebih awal bi? Kenapa jam 8 sudah gak ada di rumah." tanya Alan pada bi Aminah.
"Iya, tuan tadi berangkat dari sore katanya ada pertunjukan sama non Milky karena tadi dijemput sama mas Badrul." jelas bi Aminah.
"Masih mau makan mie instan lagi?" tanya Alan pada Alga yang sudah menghabiskan makanannya dan minum susunya.
"Tidak, tidak. sudah tidak muat perut Aga sudah penuh." jawab Alga dengan polos dan menggoyangkan kedua tangannya.
Alan tersenyum mendengarkan jawaban dari Alga, dan Alan teringat akan cara Syafira membujuk anaknya ini setiap kali dia rewel dan ingin makan makanan yang dia inginkan. "Ayo sekarang cuci tangan dan gosok gigi lalu pergi belajar." Alan mengangkat tubuh Alga dan membawahnya untuk membersihkan tangan dan mulutnya.
"Apa Aga boleh terus memanggil papa?" tanya Alga saat Alan membawanya masuk kedalam kamar.
"Tentu saja, karena mulai sekarang dan seterusnya bahkan sampai selamanya boleh memanggil papa. Karena papa memang papanya Alga." jawab Alan tersenyum dan menurunkan Alga ditempat tidur.
Malam itu Alan membacakan buku untuk Alga dan Alga juga sangat antusias untuk mendengar serta bertanya ini dan itu pada Alan hingga keduanya tertidur dengan sangat lelap sambil berpelukan satu sama lain.
Syafira yang melihat Alan dan Alga tertidur sambil berpelukan dia tersenyum dan membayangkan seandainya dia bisa bergabung dengan kedua pria yang sangat dia sayangi itu Pati akan sangat bahagia.
Syafira pergi kebelakang dan mandi dikamar mandi belakang lalu melakukan solat di musholah belakang yang biasa digunakan oleh Bi Inah dan yang lainnya. Setelah itu Syafira tidur di sofa ruang tengah.
"Ugh. Loh aku ikut tertidur di sini." gumam Alan saat dia terbangun
Alan melihat jam dipergelangan tangannya dan menunjukkan pukul 1 malam, "Dia belum pulang?" Alan bertanya dalam hati lalu membenarkan selimut Alga dan berjalan keluar.
"Syafa, ku pikir belum pulang." Alan bergumam dan mendekati Syafira lalu mengangkat tubuh Syafira pelan - pelan untuk memindahkan kedalam kamar.
Alan menatap Syafira yang terlelap dan menyentuh pipi Syafira dengan lembut setelah Alan meletakkan Syafira ditempat tidur disebelah Alga. "Apa yang harus ku lakukan untuk mu?" gumam Alan pelan.
Saat terdengar suara pintu ditutup Syafira membuka matanya yang sebenarnya dari tadi dia sudah bangun saat Alan mengangkat tubuhnya dari sofa untuk dipindahkan ketempat tidur.
"Daddy, tak bisakah melihat ku sebagai seorang wanita untuk sekali saja." gumam Syafira menyentuh keningnya yang tadi dikecup oleh Alan.
Sementara didalam kamar Alan masih merasakan debaran jantungnya yang begitu kencang, Alan menghela nafas dalam mencobak menetralkan perasaannya sendiri dan selalu memanipulasi dirinya sendiri kalau apa yang dia rasakan itu adalah kasih sayang seorang ayah pada putrinya.
"Hentikan Alan kau hanya seorang ayah untuknya dan itu wajar." gumam Alan menyangkal perasaannya.
Alan membersihkan dirinya dan menjalankan solat Isyak yang terlewat karena membujuk Alga. Dalam solat-nya Alan berusaha menenangkan dirinya dan memohon petunjuk akan dirinya yang selalu tertarik pada Syafira.
Keesokan paginya seperti biasa Syafira selalu sudah selesai masak untuk sarapan dan bekal Alga ke sekolah. Syafira dan bi Aminah menata sua masakan diatas meja dan menyiapkan Alga untuk berganti baju serta sarapan.
"Hari ini kau akan mengajar tari lagi? Apakah setelah itu kau akan pulang atau langsung pergi ke rumah Milky dan Badrul." tanya Alan pada Syafira disela - sela sarapan.
"Iya, tapi pulang dulu setelah menjemput Alga pulang sekolah, karena akan berangkat ke klub dijemput sama om Daniel nanti." jawab Syafira tanpa melihat Alan karena sedang menyuapi Alga.
"Daniel menjemput mu." Alan sedikit heran dengan sikap Daniel yang belakangan ini jadi sering antar jemput Syafira ke klub-nya.
...🌴🌴🌴...
"Kak gawat karena pasar saham sedang kacau." Aditya melaporkan pada Alan saat melihat Alan baru nyampai kantor.
"Apa yang terjadi. Apa ada masalah dengan para menanam saham?" tanya Alan yang terkejud setelah dia melihat kursor untuk pasar saham menurun drastis.
"Aku juga belum tau sebabnya, karena kabarnya datang tiba - tiba dan tadi para investor ingin mengadakan rapat bersama.
"Begitu ya, baiklah. Ayo kita lihat dulu dan pelajari, setelah itu baru kita selidikan apa sebabnya." Alan mencoba menenangkan Aditya, karena Alan tau ini pasti ada campur tangan orang dalam.
Dalam seharian Alan sibuk dengan urusan perusahaan yang ada orang - orang yang ingin menyerang dan menjatuhkan kuasa Alan, dan mereka yang tak suka dengan Alan bekerja sama dengan Daren yang merupakan saingan bisnis Alan.
"Kak semua sudah selesai dan mereka yang masih berdiri dipijak kita masih tetap sama, mereka berjanji akan memberikan dukungan pada kita." Aditya menyapukan hasil pemungutan suara dari rapat yang dipimpin oleh Alan dari pagi hingga siang hari.
...🌴🌴🌴...
Selama 7 hari ini Alan sibuk dengan urusan bisnisnya, Alan selalu berangkat pagi - pagi sekali dan pulang sangat larut malam. Namun Alan setiap hari selalu melihat ke kamar Syafira dan memastikan kalau Syafira dan Alga tidur dengan benar, setiap malam Alan selalu masuk dan membetulkan selimut Syafira dan Alga sebelum dia ke kamarnya.
"Selamat istirahat, semoga kebaikan dan kebahagiaan selalu datang untuk mu." ucap Alan setiap kali dia selesai melihat Syafira yang terlelap seolah doa itu sudah jadi kebiasaan bagi Alan setiap malamnya.
Pagi itu Syafira juga bangun subuh seperti biasanya, setelah solat dia langsung masak dan menyiapkan bekal untuk Alga dan Alan juga, dan semua akan selesai saat bi Aminah datang. Namun setiap berangkat bi Aminah yang selalu menyiapkan semuanya untuk Alan sehingga Alan tak pernah tau kalau bekal yang dia bawah selama ini adalah buatan Syafira.
Syafira hanya bisa tersenyum dari balik pintu karmanya setiap kali mengantar kepergian Alan. Dan dalam diam Syafira selalu berdoa agar urusan Alan cepat selesai dan tak ada masalah lagi, doa pagi itu pun telah menjadi kebiasaan Syafira dalam mengantarkan kepergian Alan kerja.
"Semoga segala urusan yang dihadapinya cepat selesai dan tak ada masalah lagi" doa Syafira untuk Alan dari balik pintu kamarnya.
Perhatian dan kasih sayang yang selalu dilakukan oleh Alan setiap malam sepulang kerja selama 7 hari ini dan kebiasaan Syafira yang selalu membuat bekal tiap pagi tak bisa dilihat dan dirasa oleh orang yang ditujunya. Seakan cinta dan perhatian mereka berdua tak pernah sampai pada orang yang dituju masing - masing.