Baby I Love You

Baby I Love You
Panggilan baru



Syafira duduk termenung sendirian sambil mencari tau kenapa dan apa alasannya dia dipanggil dan diminta untuk pulang ke rumah oleh semua keluarganya kalau pada akhirnya dia hanya akan menjadi orang yang sama ya itu orang yang numpang di rumah daddy-nya.


"Syafa kau kenapa dan lagi ngapain duduk termenung di situ?" tanya teman Syafira yang melihatnya duduk termenung.


Pertanyaan dari temannya itu membuat lamunan Syafira buyar dan dia tersenyum menatap temannya dengan menggelengkan kepalanya. Lalu Syafira berdiri dan menghela nafas dalam. "Gak apa, aku cuma merasa tegang saja tadi karena mereka adalah tamu spesial dan aku takut kalau dekor yang aku buat tak disukai oleh mereka." jelas Syafira pada teman kerjanya.


"Iya kalau itu aku juga pasti akan merasa tegang." jawab teman Syafira. "Sudah ayo semua sudah selesai dan tak ada masalahkan, kan ya?" teman Syafira membawah Syafira keluar dari tempat pencuci piring.


"Warti katakan padaku jika seandainya kamu mencintai keluarga yang telah mengadopsi mu dan orang itu mau menikah dengan wanita lain tapi dia dan keluarganya memintamu untuk tinggal di rumahnya karena mereka menganggap mu sebagai keluarga selama ini, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan tetap tinggal bersama dengan mereka atau kau memilih pergi meninggalkan mereka?" tanya Syafira pada Warti teman kerjanya.


"Tentu saja aku memilih pergi meninggalkan mereka, karena aku gak mau menderita dan sakit hati melihat orang yang ku cintai bahagia bersama dengan orang lain. Hahaha,,, aku jahat banget ya, tapi aku tak akan kuat jika tinggal bersama dengan mereka terus." jawab Warti dengan yakin karena itu lah yang akan dia rasakan jika posisinya seperti yang diceritakan oleh Syafira.


Disisi lain keluarga Alan dan keluarga Fira mereka sedang membahas hubungan antara keduanya. Dan Fira terlihat sangat bahagia karena dia merasa kalau dirinya dan Alan sudah dekat dan hubungan mereka sebentar lagi akan resmi.


"Bagaimana kalau kita akan meresmikan hubungan kalian dengan penanda tanganan kontrak kerja sama antara dua perusahaan yang akan berdiri diatas atap yang sama Alan." ucap tuan Guntoro pada Alan.


Mendengar itu Alan tersenyum karena dia telah memprediksikan apa yang akan diminta oleh tuan Guntoro, karena bagi Alan semua sudah jelas tergambar dari niatnya yang selalu ingin agar hubungan putrinya dan dirinya agar segera diresmikan dengan cepat dan diumumkan di publik.


"Tuan Guntoro begitu tak sabar, aku sudah bilang hubungan ini tak ada hubungannya dengan bisnis yang sedang ku jalankan. Karena aku tak akan membuat pengecualian dalam bisnisku, siapa pun mereka yang ingin bergabung tetap harus melalui jalur yang sebenarnya." jawab Alan dengan santai menatap tuan Guntoro.


"Sudalah kita makan dulu dan nikmati makanannya nanti kalau sudah selesai urusan kedua anak - anak kita baru silakan kalian melanjutkan pembicaraan bisnis kalian." ucap Merisca dan semuanya mulai menikmati makanan yang telah terhidang.


"Papa." teriak Alga dari luar datang bersama dengan Ayunda.


Semua orang yang ada didalam ruangan itu melihat semua kearah Alga yang datang teriak memanggil papa dan lari kearah Alan. Dengan wajah polosnya Alga mendekati Alan dan memeluk kaki Alan dengan erat. Terlihat ada bekas air mata disudut mata Alga.


"Maaf, dia memaksa ingin datang karena dari tadi menangis minta ketemu sama Daddy." jelas Ayunda dengan nada bersalah pada semua orang yang ada diruangan itu.


"Dia anak siapa Alan?" tanya Tante Fira menatap Alga dengan tajam.


Alga yang ditatap oleh Tate Fira merasa takut dan sembunyi dibalik tubuh Alan. Dan Alan menatap tersenyum lembut pada Alga lalu mengangkat Alga dan duduk dipangkuan Alan.


"Kenalkan dia Alga, putra ku." jawab Alan dan hal itu membuat Fira serta keluarganya merasa kaget.


"Wah Alan ternyata kau memang suka sekali ya mengadopsi anak kecil, dulu juga aku mendengar waktu kau masih remaja juga mengadopsi seorang anak dan sekarang kau juga mengadopsi anak lagi. Kenapa kau tak langsung menikah saja dan melahirkan anak - anak dari istrimu, aku yakin dengan begitu akan lebih baik lagi karena hartamu akan jatuh ke tangan ahli waris mu yang sah dan dari darah gading mu sendiri." ucap tuan Guntoro yang merasa tak suka dengan Alga.


"Yang tuan Guntoro katakan mang benar, tapi bagi saya Alga tak lebih dari segalanya. Karena dia adalah harta saya dan yang jelas dia adalah bintang dalam rumah saya saat ini. Karena ada seorang wanita yang melahirkan anak ini untuk saya." jelas Alan dengan senyumannya menatap tuan Guntoro dan bahasa formal.


"Eh, itu artinya kau sudah mempunyai wanita lain? Apa kau berselingkuh dari Fira kami yang baik ini?" tanya Tante Fira pada Alan dengan kesal.


Acara pertemuan itu pun masuk dalam pembahasan inti yang seharusnya dibahas, dan semuanya terlihat tegang secara bersamaan karena wajah mereka semua terlihat sangat kurang baik terlebih dari keluarga Fira Tante dan papa Fira sangat terlihat jelas raut wajahnya kalau mereka sedang marah.


Namun dari wajah Alan terlihat sangat santai bahkan dia masih bisa memanggil pelayan restoran untuk membawahkan makanan penutup untuk semuanya, dan yang mengantar makanan penutup itu adalah Syafira lagi dan ditemani sama Warti atas perintah bos mereka.


"Kakak Syafa." teriak seketika dari Alga yang melihat Syafira masuk kedalam ruangan itu.


Alan dan yang lainnya kaget karena panggilan baru yang diberikan oleh Alga seketika didalam suasana hening, namun tidak dengan Ayunda. Mendengar itu Ayunda malah tersenyum karena dia tak menyangka kalau Alga benar - benar anak yang cerdas dan bisa diajak kerja sama dengan sangat baik.


30 menit sebelumnya.


"Mama, ini tempat kerja mama. Aga mau ketemu sama mama." Alga lari dan ingin menemui mamanya.


"Eh, jangan sayang. Dengar Alga gak boleh manggil mama dengan sebutan mama, tapi harus dipanggil dengan sebutan kakak ok." Ayunda mencegah Alga dan mengajarkan Alga agar memanggil Syafira kakak bukan mama.


"Kenapa? Mama kan mama Aga." jawab Alga dengan polos.


"Kalau Alga panggil mama nanti kak Ayu kena marah dan Alga gak akan bisa ketemu sama papa Alan lagi." Ayunda mencobak menjelaskan.


"Iya, Aga akan panggil kakak. Sekarang Aga boleh mencari mama?" tanya Alga setelah menyetujui permintaan Ayunda.


"Tidak boleh, nanti saja kalau mau pulang sekarang ayo kita masuk ketemu sama papa Alan dulu." Ayunda membawah Alga masuk kedalam ruang vip tempat keluarganya bertemu dengan keluarga Fira.


30 menit setelahnya.


"Eh, Alga. Kenapa dia bisa ada di sini dan sejak kapan? Lalu kenapa dia memanggilku kakak?" suara hati Syafira yang juga merasa kaget karena putranya memanggilnya kakak.


"Silakan menikmati." ucap Warti mempersilakan lalu menarik Syafira keluar.


"Syafa kau tak apa? Bukankah itu adalah Alga anak kamu, kenapa bisa bersama dengan mereka? Apakah kamu ada hubungan dengan mereka semua?" tanya Warti pada Syafira saat mereka sudah keluar dari ruangan itu.


"Em, itu..." Syafira tak bisa menjawab karena dia tak tau harus menjawab apa.


"Tunggu, jangan bilang kalau orang yang kamu ceritakan padaku tadi itu adalah dirimu sendiri benarkan?" Warti bertanya lagi pada Syafira saat dia ingat akan pertanyaan Syafira soal yang tadi ditanyakan di ruang cuci piring.


"Itu, sebenarnya aku, kita bahas itu nanti saja ya." ucap Syafira karena dia masih belum bisa untuk cerita yang sebenarnya pada Warti.


"Baiklah, lupakan itu, sekarang kita selesaikan dulu pekerjaan kita." Warti menjawab dan tersenyum pada Syafira yang terlihat sedang bingung.