Baby I Love You

Baby I Love You
Wajah baru



Brak. Syafira menabrak kursi dan terjatuh.


"Aduh." pekik Syafira yang jatuh tersungkur.


"Syafa kau tak apa? Dimana kau?" Alan yang mendengar Syafira jatuh pun panik dan meraba - raba mencari Syafira dalam suasana gelap.


"Aduh." Syafira memekik lagi karena kakinya tersandung oleh Alan yang sedang mencari dirinya yang terdengar terjatuh.


"Oh, maaf kamu dibawah ya. Ayo bangun dulu apa kau tak apa?" Alan menunduk dan membantu Syafira bangun.


"Jangan lari di suana gelap, sudah bantu Daddy masang lampu dulu baru setelah itu Daddy lihat kamu terluka apa tidak, karena Daddy turun tak bawah handphon jadi tak bisa lihat." pinta Alan pada Syafira, "Ayo bangun pelan - pelan, kamu bisa bangun kan?" Alan memapah Syafira untuk bangun dan Syafira pun membantu Alan memasang lampu dapur.


"Sudah sini Daddy lihat apa kamu terluka karena jatuh tadi." Alan berbalik dan alangkah terkejutnya Alan melihat penampilan Syafira yang berdiri didepannya dengan hanya mengenakan baju tidur yang tipis.


Alan menelan salifanya dan terbersit dalam pikirannya kalau Syafira adalah seorang wanita dewasa dan bukan putri kecil yang dia jaga sejak kecil. Sedangkan Syafira yang mulai sadar dengan tatapan Alan yang terpaku pada dirinya menunduk memperhatikan dirinya sendiri.


"Maaf Syafa masuk dulu." Syafira langsung lari masuk ke kamarnya begitu sadar dengan pakaian yang dia gunakan.


Alan tertegun dengan memegangi dadanya yang merasakan jantungnya berdebar semakin kencang karena melihat penampilan Syafira yang menurutnya sangat menggoda.


"Apa yang kau pikirkan Alan." gumam Alan terduduk dikursi dapur yang tadi dipakai memanjat untuk masang lampu, dan setelah debarannya stabil dia pun berjalan menaiki anak tangga masuk kedalam kamarnya.


"Haaah, sial." Alan menghela nafas dalam dan menggerutu, lalu dia memilih membersihkan dirinya dan sholat isya' yang belum dia kerjakan.


Sementara didalam kamarnya Syafira terduduk dilantai setelah masuk buru - buru kedalam kamarnya, Syafira merasa malu dan juga jadi mengingat kejadian 5 tahun silam saat dirinya menghabiskan malam yang tak terduga dengan Alan.


"Syafa, apa yang kau pikirkan sekarang, apa kau sudah gila. Ayo sadarlah dia adalah Daddy mu dan kamu gak boleh memiliki pemikiran seperti itu. Apa kau ini orang mesum dasar tak tau malu." Syafira menyalahkan dan memarahi dirinya sendiri.


Perlahan syafira bangun dan berjalan mendekati tempat tidur lalu merebahkan tubuhnya dan memeluk tubuh mungil putranya yang sudah terlelap dari tadi.


"Mommy sesak." gumam Alga yang terbangun karena dekapan Syafira.


"Maafkan Mama sayang, ayo tidur lagi." Syafira mencium kening Alga dan Alga pun menyusup masuk kedalam ceruk dada Syafira dan mulai terlelap lagi.


"Selamat pagi kak, bagaimana apa kakak sudah membaca email yang ku kirimkan semalam?" Aditya yang datang pagi - pagi karena ada masalah dengan cabang perusahaan membuat Alan terkejut karena sebenarnya dia belum membuka laptopnya dari semalam.


"Memangnya ada apa, karena semalam aku capek sekali jadi langsung tidur begitu saja." Alan beralasan karena sebenarnya dia bahkan tak bisa tidur karena terus memikirkan Syafira, jadi selama semalaman Alan berzikir untuk mengusir pikiran negatifnya.


"Hah,,, selalu." gumam Aditya menghela nafas. Namun dia tak bisa menyalakan Alan karena pikiran Alan tetap masih tajam meski tak membaca berkas dengan benar.


"Selamat pagi Om." sapa Alga yang sudah terlihat rapi dengan baju barunya yang dia pilih sendiri.


"Hem, jagoan Om Adit mau kemana ini cakep banget." Aditya mendekati Alga dan mengecup kening Alga.


"Aga mau ikut mama ke tempat pengajaran karena hari ini mama akan mengajar kakak - kakak lagi di sekolah tari." jawab Alga dengan sangat riang.


"Berangkat bareng saja karena kita searah." ucap Alan dan Syafira mengangguk.


Didalam mobil Syafira tak berani menatap Alan, dari awal keluar kamar sampai berangkat Syafira terus saja menunduk karena dia merasa sangat malu dengan kejadian semalam, ditambah lagi angan - angan Syafira akan melayang pada kejadian 5 tahun lalu kalau dia menatap Alan.


...🌴🌴🌴...


"Aga pergi dulu Om." ucap Alga pada Alan saat mereka sudah sampai didepan sekolah tempat l Syafira mengajar tari.


"Hati - hati dijalan ya. Assalamualaikum" salam Syafira lalu masuk kedalam sekolah.


"Wah - wah siapa ini? Ini adalah Alga yang baik itu tidak? Cakep banget sih sayang" sapa salah seorang guru lagi yang melihat Syafira dan Alga datang setelah 1 bulan Syafira tak masuk karena ada urusan.


"Assalamualaikum Bu, maaf selama ini telah merepotkan ibu." ucap Syafira dengan senyum lebar.


Sekolah tari itu adalah sekolah yang dulu membantu Syafira melewati segala kesulitan dan bertahan dalam segala kepedihan sehingga membuat jati diri seorang Syafira tumbuh menjadi gadis kuat dan bijak sana.


"Alga duduk manis tak boleh nakal ok sayang." Syafira mendudukkan Alga dikursi kecil saat Syafira mengajar.


...🌴🌴🌴...


"Adit, apa kau tau jam berapa Syafa pulang ngajar?" Alan bertanya karena waktu sudah menunjukkan jam 12 siang.


"Tidak sih, karena aku tak pernah tanya pada Syafa. Kakak tanya langsung saja, memangnya kenapa sih?" Aditya merasa heran pada kakaknya yang terlihat gelisah dari tadi.


"Tidak ada, jangan lupa nanti setelah makan siang kita ada rapat kau siapkan semuanya aku akan keluar sebentar." Alan beranjak dan berjalan dengan cepat menuju parkiran.


"Sebenarnya kemana sih dia, kenapa teleponnya tak diangkat." Alan mengemudi dengan menggerutu kesal karena dari tadi menghubungi Syafira namun tak ada jawaban.


Setelah berada didepan sekolah Alan melihat dari jauh Syafira sedang berpamitan pada rekan kerjanya sesama guru dan mau berjalan ke arah halte bus.


"Masuk." teriak Alan begitu sampai didepan Syafira dan Alga yang sedang menunggu angkot umum.


"Om, jemput Aga ya." teriak Alga kegirangan.


"Aga mau duduk depan ma, mau didepan." Alga meminta Syafira untuk bukain pintu depan, dan Syafira naik dibelakang.


"Duduk yang tenang dan jangan banyak tingkah." Syafira memarahi Alga yang suka tak tenang kalau duduk sendiri.


"Iya Mama." jawab Alga sambil senyum dan Alan yang melihat ikut tersenyum.


"Setelah ini mau kemana lagi?" Alan bertanya sambil melihat Syafira dari spion.


"Tidak ada, mau langsung pulang ke rumah." Syafira menjawab sambil menunduk setelah melihat sekilas wajah Alan.


Alan mengemudi dengan tersenyum "Kalau mau pulang gak bisa kita ke kantor karena ada rapat setelah ini, apa kalian sudah makan siang?" Alan terus fokus mengemudi walau dia bertanya dan banyak bicara dengan Syafira.


"Belum Aga belum makan, tadi mama bilang mau masak di rumah dan mau bikin roti bolu." jawab Alga mewakili Syafira, dan melihat itu Syafira tersenyum karena putranya itu sudah mulai pandai bicara sekarang.


"Baiklah, makan bolunya nanti saja sekarang Alga dan mama ikut ke kantor Om dulu bermain dan makan disana ok." ucap Alan dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Katakan Alga mau makan apa?" tanya Alan yang membantu Alga keluar dari mobil dan menggendongnya masuk setelah sampai diparkiran gedung kantornya.


"Biarkan Alga jalan sendiri." Syafira meminta Alan untuk menurunkan Alga.


"Iya, Aga bisa jalan sendiri kan Aga sudah besar." ucap Alga yang berontak minta turun.


"Baiklah, jalan dengan baik dan perhatikan jalannya jangan sampai jatuh." ucap Alan setelah dia menurunkan Alga.


"Iya." Alga berjalan dengan riang dan menyapa semua orang yang dia temui walau dia tak mengenal orang - orang itu siapa.


Setelah masuk kedalam lif Alan mendekati syafira "Kau mengajarinya dengan sangat baik, terima kasih." Alan tersenyum menatap Syafira.


karena kaget Syafira pun jadi cegukan dan salah tingka karena ulah Alan yang tiba - tiba mendekatinya dan berkata dengan wajah yang mendekat serta senyuman yang dianggap oleh Syafira itu adalah senyuman yang sangat manis dari Alan.


"Mama, ada apa? Apa ada kecoak, dimana?" Alga yang berdiri didepan Alan dan Syafira merasa panik saat dia mendengar mamanya cegukan.


"Ti-tidak mama tak apa sayang." ucap Syafira jongkok memeluk Alga.


"Kemarilah, ikut aku." Alan mengangkat Alga dan menarik tangan Syafira, berjalan dengan cepat memasuki ruangannya.


Sementara semua karyawan yang melihat Syafira datang bersama bos mereka sedang bergosib sebab mereka tak pernah melihat kalau bos mereka itu membawah seorang gadis dengan tangannya sendiri datang ke kantor dan masuk kedalam ruangannya.


"Siapa sebenarnya wajah baru itu? Apakah dia pacar bos atau tunangannya?"


"Entahlah, tapi bukankah tunangan bos adalah non Fira putri dari pebisnis Guntoro yang selalu ingin masuk dan bergabung dengan perusahaan ini ya."


"Tapi aku tak pernah melihat mereka bersama loh selama ini, dan juga dari pihak bos tak pernah ada kabar kalau pertunangan itu benar atau salah."


Kasak - kusuk semua pegawai Alan mulai terdengar di seluruh kantor dan disetiap devisi semuanya sedang membicarakan Syafira yang dibawah oleh Alan datang ke kantornya dengan digandeng didepan semua orang.