
Siang itu Syafira jalan dengan Almansyah karena Syafira memutuskan kalau dia tak ingin menunggu dan mengharapkan cinta dari Alan yang hanya menganggap dirinya sebagai seorang putri kecilnya.
"Aku tak tau kalau kau adalah saudara dari kakak ipar ku, tapi hari ini aku senang bisa jalan dengan mu." ucap Almansyah pada Syafira.
"Ya aku juga senang, dan maaf kalau aku jadi merepotkan mu." jawab Syafira sopan
"Kenapa merepotkan, tentu saja tidak repot. Kalau aku tau dari awal kamu bekerja di restoran ini diakhir pekan aku pasti sudah mendatangimu dari awal." jawab Almansyah dan Syafira tersenyum mendengar itu. "Oh iya, putramu pulang sekolah jam berapa kalau hati Sabtu?" sambung Almansyah saat mereka berjalan menuju ke area bioskop.
"Jam 11.30" Syafira menjawab dengan malu.
"Baiklah, ini masih jam 10. Kita nonton film yang tidak terlalu lama saja biar bisa menjemput tepat waktu, ayo." ajak Almansyah menarik tangan Syafira.
"Syafa?" gumam Alan dan mengerutkan keningnya saat dia melihat Syafira jalan dengan anak wali kota itu dengan bercanda dan tertawa bersama bahkan bergandengan tangan.
"Kenapa tuan Alan?" tanya relasi bisnis Alan yang melihat Alan tiba - tiba merasa kesal.
"Ah, tidak ada. Maaf saya ada sedikit urusan biar Aditya yang menemani anda." ucap Alan dan menatap Aditya lalu pergi ke arah Syafira dan Almansyah pergi.
"Kau suka nonton film apa Ra?" tanya Almansyah pada Syafira saat mereka berdiri dan melihat mau melihat film apa.
"Em, apa ya?" Syafira memilih dari beberapa judul film. "Ah?!" Syafira kaget saat tiba - tiba ada seseorang yang menarik tangannya dengan kasar.
"Daddy?" Syafira menatap Alan yang sedang marah.
"Pulang.!" Alan menarik tangan Syafira dengan paksa tanpa menghiraukan ada Almansyah disitu
"Tunggu apa yang Daddy lakukan?" Syafira berusaha untuk berontak.
"Tuan Alan apa yang anda lakukan? Ini adalah tempat umum haruskah Anda membuat Syafira malu dilihat banyak orang." Almansyah berusaha menghalangi Alan
"Menyingkirlah agar tak menarik banyak perhatian orang." jawab Alan menatap tajam pada Almansyah.
"Tak apa, aku pergi dulu maafkan aku." ucap Syafira menatap bersalah pada Almansyah karena sudah janji akan menemani Almansyah dihari terakhirnya sebelum dia balik ke luar negeri lagi.
...🌴🌴🌴...
Dalam perjalanan Alan tak ada bicara apa pun dan wajahnya terlihat sangat dingin. Syafira yang duduk disebelahnya hanya bisa diam menahan amarahnya yang sudah hampir meluap.
"Masuk." Alan menarik tangan Syafira dan mendorongnya masuk kedalam rumah.
"Apa yang Daddy lakukan?! Sebenarnya apa mau Daddy? Bukankah Daddy sendiri yang ingin agar aku bahagia dan mendapatkan pasangan yang baik, dan Almansyah adalah pilihan yang baik, dia sepupu mas Denis anak wali kota dan orangnya juga baik, bahkan dia bisa menerima Alga." ucap Syafira yang marah pada Alan
"Menerima? Apa kau yakin dia akan menerima jika dia tau siapa ayah biologis Alga?!" Alan marah pada Syafira.
"Aku tak harus mengungkapkannya, tak ada yang tau dan dia adalah orang yang baik, dia bisa menerima kekurangan ku bahkan tak pernah menanyakan siapa dan bagaimana aku bisa hamil serta melahirkan anak." jawab Syafira lagi dengan nada tak kalah tinggi dari Alan.
Mendengar itu Alan semakin kesal dan marah "Kau ingin menutupi kenyataan siapa Alga sebenarnya?!"
Melihat Alan dan Syafira yang bertengkar hebat membuat bi Aminah takut dan lari ke rumah Alea untuk mengadu apa Alea agar melerai pertengkaran Alan dan Syafira.
"Syafa kau?!" Alan tak tau harus menjawab apa karena dia merasa sangat marah saat Syafira bilang dia tak ingin mengungkap kalau Alga adalah anak dan juga darah daging dari Alan.
"Kenapa? Sebenarnya apa yang ingin Daddy lakukan. Bukankah dari awal Daddy ingin mencarikan jodoh untuk ku, dan aku telah menentukan jodoh ku sendiri, aku gak mau meninggalkan Alga dan hanya bisa menyembunyikan kenyataan tentangnya saja. Lagi pula dia tak keberatan dan juga tak pernah tanya siapa ayah Alga." ucap Syafira menatap Alan dengan tatapan menantang.
"Maksudmu Almansyah?" tanya Alan kesal.
"Iya." jawab Syafira dengan berani. "Em." Syafira terkejud karena Alan langsung menarik dan melahap bibirnya.
Alan tak peduli lagi dengan semuanya dan dia telah terbakar emosi, karena dia telah menetapkan dirinya dan hatinya. Tapi Syafira malah memancingnya dan telah bermain api dibelakangnya.
"Kau adalah ibu dari putraku dan kau adalah wanita milik Alan. Jangan pernah berfikir untuk berpaling atau melarikan diri karena aku tak akan pernah melepas mu kali ini. Kau paham." ucap Alan setelah melahap bibir Syafira dengan kasar.
"Apa maksud Daddy." ucap Syafira menatap Alan.
"Kemarilah" Alan menarik Syafira masuk kedalam kamar Syafira dan mengunci pintunya.
Alan menatap Syafira dalam, gadis kecilnya itu telah mampu menggoyahkan seluruh pikirannya dan menggerakkan segala nalurinya. Dengan lembut Alan menangkup dan Kemabli ******* bibir Syafira, namun kali ini dengan lembut dan membara.
Alan membawah Syafira ke tempat tidur dan melepaskan jasnya tanpa melepas ciumannya dengan Syafira. Alan menikmati bibir kenyal Syafira hingga membangkitkan sesuatu dalam dirinya dan dengan spontan tangan Alan bermain diatas gundukan kenyal milik Syafira, serta ciumannya pindah ke leher Syafira.
"Maaf." ucap Alan menghentikan aksinya saat dia mendengar suara seksi Syafira keluar karena ulahnya.
"Kenapa Daddy selalu minta maaf? Apakah Syafa tak pantas untuk Daddy?" tanya Syafira kecewa saat dia melihat Alan bangun.
"Apa kau sudah gila, Daddy sangat menyayangimu sayang dan Daddy tak ingin menyakitimu. Kau adalah wanita Daddy mulai sekarang, ingat pernikahan kita masih sah dan kita masih suami istri secara agama, jadi jangan pernah melirik pria lain mengerti?" ucap Alan dengan lembut duduk ditepi tempat tidur dan menatap Syafira.
"Terima kasih Daddy, Syafa tak akan melirik pria lain lagi" ucap Syafira langsung memeluk Alan.
Alan tersenyum dan membalas pelukan Syafira, "Kau harus memutuskan semuanya termasuk Bian bos mu yang genit itu, Daddy tak suka melihatnya dekat - dekat dengan mu." ucap Alan.
"Bian?" Syafira menatap Alan "Tidak bisa" sambung Syafira dan itu membuat Alan mengerutkan keningnya. "Bagaimana cara Syafa memutuskan hubungan dengan dia kalau dari awal Syafa tak memiliki hubungan apa pun, Bian seorang gay." jawab Syafira lagi dan Alan kaget.
"Jadi dia?" tanya Alan dan Syafira tersenyum, "Syafira adalah guru tari Bian dia tak menyukai Syafira sebagai wanita, tapi dia hanya menggemari Syafira saja dan kebaikannya karena hanya Syafira yang tau dirinya gay dan mau menerima dia sebagai teman." jawab Syafira lalu Alan tersenyum dan kembali mencium bibir Syafira yang kali ini dibalas oleh Syafira.
"Hentikan, bisa tak terkendali kalau diteruskan." Alan mendorong Syafira menjauh darinya, dan Syafira menatap bingung.
"Kita harus menjemput putra kita nyonya, jangan sampai dia menunggu lama ini sudah waktunya dia pulang sekolah" ucap Alan dan Syafira langsung tertunduk malu.
"Tunjukkan ekspresi itu hanya padaku, karena setatus mu sekarang adalah nyonya Alan." ucap Alan menarik dagu Syafira dan mengecup kening Syafira lama.
"Benahi pakaian mu kita jemput Alga sekarang" Alan bangun dan merapikan bajunya begitu juga dengan Syafira yang bajunya telah robek karena ditarik paksa oleh Alan.