Baby I Love You

Baby I Love You
Malam yang panjang



"Akhirnya tidur juga dia, semoga efek obatnya sudah hilang. Sebenarnya siapa yang telah berbuat seperti ini padanya?" gumam Alan bertanya - tanya menatap Syafira yang tertidur.


"Semoga Aditya dapat menemukan orangnya." Alan berjalan ke sofa dan terlihat sangat lelah.


Alan bersandar di sofa dan merasakan kepalanya yang berat karena dia dari tadi telah berusaha sangat keras untuk menahan gejolak dalam dirinya karena godaan Syafira sebelum Syafira tertidur saat ini, perlahan Alan menutup matanya dan merebahkan tubuhnya di sofa.


Baru sebentar Alan terlelap dia dikejutkan oleh anggota tubuhnya yang bawah terstimulasi "Eh?" Alan langsung membuka matanya lebar - lebar karena ada sesuatu yang sedang menikmati tubuhnya dan bermain dibawah tubuhnya.


"Syafa apa yang kau lakukan?!" teriak Alan dan menghindari Syafira saat dia tau kalau Syafira telah melahap pusakanya yang saat ini sedang berdiri tegak menantang.


"Daddy, Syafa ingin." rengek Syafira yang terlihat sangat tersiksa dengan sesuatu yang dia rasakan.


"Sial, sebenarnya berapa banyak yang mereka berikan." ucap Alan yang sudah dalam posisi berantakan dengan bertelanjang dada dan celana yang sudah terbuka.


"Dengar tenanglah, Daddy akan membantumu ke kamar mandi sekarang ayo." Alan mengangkat tubuh Syafira.


"Gak mau Syafa mau sama Daddy." rengek Syafira lagi dan mencium leher Alan.


Alan membawah Syafira ke tempat tidur dan menyelimutinya karena Syafira sudah tak mengenakan apa pun. Dan Alan menggunakan handuk untuk menutup bagian bawah tubuhnya sendiri. Dan Syafira diikat dengan selimut tebal.


Brrrt


"Halo Dit bagaimana?" tanya Alan saat Aditya menghubunginya.


"Kak, mereka mengaku katanya disuruh oleh seorang pengunjung yang juga datang ke acara malam ini, dan mereka tak tau siapa orang itu, karena mereka tak mengenalnya. Mereka hanya bilang kalau dia seorang wanita yang cantik dan seksi." jelas Aditya pada Alan melalui panggilan telepon


"Hm, selidiki terus sampai ketemu." perintah Alan pada aditya.


"Ya, baik. Lalu bagaimana keadaan Syafira sekarang?" tanya Aditya soal kondisi Syafira.


"Dia,,, begini saja kau panggil Ndaru kesini, eh?" Alan kaget saat dia bicara sama Aditya tiba - tiba Syafira sudah melahap pusakanya lagi yang sudah hampir tertidur.


Alan berusaha menahan Syafira agar tak memainkan dirinya lagi karena Alan sudah tak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi. Namun semakin ditahan dan dihindari Syafira semakin memaksa dan semakin menjadi.


"Kak kenapa, halo, kak?" Aditya manggil Alan yang diam dan terdengar gemerusuk.


"Tak ada, atasi disana dan jangan bawah Ndaru kesini sudah." Alan langsung mematikan sambungan teleponnya dengan Aditya.


"Gadis nakal, kau benar - benar tak bisa dicegah ya. Apa kau tau apa yang akan terjadi jika kau seperti ini terus?" tanya Alan menahan tubuh Syafira.


"Daddy, Syafa gak tahan tolong bantu Syafa, Syafa mau Daddy." Syafira merengek menatap Alan dengan tatapan sayu.


Alan bernafas dalam "Baiklah kita lakukan." Alan membuka sisa kemejanya yang sudah dibuka oleh Syafira semua kancingnya dan langsung melahap bibir seksi Syafira.


Malam itu dihabiskan dengan permainan antara Alan dan Syafira, mereka berdua terlihat sangat antusias satu sama lain dan juga terlihat sangat serasi. Alan mengabsen seluruh bagian tubuh Syafira tanpa tertinggal dan Syafira mulai mengeluarkan suara - suara seksinya dan hal itu membuat Alan jadi semakin bersemangat lagi.


"Daddy." panggil Syafira disela - sela permainannya.


"Panggil nama Daddy sayang." ucap Alan sambil menikmati buah ceri kecil milik Syafira yang terlihat sangat menawan dan membuat Alan gemas, dan menghisap serta menggigit ringan secara bergantian.


"A-lan." suara Syafira tertahan karena hasrat yang telah memuncak dan menguasai dirinya.


Alan berhenti diantara pusar dan tulang ******** Syafira, Alan menatap luka bekas operasi Caesar yang dilakukan oleh Syafira saat dia melahirkan Alga, Alan mengusap bekas luka itu dan menciumnya penuh sayang.


Syafira yang merasakan geli terus saja bergerak sesuai dengan setiap sentuhan Alan. Dan suara - suara merdu Syafira semakin menjadi saat Alan telah menyentuh daerah intinya.


"Alan..." panggil Syafira dengan suara seraknya.


"I Love You Baby." bisik Alan ditelinga Syafira dan melahap lagi bibir Syafira.


Setelah dirasa cukup dan pas untuk sang senjata pusaka masuk pada sarungnya Alan langsung mengarahkan pusakanya pada sarungnya dan perlahan pusaka itu masuk, suara seksi dari Alan dan Syafira saling beradu saat penyatuan mereka berhasil, karena sarung senjatanya masih terasa sempit.


Malam itu telah dilalui oleh Alan dan Syafira dengan penuh gairah, bahkan Alan tak hanya sekali dua kali bahkan dia melakukannya berkali - kali hingga Syafira terlihat lemas dan lelah. Alan menatap Syafira yang menutup matanya dan meringkuk dalam pelukannya, Alan tersenyum dan mengecup kening Syafira dengan mesrah.


Paginya saat Syafira menggeliat dan daging kenyalnya menyentuh dada Alan sontak hal itu membuat sang pusaka langsung bereaksi karena yang punya pusaka telah sadar disaat Syafira menggeliat.


"Eh." Syafira kaget karena pusaka Alan menabrak tepat pada sarung ajaibnya.


Syafira menatap Alan yang menutup matanya dengan cepat Syafira langsung bangun dan lari ke kamar mandi karena merasa malu. Sementara Alan yang tau kalau Syafira lari langsung mengusap kasar wajahnya karena dia tak tau harus menghadapi Syafira seperti apa karena dirinya selalu saja bereaksi pada Syafira.


"Se-selamat pagi Daddy." ucap Syafira yang malu saat dia keluar dari kamar mandi.


Alan yang menatap Syafira malu - malu dirinya jadi merasa tenang karena tidak hanya dirinya yang malu tapi Syafira terlihat lebih malu. Dan Alan pun punya ide kalau dia harus menggoda Syafira.


"Kenapa malu - malu sayang, permainanmu semalam sungguh sangat luar biasa, tunjukkan ekspresi seperti itu lagi setiap kita melakukannya karena Daddy sangat menyukainya." bisik Alan ditelinga Syafira.


"Eh." Syafira tertunduk malu dan wajahnya bersemu merah karna dia masih ingat bagaimana dia bermain dengan Alan semalam dan seperti apa pergulatan yang mereka lakukan semalam.


Alan tersenyum dan langsung mengecup pipi Syafira. "Kamu sangat seksi sayang." ucap Alan lalu masuk kedalam kamar mandi.


"Ada yang mengantar sarapan." ucap Syafira saat melihat Alan keluar dari kamar mandi.


"Iya, Daddy tadi yang minta." jawab Alan berjalan mendekati Syafira dan mengajaknya sarapan bersama.


"Syafa, katakan pada Daddy apa yang terjadi sebenarnya dan kenapa bisa kamu terkena obat itu." Alan bertanya saat mereka sudah selesai sarapan.


"Syafa juga tak tau, karena selama di acara Syafa tak ada menyinggung orang, hanya makan dan mencari makanan yang enak." jawab Syafira berusaha mengingat sebelum kejadian malam itu.


"Apa kamu dan bicara atau bertemu dengan seseorang?" tanya Alan lagi.


"Tidak ada, selain Almansyah dan nyonya wali kota tak ada lagi." Syafira menggeleng karena dia memang tak bicara dengan siapa pun selain Almansyah dan ibu wali kota.


"Apa kamu ada meminum sesuatu?" Alan berusaha untuk mencari tau apa yang telah terjadi pada Syafira.


"Tidak, selain jus yang ditawarkan sama seorang pramusaji, air mineral dan es krim tak ada lagi yang aku minum." jawab Syafira. "Tapi itu pertama kalinya buat Syafa merasakan ada yang aneh pada tubuh Syafa, pandangan Syafa mulai kabur dan kepala pusing berat, lalu tubuh mulai panas. Hanya saja semakin lama rasanya semakin aneh karena Syafa merasakan gejolak yang tak bisa diartikan dari dalam diri, seolah ada sesuatu yang sangat Syafa inginkan untuk menyentuh daerah inti Syafa." Syafira menjelaskan apa yang dia rasakan waktu itu dengan malu - malu.


"Lalu apa luka - luka ditangan mu itu." tanya Alan penasaran.


"Oh ini, karena Syafa ingin mempertahankan kesadaran jadi berusaha melukai diri, karena dengan merasakan rasa sakit maka Syafa masih bisa mempertahankan kesadaran yang membuat diri dan tubuh Syafa berhasrat pada seorang lawan jenis." jelas Syafira tertunduk malu.


Alan menghela nafas dalam dan menatap Syafira, lalu berdiri dan berjalan mendekati Syafira yang duduk di sofa. "Maafkan Daddy ya sayang, karena Daddy tak mendengar panggilan mu, pasti kamu sangat menderita waktu itu." Alan memeluk Syafira.


"Tak apa, tapi Syafa bingung bagaimana bisa Syafa bersama dengan Daddy karena waktu itu Syafa menghubungi kak Milky untuk menjemput." tanya Syafira yang berada dalam pelukan Alan.


"Mungkin kamu tak sadar kalau orang yang kamu hubungi bukan Milky melainkan Bian. Dia yang menghubungi Daddy dan menceritakan kalau kamu menghubungi dia tapi tak bicara dan terdengar kalau kamu sedang cekcok dengan beberapa orang pria, dan dia merasa ada yang tak beres." jelas Alan dan Syafira mendengarkan.


"Maafkan Daddy ya sayang, kamu pasti sangat takut sekali waktu itu. Daddy janji Daddy tak akan membiarkan kamu mengalami hal seperti ini lagi kedepannya." ucap Alan dan menarik tubuh Syafira untuk dipeluk lagi.


"Iya, maafkan Syafa karena membuat Daddy khawatir, kedepannya Syafa akan lebih berhati - hati lagi." jawab Syafira balas memeluk Alan.


"Daddy bersyukur kamu masih bisa Daddy temukan, jika tidak mungkin Daddy akan menghabisi semua orang yang telah menyentuh mu," ucap Alan dengan nada sangat bersalah, "Tapi Daddy juga berterima kasih pada orang yang telah memberimu obat." sambung Alan dan sontak itu membuat Syafira langsung menjauhkan tubuh Alan darinya.


"Kenapa begitu? Apa Daddy suka melihat aku menderita dan ketakutan seperti itu?" tanya Syafira kaget dengan kata - kata Alan yang bilang terima kasih pada orang yang telah memberinya obat.


"Hey, jangan salah paham. Daddy berterima kasih jika orang itu adalah Daddy yang menemanimu, karena berkat orang yang memberimu obat Daddy telah melewati malam yang begitu indah dan sangat menakjubkan, Daddy tak akan pernah melupakan kejadian semalam. Dan kedepannya Daddy tak akan lagi menahan diri karena Daddy tau kamu sangat siap untuk semuanya. Jadi akan selalu siap untuk memanjakan pusaka Daddy yang telah menemukan sarung ajaibnya yang sangat pas dan juga nikmat." ucap Alan tersenyum menatap Syafira dan memegang wajah Syafira dengan kedua tangannya.


"Eh, kok begitu." Syafira tertunduk dan wajahnya kembali bersemu karena malu.


"Kenapa harus malu - malu begitu, bukannya semalam kamu yang memulainya dan dengan lahap menikmati pusaka Daddy hingga membuat Daddy kewalahan menahan diri." ucap Alan mendekat dan melahap bibir mungil milik Syafira.


Alan menikmati sentuhan bibir lembut Syafira dan itu membuat sesuatu yang ada dalam diri Alan bangkit lagi, sehingga ciuman lembut itu berubah menjadi sebuah ciuman yang penuh akan hasrat dan Alan pun memakan lagi tubuh Syafira dan dilakukannya dengan kesadaran dari keduanya.