Baby I Love You

Baby I Love You
Sang penguasa



Setelah menyelesaikan administrasi alan menghubungi kakaknya dan menceritakan semuanya pada sang kakak. Setelah itu dia menunggu dalam kamar rawat inap bersama dengan adit.


Alan menatap lekat pada sosok tubuh mungil yang terkulai di atas tempat tidur tak berdaya dengan selang infus yang terpasang di tangannya dan kain kasa membelit pergelangan tangan mungilnya.


"Siapa yang tega meninggalkan tubuh kecil yang bahkan tak mampu berbuat apa pun ini dalam suasana hujan yang bisa membuat tubuh orang dewasa saja bisa kedinginan."


Mata alan tak berpaling sedikit pun pada sosok kecil yang tengah terlelap dengan tenang, karna pengaruh obat yang diberikan.


"Entahlah kak, sepertinya orang itu adalah manusia yang tak punyak rasa belas kasih atau kasih sayang."


Adit mencobak menyuarakan pendapatnya, dengan tubuh yang berdiri tegap menghadap tepat dimana tubuh kecil itu berbaring.


Ceklek


"Alan, Adinda?"


Suara seseorang yang baru datang dengan aura kepanikan yang sangat terasa dan tergambar dalam wajahnya, sedang memasuki ruangan dimana tempat alan dan adit brada.


Dengan senyuman yang menunjukkan rasa lega juga terima kasih baik alan maupun adit atas kedatangan sosok yang selalu dianggap penemu jalan keluar dari segala situasi.


"Kak Lea, akhirnya."


Seolah janjian adit dan alan menyuarakan suaranya secara bersamaan menyubut nama orang yang baru datang dan menghampiri mereka berdua.


"Apa yang terjadi, dan anak siapa dia sebenarnya?"


Alea bertanya dan menatap alan dan juga adit secara bergantian sambil berjalan melangkahkan kakinya masuk mendekat ke arah tempat tidur dimana sosok mungil dibaringkan.


"Kami tak tau siapa dia, karna kami menemukan dia dalam kardus yang terbungkus dengan kaun selimut bayi."


Adit menatap alea yang sudah berdiri tepat di depannya menatap ke arah sosok mungil yang terlelap dalam tidurnya.


"Kalian tak menemukan petunjuk apa yang mungkin ditinggalkan saat kalian menemukannya?"


Adit menggeleng dengan cepat sementara alan mengangkat kedua bahunya yang menandakan dia tak tau apa pun.


Setelah 2 hari dirawat di rumah sakit adit membawah bayi kecil itu pulang ke rumah. Entah karna masih sakit atau karna emang tenang, bayi kecil itu sangat - sangat tenang sebagai ukuran seorang bayi yang selalu suka rewel.


Setelah seminggu lamanya akhirnya alan berhasil menemukan siapa orang yang telah tega meninggallan bayi mungil itu sendirian disuasana malam hujan yang dingin.


...🌴🌴🌴...


"Maafkan saya tuan, saya terpaksa melakukannya karna saya gak mau kalo nanti dia bernasib sama dengan saya sebagai wanita penghibur."


Seorang wanita dengan tubuh bergetar menjawab semua pertanyaan yang dilemparkan oleh alan kepada dirinya.


30 menit sebelumnya.


Didalam sebuah ruangan yang tertutup alan duduk dengan tenang di sebuah sofa panjang. Ruangan itu dihias sangat indah dan juga diberikan bau wawangian yang mampu membangkitkan gairah dari seorang alan yang memiliki darah muda.


"Tuan muda apa kah anda ingin melakukannya langsung, atau anda ingin ditemani bermain dulu?"


Tubuh **** seorang wanita mendekati alan dengan senyuman manis yang berusaha dia tunjukkan untuk menggoda darah muda dati seorang alan.


"Maukah anda menemani saya tuan muada? Saya janji akan membuat anda terpuaskan."


Tanpa rasa ragu sedikitpun wanita itu naik ke atas tubuh alan dan duduk dipangkuan alan dengan menunjukkan keseksian tubuh atasnya.


Tanpa diragukan walo bagai manapun alan adalah seorang pria normal yang juga memiliki hasrat setiap kalian melihat dan menatap sesuatu yang menggoda dalam jangkauan pandang mata yang sangat dekat.


Senyum manis tertampak lagi dengan jemari yang menjelajahi dada bidang alan dengan sangat nakal. Dan sedetil berikutnya bibir wanita itu telah menempel pada bibir alan.


Tanpa ragu dsn juga rasa canggung wanita itu memimpin alan, dan dengan lembut alan membalas juga menyuarakan sesuatu yang membuat wanita itu terkejud dan langsung turun dari pangkuan alan.


"Eghm"


"Kau ingin melahirkan anak dariku dan membuangnya?"


"A - apa maksud tuan?"


Wanita itu terlihat panik dengan tubuh bergetar menatap alan yang duduk tetap pada pisisinya tanpa berubah.


"Haruskah aku katakan dengan lebih jelas lagi?"


"Seorang bayi kecil yang terbungkus dengan kain selimut dan dimasukkan ke dalam kardus, diletakkan diatas tong besar disebuah gang dalam keadaan cuaca hujan di malam hari."


Dengan sikap arogan dan nada bicara sangat dingin alan mengutarakan semua yang dia lihat menemukan sosok bayi mungil yang saat ini ada di rumahnya.


30 menit setelahnya.


"Jadi dia benar putrimu, dan kamu sengaja meninggalkan dia begitu saja?"


Tatapan alan membuat wanita yang saat ini bersimpuh di bawah alan semakin bergetar hebat tubunya.


"Sa - saya tak ingin berhubungan dengan bayi itu, tolong selamatkan dia. Sayang tak mau dia bernasib sama. Ada orang - orang yang mengejarnya untuk dijadiakan wanita penghibur."


Suara yang bergetar menunjukkan rasa takutnya serta kejujurannya yang lebih memilih anaknya mati dari pada jadi wanita penghibur.


"Baiklah, asistenku akan membantumu keluar dari sini dan rawat putrimu dengan baik setelahnya."


Alan bangkit dan berjalan mendekati pintu keluar karna merasa urusannya sudah selesai di rumah mewah yang penuh dengan kesenangan duniawi ini.


"Bunuh saja saya, tapi jangan biarkan saya untuk menyentuh bayi itu lagi.!"


"Deg." alan terkejud mendengar pernyataan dari wanita itu, seketika dia berhenti dan menghentikan tangannya yang sudah sampai memegang gagang pintu untuk tidak membuka dan keluar dari kamar itu. Dan alan berbalik serta menatap wanita itu lagi.


"Dia bukan putri saya. Awalnya saya ingin merawatnya saat saya menemukan dia 2 bulan lalu. Tapi melihat senyumnya yang bagai malaikat saya tak tega kalo harus menjerumuskan dia dalam Lumpur yang sama dengan saya. Makanya saya kembalikan dia diposisi dimana dulu saya menemukannya dan berharap orang lain yang lebih baik menemukan dia."


Wanita yang lagi duduk dilantai itu menjelaskan sambil menatap alan dengan tatapan memohon, bersamaan linangan air mata yang terus mengalir membuat pandangannya kabur karna tertutup air matanya.


"Jadi dia bukan putri kandungmu?"


Wanita itu langsung menggeleng dengan cepat begitu alan menanyakan hubungannya dengan bayi kecil yang telah dia temukan.


"Baiklah, terserah kamu. Asistenku akan datang untuk mengeluarkanmu dari tempat ini, jika kamu bersedia ikuti dia dan jika tidak makan tetaplah di sini."


Setelah berkata alan keluar berjalan melewati beberapa wanita cantik yang berbaris rapi di ruangan itu sepanjang jalan.


Wanita baju merah "Wah, siapa itu? Apa dia seorang Abigail?"


Alan berjalan lurus dengan telpon di tangan kirinya yang nempel ditelinga kirinya. Alan berjalan melewati setiap orang pengawal dan setiap pengawal yang sudah dilewati oleh alan langsung mengikutinya dari belakang.


Wanita baju hijau "Benar, itu adalah dia, ku pikir tadi orang penting mana yang datang ke tempat kita ternyata seorang King."


Wanita baju merah "Iya benar, dia benar - benar sang penguasa. Cobak saja lihat para pengawalnya yang begitu gagah sama dengan majikannya. Sikap yang dingin dan pandangan mata yang tajam sungguh bisa melelehkan hati."


Wanita baju kuning "Hem, siapa wanita yang beruntung bisa jadi pasangannya. Apa dia akan sama seperti sang papanya yang begitu cinta mati dengan istrinya?"


Wanita baju merah "Aku tak peduli siapa dan berapa banyak wanitanya. Asalkan aku bisa menemaninya bermain di atas ranjang sekali saja dengannya aku akan sangat senang."


Wanita baju kuning "Tapi, siapa wanita yang beruntung menemani dia tadi?"


Wanita baju hijau "Benar, aku jadi iri pada wanita itu, aku ingin sekali menyentuh tangannya yang kekar itu."


Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh alan, sehari setelah alan datang, adit telah datang dengan kedua pengawal yang mengawalnya. Dan tak lama kemudian adin keluar dengan seorang wanita yang telah di tebus dengan harga 100 juta olehnya.