A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 99 - Menerima tantangan



"Kalian tidak perlu terlalu khawatir, karena aku yakin dengan kemampuan yang aku miliki, aku akan mampu melawan dan mengalahkan Beatrix." Lucy berusaha menenangkan.


"Bagaimana kami tidak khawatir? Kau saja bahkan belum pernah melawan Beatrix dan kau sendiri tahu 'kan, gadis itu memiliki kemampuan yang bagus dalam pelajaran beladiri ini," kata Daniel.


"Tenang saja. Aku memiliki cara untuk mengalahkannya." Lucy masih terdengar begitu tenang seakan-akan ia tahu kalau keputusan yang telah diambilnya adalah keputusan yang benar. Mendengar hal itu, Jean dan Daniel menampakkan raut wajah penasaran ke arah Lucy.


"Kau memiliki cara?" Jean bertanya.


"Iya."


"Bagaimana caranya?" Daniel tampak tak yakin.


"Aku tahu kelemahannya," gumam Lucy pelan.


"Benarkah?" Jean dan Daniel tampak tak percaya, Lucy mengangguk sebagai jawaban.


"Apa kelemahannya?" tanya Jean.


"Kalian akan tahu nanti. Ketika kalian menyaksikan pertarungan kami. Maka dari itu, izinkan aku menerima tantangannya…" Lucy memandang kedua sahabatnya dengan penuh harap.


Jean dan Daniel menghela napas. Tidak ada pilihan lain. Mereka akhirnya mengangguk, mengiyakan ucapan Lucy.


"Baiklah, kami izinkan." Jean mewakili. Ia tersenyum kaku ke arah Lucy.



"Terima kasih. Kalau begitu semangati aku!" tutur Lucy. Keduanya menganggukkan kepala, lalu berjalan menghampiri tempat semula mereka duduk.


Lucy berdiri di hadapan Beatrix. Ia kemudian tersenyum ke arah Beatrix yang sejak tadi tersenyum sambil melayangkan tatapan meremehkan padanya.


"Bagaimana? Apa kau takut? Dan kau akan menolak tantanganku?" Beatrix berucap.


"Aku terima." Lucy menjabat tangan dengannya. Beatrix senang dengan ucapan Lucy.


"Bagus, aku sudah tahu jika kau bukan seorang pengecut."


Mereka bertatapan satu sama lain, dan keduanya sudah memasang kuda-kuda. Bersiap untuk bertarung.


Lihat saja, aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku, batin Beatrix.


Di sisi lain, Lucy tampak percaya diri. Dalam benaknya, dia sudah menyusun rencana untuk mengalahkan Beatrix.


Lihatlah Beatrix, ini adalah langkah awalku untuk menghentikanmu yang terus bersikap semena-mena terhadap orang yang lemah, pikir Lucy.


Beatrix menunjukkan aksinya, ia memutar tongkat dalam genggamannya sebagai pemanasan. Berikutnya, ia langsung menyerang Lucy dengan kemampuannya.


Takk! Takk! Takk!


Beatrix menyerang dari segala arah, dari atas, bawah, samping kanan, samping kiri, lalu tengah.


Tapi semuanya berhasil di tangkis oleh tongkat dalam genggaman Lucy. Gadis itu tampak sangat terampil dalam menangkis setiap serangan yang dilakukan Beatrix.


Beatrix tak mau kalah. Ia terus melawan tanpa henti, mencoba menyudutkan Lucy.


Di sisi lain, Lucy mulai terseret karena serangan gadis itu cukup membuatnya kewalahan untuk saat ini.


Lucy terus berjalan mundur seraya berusaha untuk menangkis setiap serangan Beatrix. Namun karena ia terus berjalan mundur, itu membuatnya hampir saja terjatuh karena terlalu fokus menahan serangan Beatrix tanpa memperhatikan jalan.


Beruntung Lucy dapat mengatasi hal itu segera. Ia dapat bertahan dan terus menangkis serangan Beatrix.


Dalam sekejap semua orang dalam ruangan itu di buat terdiam oleh pertarungan Lucy dan Beatrix yang berlangsung di hadapan mereka.


Semuanya cukup di buat terkesan karena Lucy dapat menangkis semua serangan yang dilancarkan Beatrix ke arahnya.


Disisi lain, Jean dan Daniel kembali cemas. Mereka mulai merasa kalau keputusan mereka itu salah, karena sudah mengizinkannya bertarung.


...***...