A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 75 - Namanya?



"Akhirnya kau datang juga, kau tahu? Kami sudah sangat lelah menunggumu sejak tadi," ucap Daniel ketika Jean baru saja tiba di sana.


Gadis itu melirik ke arahnya sekilas. Raut wajahnya benar-benar terlihat kesal.


Lucy melirik Daniel sekilas, detik berikutnya ia memandang Jean disebelahnya.


Tangannya terulur mengusap pelan pundak gadis disampingnya itu.


"Jean kau kenapa? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Lucy lembut.



"Kalian tahu?" Jean mulai bersuara, ia menatap keduanya.


Lucy dan Daniel menatap Jean dengan raut wajah heran.


"Hari ini, aku benar-benar sial!" sambungnya dengan nada sebal.


"Ada apa? Apakah kau marah pada kami?" tanya Lucy hati-hati.


"Bukan."


Lucy dan Daniel menghela napas lega, mereka sempat khawatir kalau Jean akan marah karena tadi mereka meninggalkannya seorang diri di kantin.


"Lalu, kenapa kau tampak sangat marah?" Kini giliran Daniel yang bertanya.


Jean mengubah posisinya. Melipat kedua tangannya di atas meja, dengan kedua mata mulai memandang Lucy dan Daniel bergantian.


Lucy dan Daniel mendekatkan diri dengan Jean, kini mereka bertiga saling pandang di atas meja yang sama.


"Kalian tahu? Tadi saat aku di perjalanan kemari, secara tidak sengaja aku di tabrak oleh seorang gadis asing sampai aku jatuh."


"Hahaha, benarkah?" Daniel tertawa. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana lucunya wajah Jean ketika dia di tabrak hingga jatuh di depan banyak orang.


"Jangan tertawa!" Jean semakin sebal. Ia mencubit keras lengan Daniel. Tapi sayangnya, lelaki itu sama sekali tidak merasa kesakitan.


"Okay, maaf." Daniel menghentikan tawanya.


"Gadis itu malah menatapku datar, dia bahkan sama sekali tidak meminta maaf atau membantuku berdiri. Benar-benar menyebalkan…"


"…Setelah itu, aku bertemu dengan coach Bean dan sir. Nic, lalu mereka memintaku untuk mengantarkan gadis itu ke dorm nya…"


"…Awalnya aku ingin menolak. Tapi coach Bean dan sir. Nic sudah lebih dulu pergi tanpa mendengarkan protesku, dan mau tidak mau, aku mengantarkan gadis itu hingga ke dorm nya…"


"…Setelah itu, kalian tahu apa yang terjadi?" Jean tampak menahan amarahnya untuk sesaat.


Daniel dan Lucy menatapnya lekat. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Jean.


"Tiba di dorm, gadis itu membanting pintu kamarnya tepat dihadapanku. Benar-benar menyebalkan kan?" Jean bersandar pada kursi yang didudukinya. Melipat kedua tangannya di depan dada.


"Hahaha, tampaknya gadis itu benar-benar membencimu. Dia bahkan membanting pintu kamarnya tepat di hadapanmu." Daniel menertawakannya.


"Memangnya aku salah apa coba? Aku dan dia saja bahkan baru pertama kali bertemu, dan sikapnya benar-benar menyebalkan padaku. Aku heran mengapa coach Bean dan sir. Nic begitu mengistimewakan gadis itu sampai-sampai mereka hendak mengantarkan gadis itu ke dorm nya." Jean menggerutu.


"Tunggu, kau bilang sir. Nic dan coach Bean hendak mengantarkan gadis itu?" tanya Lucy.


Jean menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kenapa aku merasa aneh, ya?" Daniel terdiam seketika. Ia beradu tatap dengan Jean dan Lucy.


"Kau juga merasa ada yang aneh?" tanya Jean.


"Iya. Tidak biasanya coach Bean dan sir. Nic mengantarkan murid baru hingga ke dorm nya 'kan."


"Ah, benar! Aku saja dulu tidak mendapatkan perlakuan istimewa seperti itu."


"Aku juga tidak."


"Memangnya siapa gadis itu?" kata Lucy.


"Siapa namanya?"


...***...