A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 62 - SGLSA



London, Inggris, sepuluh tahun yang lalu.


2009


Lucy melangkah keluar dari dalam mobil begitu mereka tiba di depan gedung utama SGLS.


Ia menampakkan raut wajah senang. Hari ini, dirinya benar-benar merasa excited untuk memulai hari pertamanya sebagai agen mata-mata resmi yang bekerja di bawah naungan SGLS.


Lucy berlari menghampiri pintu masuk dengan di temani Bean di belakangnya.


Tiba di dalam, ia berdecak kagum melihat tempat itu. Kali ini dari sudut pandang yang berbeda, bukan lagi dari sudut pandang seorang gadis yang tersesat, melainkan sebagai gadis yang baru saja di terima di akademi pelatihan.


Lucy menangkap kedatangan Sheilla dari arah dalam. Gadis itu menghampiri dirinya yang baru saja tiba.


"Lou!" panggilnya. Lucy melambaikan tangan ke arahnya dengan senyum merekah di wajah.


"Akhirnya kau tiba juga, aku sudah menungguku sejak tadi." Sheilla memeluk Lucy begitu ia tiba dihadapannya.


"Maaf, aku harus pergi ke sekolah dulu. Kau sudah sejak tadi di sini?"


"Ya. Dan aku menunggumu karena ingin berlatih denganmu. Tapi omong-omong, kenapa kau tidak memakai baju untuk berlatih? Apakah kau akan memakainya nanti?"


"Huh? Oh, itu…" Lucy terdiam memikirkan jawaban yang tepat, ia benar-benar lupa kalau untuk berlatih, ia harus mengenakan pakaian yang seperti kemarin.


Bean menghampiri keduanya.


"Sheilla, bisakah kau antarkan Lucy ke dorm nya?" tanya Bean.


"Huh? Oh, tentu saja. Tapi, kenapa harus di antar?" Sheilla mengerutkan kening.


"Dia masih baru, dan dia belum terlalu hafal jalannya. Aku takut dia tersesat. Ini kuncinya." Bean memberikan kunci dorm di tangannya.


"Ayo pergi." Sheilla menarik tangan Lucy dan membawanya menuju jalan ke arah dorm.


Lucy dan Sheilla berjalan beriringan di salah satu gedung besar.


Di tempat itu, Lucy dapat melihat banyak sekali anak-anak yang berlalu-lalang dengan memakai kaos berwarna putih berpadu dengan celana hitam.


"Ini adalah gedung dorm untuk perempuan, dan yang sebelah sana untuk laki-laki." Sheilla menjelaskan sambil menunjuk ke arah dua gedung dorm yang mereka tuju. Mereka berhenti sejenak sebelum masuk ke dalam gedung.


Lucy terdiam. Kedua manik matanya menatap kedua gedung yang saling bersebelahan itu.


"Ini kunci untuk kamarmu." Sheilla menyodorkan kunci yang diberikan Bean.


Lucy menatap kunci yang baru saja diberikan Sheilla. Kunci itu, memiliki gantungan berwarna hitam yang memiliki aksen yang sama dengan yang ada di lencana yang kemarin di berikan Nico.


"Sheilla, bolehkah aku bertanya?"


"Kau ingin bertanya apa?"


"Mengapa kunci ini memiliki aksen berupa bunga mawar di gantungannya?" Lucy menunjukkan aksen yang dimaksud.


"Dulunya kudengar sindikat ini, bukan bernama SGLSA. Tapi, Black Rose. Tapi, setelah melewati beberapa revolusi dan perjalanan yang panjang, akhirnya sir. Nic mengganti nama sindikatnya menjadi SGLSA demi melupakan masa-masa kelam sindikat Black Rose. Tapi itu tidak menjadikan sir. Nic lupa akan sindikatnya yang dulu, maka dari itu sindikat kita memilih lambang bunga mawar sebagai ikon ciri khasnya," jelas Sheilla.


"Oh… tapi, apa arti dari SGLSA sendiri?"


"Aku sendiri tidak tahu. Ibu atau kakakku tidak pernah menjelaskan tentang arti nama itu. Terlebih, tidak ada yang tahu juga."


...***...