A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 79 - Elena



"Itu, dia di sana!" tutur wanita gemuk yang merupakan pengurus panti.


Nico dan Bean menoleh ke arah gadis yang ditunjuknya. Gadis itu tengah duduk termenung seorang diri di bawah pohon rimbun di taman bermain.


Teman-temannya yang lain sibuk bermain, sementara dirinya hanya duduk dan memandang secarik kertas yang digenggamnya.


Dalam pelukannya, ia memeluk sebuah boneka berbentuk kelinci putih dengan pita dilehernya.


Kelinci itu hampir sama seperti kelinci yang ada dalam film Alice in Wonderland.


Hanya saja bedanya boneka kelinci yang di pegang gadis itu tak memakai tuxedo atau topi dan semacamnya. Ia hanya memakai dasi kupu-kupu merah dilehernya.


"Terima kasih, aku akan memanggilmu lagi kalau kami membutuhkan sesuatu," kata Bean.


"Baik kalau begitu saya permisi." Wanita itu beranjak pergi meninggalkan Bean dan Nico.


Nico terdiam, ia memandang gadis itu lekat.


Penampilannya benar-benar membuat hatinya terenyuh.


Gadis itu tampak sangat menyedihkan.


Pakaian yang dipakainya lusuh, rambutnya berantakan, wajahnya sedikit pucat, dan tubuhnya benar-benar kecil, kurus kerempeng bak anak yang tidak makan selama berminggu-minggu.


"Wajahnya, benar-benar mirip dengan ibunya." Nico bergumam.


Bean menoleh ke arah Nico, lalu menatap sosok yang dipandangnya.


"Aku tidak percaya, penampilannya akan sampai seperti ini," sambungnya.


"Ya, aku juga tidak menyangka. Dia terlihat sangat kurus dan sangat menyedihkan." Bean menimpali.


"Apa perlu kita hampir dia sekarang?" tanya Bean.


Ia hampir melangkah akan menghampiri gadis itu. Namun, dengan cepat Nico menghentikannya.


"Tidak, nanti saja. Sekarang lebih baik kita kembali dan temui wanita tadi. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya."


Bean dan Nico pergi dari sana. Melangkah menuju kantor wanita gemuk yang merupakan pengurus panti asuhan tempat dimana gadis yang mereka cari itu berada.


Di sisi lain, gadis itu terdiam.


Kedua manik matanya memandang dua sosok orang dewasa dalam foto yang sedang dipegangnya.


Rasa rindu yang sangat amat mendalam, ia rasakan.


Diusapnya pelan foto di tangannya tersebut.


"Papa, Mama… aku rindu kalian. Kapan kalian akan kembali dan menjemputku?" gumamnya.


Gadis itu lalu memeluk foto itu dalam dekapannya. Dia benar-benar merindukan kedua orang tuanya yang telah hilang selama lima tahun entah kemana.


Selama ini, dirinya hidup dalam tanya. Mencari keberadaan kedua orang tuanya, tanpa bisa pergi dan mencarinya dengan bebas.


Lima tahun telah berlalu, dan dirinya terjebak di sini. Di panti asuhan yang menjadi rumah barunya.


Dan selama lima tahun itu juga, dia terus merindukan kedua orang tuanya serta menantikan kembalinya mereka untuk menjemputnya pulang seperti janjinya.


Namun tanpa ia sadari, penantiannya selama lima tahun itu, semua pada akhirnya sia-sia.



...*...


"Elena tidak banyak bicara, dan berinteraksi dengan anak-anak yang lain…"


"…Semenjak ia tiba di sini, ia tak banyak aktif seperti yang lain. Dan yang dilakukannya hanya bermain seorang diri dengan ditemani boneka yang tak pernah lepas dari pelukannya itu…"


"…Terkadang, aku khawatir padanya. Karena selama ini, ia sering menguatkan dirinya sendiri dan berkata 'papa dan mama akan segera datang dan menjemputku. Aku hanya perlu bersabar sedikit lagi.' Berkali-kali dia menanti. Tapi selalu berakhir kecewa," jelas wanita pemilik panti panjang-lebar.


...***...