
"Je suis à la maison," ucap pria dewasa berwajah tampan dengan kacamata itu. Serentak suaranya membuat seisi ruangan menoleh ke arahnya.
(Aku pulang)
Di sana, pria berjas lengkap dengan dasinya itu berjalan memasuki rumahnya.
"Papa!" Liana berlari ke arahnya lalu memeluk pria itu erat.
Theodore memeluk Liana sambil tersenyum. Ia lantas mengangkat tubuh Liana hingga ke udara seraya sesekali tertawa.
Setelahnya, ia memeluk Liana dalam gendongannya.
"How was your day, my dear?" tanyanya pada Liana dalam bahasa Inggris. Tangannya mengusap puncak kepala Liana.
(Bagaimana harimu, sayangku?)
"Not bad, daddy." Liana tersenyum. Papanya lalu mencium pipi putri kecilnya lembut.
Theodore Narcisse La Vergne, jika diartikan, namanya memiliki arti ketampanan yang diberikan tuhan pada anak yang lahir di musim semi.
Theodore memiliki paras yang tampan, ia memakai kacamata berbentuk persegi yang menambahkan kadar ketampanannya.
Tubuhnya tinggi dengan proporsional balutkan jas kerjanya, memiliki rambut kecoklatan dengan mata indah berwarna biru yang serupa dengan Liana.
Theodore adalah anak pertama dari dua bersaudara di keluarga La Vergne.
Ia memiliki seorang adik bernama Maxime Laurent La Vergne yang merupakan papa dari Leon sekaligus suami dari Zabrina.
"Kau baru pulang sayang?" Caroline menghampiri suaminya. Sementara Theodore menurunkan Liana lalu merangkul dan mencium mesra kening istrinya.
"Yeah, and I'm so tired baby," ucapnya manja.
(Ya, dan aku sangat lelah sayang,)
"Mau aku buatkan minuman?" tanya Caroline yang kemudian melerai pelukannya.
"Aku ingin kopi."
"Dia bilang ada yang harus dia beli dulu di toko."
"Ooh, begitu…"
Caroline menghampiri Zabrina terlebih dulu. "Aku ke dapur sebentar, nanti kita lanjutkan pembicaraan kita," bisiknya.
Zabrina menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Caroline beranjak meninggalkan ruang tengah dan pergi menuju dapur untuk membuatkan kopi yang tadi di minta oleh suaminya.
Theodore menghampiri Leon yang terduduk di sana. Ia membungkukkan tubuhnya di dekat Leon.
"Leon," panggilnya membuat anak itu menoleh ke arahnya dengan raut wajah bingung.
"Tu ne veux pas accueillir ton oncle?" katanya. Leon hanya diam bingung harus bagaimana. Pasalnya ia tidak terlalu pandai dalam menyambut kedatangan seseorang.
(Tidakkah kau ingin menyambut pamanmu?)
"Ah, je suis déçu…" Theodore memasang wajah cemberut saat Leon sama sekali tak merespon ucapannya.
(Ah, paman kecewa)
Leon melirik ke arah Liana yang kini berdiri di samping papanya, Liana memberikan isyarat pada Leon untuk berdiri lalu memeluk Theodore.
Leon kemudian berdiri dan memeluk Theodore dengan pelukan mungilnya.
Senyuman seketika merekah di wajah Theodore. Ia lantas mengangkat tubuh Leon dan memeluknya dalam gendongan.
Leon terkejut bukan main saat secara tiba-tiba ia di angkat seperti itu, apalagi melihat senyuman yang terukir di wajah Theodore, membuat rona dipipinya timbul.
"Merci," ucapnya pada Leon. Liana di bawah sana ikut tersenyum apalagi ketika melihat wajah Leon yang kini memerah karena malu.
Leon tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh orang lain kecuali papanya.
Apalagi jika mengingat Theodore dan keluarganya itu sudah dua tahun tak mengunjungi Paris karena satu dan lain hal, dan ini adalah kali pertama.
...***...