
"Aku hanya merasa malu pada kalian. Selama ini, aku selalu bersikap dingin, dan tak acuh. Sampai membuat kalian semua salah paham dan menilaiku sombong…"
"…Padahal aku hanya tidak terlalu pandai dalam berinteraksi dan tidak terlalu mudah akrab dengan orang-orang yang baru dalam hidupanku…"
"…Tapi dengan sikap kalian yang seperti ini, membuatku merasa benar-benar malu…"
"…Walaupun aku bersikap dingin pada kalian, tapi kalian masih tetap peduli padaku dan tetap mau menolongku saat yang lain hanya bisa diam sambil menonton saat aku tengah ditindas oleh Beatrix." Elena berucap lirih.
"Kau tidak perlu merasa malu. Lagipula kami bertiga mengerti mengapa kau bersikap dingin seperti itu pada anak-anak yang lain…"
"…Sejak kau datang dan dengan caramu memperkenalkan diri untuk pertama kali, kami sudah tahu kalau kau adalah orang yang tidak terlalu mudah akrab dengan orang-orang baru, dan pemalu," ujar Lucy.
Jean dan Daniel menganggukkan kepala mengiyakan ucapan Lucy.
"Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih. Aku benar-benar berutang budi pada kalian."
"Tidak perlu merasa berutang budi. Kami merasa senang bisa membantumu."
...*...
Tok! Tok! Tok!
Pintu itu di ketuk. Membuat Bean yang sedang mengajar di sana, menoleh ke arah pintu ruang latihan yang terbuka.
Di sana dia melihat sosok pria berjas, berdiri diambang pintu masuk.
"Bean, sir. Nic mencarimu. Kau di tunggu di ruangannya."
"Aku akan segera ke sana," sahut Bean. Pria yang tadi memberitahunya, lalu pergi.
"Kalian lanjut latihan, ya. Aku akan segera kembali," ucap Bean pada anak-anak muridnya.
"Yes, coach," sahut mereka serentak. Bean pergi meninggalkan ruang latihan.
Sepeninggalannya Bean, anak-anak di sana duduk, dan beristirahat.
Disampingnya, ada Sheilla yang sibuk berdebat dengan Grayson.
Sejak tadi, perdebatan mereka tak kunjung selesai hanya gara-gara tongkat mereka yang tertular. Tidak ada satu pun di antara mereka mau mengalah.
Di bagian lain, Ethan duduk bersama Daniel, Lucy dan Jean. Mereka semua sedang duduk dan beristirahat.
Fokus mereka yang semula tengah sibuk mengobrol, lantas beralih ketika Beatrix berjalan masuk ke dalam ruang latihan.
Gadis itu baru masuk setelah melakukan kekacauan pagi tadi dan membuat Elena masuk ke ruang kesehatan.
Beatrix menatap teman-teman sekelasnya tajam. Ia berjalan, hingga tiba di sudut ruangan yang dimana terdapat tempat untuk menyimpan tongkat dan beberapa alat lain yang digunakan untuk latihan.
Ia menarik salah satu tongkat. Menggenggam erat tongkatnya seraya memutarnya beberapa kali guna menunjukkan beberapa gerakan yang dia kuasai.
Teman-teman sekelasnya hanya diam dan menonton. Beberapa di antara mereka berbisik membicarakannya.
Detik berikutnya, Beatrix berdiri di tengah-tengah ruang latihan yang kini kosong.
Sebagian besar orang-orang di sana duduk di samping dan bersandar pada dinding.
Beatrix menatap ke arah Lucy, tajam. Ia kemudian menghampiri Lucy sambil tersenyum miring padanya.
Beatrix menunjuk Lucy dengan menggunakan tongkat yang dia pegang.
"Aku menantangmu. Kalau kau berani, lawan aku!" ucapnya pada Lucy.
Semua orang di dalam ruang itu melongok, seraya menatap ke arah mereka dengan raut wajah terkejut.
Daniel hendak berbicara dengan Beatrix. Dia baru saja hendak berdiri. Namun dengan cepat, Lucy menahannya.
"Kau akan menghiraukannya 'kan?" Jean berbisik.
...***...