A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 77 - Menemukannya



Alih-alih lelah, Beatrix malah semakin menjadi-jadi, walau Nico seringkali memanggil dan menghukumnya di kantor. Tapi tampaknya, tidak ada kata jera dalam kamus hidupnya.


Bagi Beatrix hukuman yang diberikan Bean dan Nico hanyalah angin lalu yang bahkan tidak dapat menggoyahkan prinsip hidupnya.


Sore itu, setelah Lucy dan kedua sahabatnya membantu salah satu anak yang di tindas Beatrix, mereka memutuskan beristirahat di kantin.


Dipesannya beberapa hidangan kecil untuk meredakan emosi mereka yang sejak tadi memuncak akibat ulah Beatrix.


"Beatrix benar-benar membuatku muak." Jean menggerutu.


Ia lalu melahap makanan yang di pesannya dalam suapan besar, kemudian menelannya dalam satu kali gigitan.


"Tampaknya tidak ada satupun yang dapat menghentikannya berbuat onar. Termasuk sir. Nic sekalipun. Buktinya saja, dia tak pernah merasa jera walaupun sir. Nic sudah hukumnya. Dia bahkan terus berbuat onar." Daniel menyeruput minuman di tangannya.


"Aku setuju dengan pendapatmu!" Jean menimpali.


Lucy tidak banyak berkomentar. Ia hanya diam dan terus mengaduk-aduk minuman yang dipegangnya dengan sedotan yang tenggelam di dalamnya.


Tatapan mata gadis itu kosong menandakan dia sedang melamun.


Jean dan Daniel melirik ke arahnya. Mereka saling pandang untuk sesaat, kemudian kembali melirik Lucy.


"Lou, kau kenapa?" Jean mengguncang pelan pundak Lucy.


Lucy menoleh pada Jean dan Daniel.


"Aku baik-baik saja."


"Benarkah? Tampaknya tidak!" kata Daniel.


"Apa kau sakit? Apa kami perlu mengantarmu ke ruang kesehatan?" Jean khawatir.


"Aku baik-baik saja. Kalian jangan khawatir." Lucy tersenyum.


"Lalu apa yang mengganggu pikiranmu?"


"Aku hanya sedang berpikir. Apa motif sebenarnya dibalik tingkahnya itu? Bukankah seharusnya dia berusaha bersikap baik? Karena bagaimanapun, dia kesepian dan tidak memiliki siapapun."


"Apalagi kalau bukan untuk mencari perhatian orang-orang? Aku yakin, Dia pasti melakukan hal ini hanya untuk mencari perhatian dan simpati orang-orang…"


"…Kau tahu 'kan, kedua orang tuanya sudah meninggal dan dia hidup sebatang kara…"


"…Tapi setelah melihat tingkah Beatrix sejak awal, siapa yang mau berteman dengannya? Aku saja bahkan tidak ingin melihat wajahnya," ucap Jean yang kembali melahap makanannya.



...*...


Pria itu berjalan cepat menyusuri koridor.


Langkahnya bahkan hampir bisa dikatakan berlari kecil saking sangat tergesa-gesanya.


Di tangannya, ia menggenggam sebuah map berwarna kuning berisi berkas yang sangat penting.


Penampilannya yang semula rapi, kini tampak sangat amat berantakan.


Apalagi keringat dikeningnya sudah benar-benar mengucur deras membasahi sebagian besar wajahnya.


Tiba di koridor tempat yang ditujunya, ia berhenti lalu berdiri di depan sebuah pintu.


Bean bergegas mendorong pintunya tanpa mengetuk lebih dulu.


Ia lalu masuk dan menutup pintunya rapat-rapat.


"Aku menemukannya sir!" tuturnya dengan wajah gembira berhiaskan keringat diwajahnya.


Pria berjas yang sejak tadi duduk di kursi kebesarannya di dalam ruangan itu, lantas berbalik.


Dengan raut wajah terkejut, ia menatap sosok Bean yang baru saja tiba di ruangannya dengan penampilan amat berantakan.


Ditambah, lelaki itu masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Apa yang kau ributkan, Bean?" Nico menatapnya bingung.


Dia menghampiri Nico, lalu berdiri di hadapannya.


Bean menaruh map di tangannya.


...***...