A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 37 - Bean



Blam!


Lucy menutup pintu masuk penginapannya.


"Senior Lou!" Amanda beranjak dari tempat duduknya.


"Am." Lucy menoleh ke arah datangnya suara.


"Akhirnya senior Lou kembali."


"Maaf sudah membuatmu dan Al menunggu lama."


"Tidak apa-apa. Lagipula aku juga baru pulang, aku sangat senang karena bisa melihat Eiffel tower dari dekat. Ada banyak hal yang membuatku takjub dengan Paris." Amanda bercerita penuh energi seperti biasanya.


"Benarkah? Apa saja yang kau lakukan memangnya?"


"Aku pergi ke Eiffel tower di pagi hari dan menikmati sunrise di sana, setelah itu berlanjut mengunjungi tempat-tempat wisata yang belum pernah aku kunjungi."


"Sepertinya kau sangat menikmati Paris."


"Tentu saja."


"Bagaimana dengan Al? Apakah dia juga ikut denganmu?"


"Dia pergi meninggalkan aku sendiri di sini. Setelah itu, aku menyusulnya." Aland menyambar.


Fokus Lucy dan Amanda beralih ke arah datangnya suara. Mendapati sosok Aland yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.


Aland datang dengan membawa koper miliknya.


"Al?"


"Omong-omong, kau darimana saja? Kau tidak pulang semalaman?" Aland menghentikan langkahnya di depan Lucy dan Amanda.


"Aku menginap di tempat Felix."


"Sepertinya kau sangat senang." Aland berucap dengan nada ketus.


"Begitulah. Sepertinya kalian sudah bersiap, hanya aku saja yang belum. Tunggu sebentar, aku akan segera kembali setelah mengemas semua barang-barangku."


Lucy beranjak meninggalkan Aland dan Amanda.


"Kalian tidak lupa membawa barang bukti dan tersangka kita 'kan?" Lucy menoleh pada keduanya guna memastikan.


"Sir. Nic sudah mengirimkan bala bantuan, dan mereka sudah membawa tersangka kita ke London. Sekarang mungkin sedang berada di perjalanan. Untuk barang bukti sendiri, senior Al yang membawanya." Amanda menjawab.


"Okay, kerja bagus."


Lucy berlalu menghampiri kamarnya.



...*...


Kantor pusat SGLS, London, Inggris.


Seorang pria berjalan menyusuri lorong yang kini nampak sibuk dengan banyak orang yang berlalu-lalang di sekitarnya.


Bean. Salah satu orang penting sekaligus orang yang sudah sangat lama bergabung dengan sindikat agen mata-mata bernama SGLS.


Setelah debut menjadi agen mata-mata, lalu pensiun lebih awal sebagai agen lapangan, Bean memutuskan untuk membantu Nico—lelaki pendiri SGLS untuk melatih anak-anak baru di akademi pelatihan.


Bean membawa sebuah berkas di tangannya. Ia hendak menemui Nico untuk membahas beberapa hal terkait beberapa misi yang di tangani oleh anak-anak didiknya yang telah terjun langsung di lapangan.


Tok! Tok!


Bean mengetuk pelan pintu ruangan Nico. Setelah terdengar jawaban di balik sana, ia segera mendorong pintunya dan melangkah masuk.


"Bean."


"Sir." Bean membungkuk memberi hormat.


"Ada apa? Apakah ada berita terbaru yang kau dapat?"


"Aku membawa berita terkait misi yang ditangani oleh tim dua dan tiga."


"Lalu, apa hasilnya?" Nico tampak tertarik dengan pembicaraannya.


"Mereka berhasil menangani kasusnya." Bean tersenyum bangga.


"Benarkah?" Nico menatap Bean berbinar. Ia sampai bangkit dari duduknya karena saking senangnya.


"Ya. Aku dengar, mereka sudah berada di perjalanan untuk kembali."


"Kalau begitu, ini harus di rayakan. Bagaimana kalau kita membuat acara penyambutan?"


"Itu ide yang bagus. Tapi… apakah tidak lebih baik kalau kita melakukannya besok, sir?"


"Besok?"


"Ya, setidaknya kita berikan mereka waktu untuk beristirahat selama satu hari."


"Mungkin benar."


...***...