A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 76 - Bullying



"Kau tahu namanya?" tanya Daniel.


"Kalau tidak salah namanya… Beatrix! Ya, Beatrix."


"Beatrix?"


"Kenapa? Apakah ada yang aneh dengan namanya?" tanya Lucy.


"Apa kau kenal dengan gadis itu, Dan?" Jean penasaran.


"Kalau tidak salah aku pernah mendengar namanya. Tapi aku tidak ingat dimana aku pernah mendengarnya…" Daniel terdiam sesaat.


Ia mencoba mengingat nama yang tak asing dalam ingatannya.


Di sisi lain, Lucy dan Jean semakin di buat penasaran olehnya.


"Ah ya, aku ingat!" Daniel menjentikkan jari begitu ingat.


"Kau ingat apa? Apa kau kenal dia?" Jean tak sabar.


"Aku tidak mengenalnya. Tapi aku tahu sedikit informasi mengenai gadis itu…"


"…Kalau tidak salah, gadis itu terlahir dari keluarga salah satu rekan sir. Nic. Namanya adalah… Thomson!"


"…Dia adalah gadis yang sejak kecil haus akan kasih sayang. Sejak ia berusia tiga tahun, ia terbiasa hidup seorang diri…"


"…Kedua orang tuanya, merupakan mata-mata dari dua sindikat berbeda, dan keduanya sibuk dengan urusan masing-masing…"


"…Hal itu, membuat Beatrix tumbuh dengan sifat yang keras. Aku dengar dia bahkan seringkali berbuat banyak masalah di sekolahnya," jelas Daniel.


"Masalah seperti apa?" tanya Jean.


"Melakukan bullying, dan mengintimidasi anak yang lebih lemah darinya…"


"…Biasanya, anak-anak yang menjadi sasarannya adalah anak-anak yang memiliki keluarga yang lengkap dan harmonis." Daniel menatap serius pada kedua sahabatnya.


Lucy tertunduk dengan wajah murung. Ada perubahan ekspresi yang bisa dilihat langsung oleh Jean dan Daniel.


"Aku benci dengan anak-anak yang melakukan penindasan. Itu… membuatku teringat akan kenangan masa lalu mengenai adik sepupuku," gumam Lucy pelan.


"Kau punya adik sepupu?" tanya Jean.


"Iya. Dan saat kami tinggal di Paris dulu, dia seringkali ditindas oleh anak-anak nakal di sana…"


"…Sampai-sampai, setiap kali kami pulang ke rumah, kami pulang dalam keadaan terluka. Adik sepupuku bahkan seringkali menangis dan takut untuk bermain di luar rumah…"


"…Sejak saat itu, aku benci dengan anak-anak yang sering melakukan penindasan. Karena itu membuatku teringat akan adik sepupuku. Makanya, saat aku di sekolah, aku sering sekali membantu mereka yang lemah dan sering menjadi sasaran bullying," jelas Lucy.


"Tampaknya kau sangat menyayanginya," tutur Jean.


"Kami sama-sama merasa kesepian sebab menjadi anak tunggal yang tidak memiliki saudara untuk di ajak bermain. Maka dari itu, kami saling menghibur satu sama lain." Lucy tersenyum kecut.


Hatinya sangat sedih. Ia sangat merindukan Leon.


"Adik sepupumu itu sangat beruntung memiliki kakak sepupu sepertimu." Daniel mengusap pundaknya.



...*...


Tiga Minggu berlalu, Beatrix benar-benar membuat onar dan menindas mereka yang dianggapnya lemah, seperti apa yang diceritakan Daniel.


Sekarang bahkan gadis itu seringkali bersikap semena-mena terhadap semua orang.


Apalagi ketika Bean terus memuji kemampuannya dalam belajar yang amat pesat. Beatrix jadi besar kepala, dan bersikap sok.


Sudah banyak anak yang menjadi bulan-bulanan kebosanannya. Sudah banyak juga anak yang menjadi sasaran amarahnya ketika Lucy dan kedua sahabatnya terus saja menggagalkan kesenangannya dalam menindas yang lemah.


Lucy benar-benar tidak tinggal diam. Dia benar-benar ingin membuat Beatrix kapok.


Alih-alih lelah, Beatrix malah semakin menjadi-jadi, walau Nico seringkali menghukumnya.


...***...