A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 81 - Perpustakaan



Ia tampak murung, kepalanya tertunduk dan kedua tangannya memeluk erat boneka kelinci di tangannya.


Elena kecewa karena yang datang untuk menjemputnya ternyata bukan kedua orang tuanya, melainkan orang lain yang bahkan sama sekali tidak dikenalinya.


"Aku sempat bertemu dengan mereka sebentar. Tapi mereka sudah pergi lagi untuk mengurusi urusan mereka yang belum selesai…"


"…Dan mereka memintaku untuk menyampaikan permintaan maaf mereka untukmu. Maaf karena tidak bisa menempati janji mereka untuk datang dan menjemputmu…"


"…Sebagai gantinya, aku yang di minta untuk menjemputmu dan membawamu pergi dari sini. Kau bisa menunggu orang tuamu kembali, di tempatku," ujar Nico.


Elena terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Jujur saja saat ini hati kecilnya tengah dilema, di antara harus percaya atau tidak dengan perkataan Nico.


Tangan Nico beralih turun. Meraih tangan Elena dan menggenggamnya erat.


Kedua manik matanya semakin dalam memandang Elena.


"Kau akan ikut denganku 'kan?" tanya Nico memastikan.


"Entahlah… aku bingung." Elena bergumam.


"Kau tidak perlu khawatir, karena aku benar-benar bukan orang jahat. Dan lagi, jika kau tinggal di tempatku, kau tidak akan merasa kesepian lagi…"


"…Di sana kau akan memiliki banyak teman yang akan sangat senang berteman denganmu, dan aku janji akan menjagamu segenap jiwaku." Nico mencoba untuk meyakinkan Elena.


Gadis itu balik memandang Nico, kedua matanya memandang lekat Nico.


Lewat pandangan matanya, Elena dapat melihat bahwa Nico tak sedang berbohong padanya.


"Baiklah, aku ikut," final-nya.


Ia tersenyum ke arah Nico. Mendengar itu, Nico merekahkan senyum.


Pandangan matanya lantas berubah lega. Tangannya lalu mengusap puncak kepala Elena.


"Kalau begitu, bersiaplah dan kita pergi sekarang," ucap Nico.


Elena menganggukkan kepalanya. Ia lalu berjalan pergi dari sana untuk bersiap ditemani oleh Sheryl.



...*...


Bean sudah pergi hampir berjam-jam setelah bel istirahat.


Mereka sudah mencoba mencarinya di sekeliling gedung. Tetapi pria yang menjadi guru pelatihnya itu tak kunjung mereka temukan.


Begitu pula dengan Nico yang biasanya tidak pernah meninggalkan ruang kerjanya, sekarang malah menghilang bersamaan dengan guru pelatih mereka.


Jean dan teman-teman sekelasnya yang lain sudah menunggu Bean sejak tadi di ruang latihan.


Namun, mereka sekarang mulai merasa bosan. Karena lama menunggu sesuatu yang tidak pasti.


"Ayo kita ke perpustakaan. Aku ingin belajar lebih banyak hal mengenai dunia mata-mata," usul Lucy.


Jean dan Daniel menoleh serentak.


"Ayo. Aku juga bosan terus duduk di sini, aku ingin mencari beberapa buku yang menarik untuk di baca." Jean menyetujui.


"Kalau begitu aku ikut. Setidaknya dengan duduk di perpustakaan, aku bisa dapat ketenangan. Sekalian aku juga sedang ingin menghindari mereka." Daniel melirik ke arah pintu.


Di sana para fans-nya yang tengah berlatih di luar kelas sedang menatap ke arahnya.


Jujur tatapan mereka mengganggunya.


"Ayo pergi!" Jean bangkit bersamaan dengan Lucy dan Daniel.


Ketiganya lalu melangkah menuju ruang perpustakaan yang berada di lantai tiga gedung tersebut.


...*...


"Kau sudah temukan buku yang ingin kau baca?" tanya Jean pada Lucy yang sejak tadi sibuk berkeliling di sekitar rak-rak yang penuh dengan buku disekelilingnya.


Rak-rak itu berjejer rapi di sana.


...***...