A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 27 - Hot chocolate



Aami beranjak bangkit lalu turun menuju lantai bawah untuk membantu Zabrina.


Caroline mulai mengambil alih kapas yang tadi di taruh oleh Aami, dan mulai mengobati Liana.


Liana dan Leon diam tak bersuara. Keduanya menundukkan kepalanya tak berani untuk memandang Caroline, karena mereka tahu jika wanita itu akan segera memarahi mereka karena pergi tanpa izin sampai terluka.


"Kau main di luar lagi?" tanya Caroline membuat keduanya terkejut.


Leon dan Liana beradu pandang, lalu keduanya menatap Caroline yang sekarang menatap ke arah mereka.


Liana dan Leon lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Lidah mereka terasa kelu untuk berkata-kata.


Caroline menghela napas ketika mengetahui jawaban dari kedua anaknya.


"M… maaf tante, jangan memarahi Liana." Leon berucap cepat memotong, sebelum Caroline mulai memarahi mereka.


Dengan tangan gemetar dan kepala tertunduk, ia mencoba memberanikan diri walau suaranya bergetar.


"L… Liana terluka, gara-gara menolongku," sambungnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca hampir menangis.


"Ka… kalau tante ingin marah, marahi saja aku," lirihnya.


Leon benar-benar hampir menangis. Tapi dengan sebisa mungkin tangisannya, ia tahan.


Caroline beranjak bangun dari posisinya, ia berdiri di depan Leon, membuat anak itu semakin ketakutan.


Liana mulai khawatir, ia takut jika mamanya akan memarahi Leon. Mendadak Caroline berjongkok dihadapannya.


Jantungnya mulai berdegup kencang, Leon sebisa mungkin mempersiapkan diri untuk dimarahi Caroline.



Tep!


Caroline mengusap rambut Leon, membuat keduanya menatap heran padanya.


"Kata siapa tante akan memarahi Liana?" ucap Caroline lembut. Leon semakin bingung.


"Ja… jadi tante tidak marah?"


"Tidak. Lagipula tante tahu, kau pasti di ganggu lagi oleh anak-anak nakal itu 'kan, dan Liana hanya berusaha untuk menolongmu?"


Caroline tahu apa yang terjadi, hal ini bukan sekali atau dua kali terjadi. Tapi sudah sering terjadi pada keduanya setiap kali mereka berkunjung ke rumah ibu mertuanya di Prancis.


Liana dan Leon selalu di ganggu oleh anak nakal yang tinggal di rumah sekitar tempat mereka tinggal, dan saat mereka pulang, keduanya pasti akan pulang dengan luka.


Leon mengangguk pelan. Tangan Caroline beralih, sebelah tangannya mengusap pipi Leon yang kini di tempeli plester yang basah akibat dia menangis. Ia menyeka air matanya.


"Jangan menangis, lagipula tidak akan ada yang memarahi anak yang sangat menggemaskan seperti kalian."


"Ta… tapi, jika nenek dan kakek tahu, mereka pasti akan memarahi kami karena kami sudah bersikap nakal."


"Leon, dengarkan tante. Kakek dan nenek itu marah karena mereka tidak ingin kau ataupun Liana terluka. Mereka marah karena mereka ingin memberikan peringatan agar kalian lebih berhati-hati dalam bermain, mereka marah bukan karena kalian bersikap nakal. Tapi hanya tidak ingin kalian sampai terluka. Jadi kalau kakek marah, itu tandanya mereka sayang pada kalian berdua," jelasnya.


"B… benarkah itu tante?"


Caroline tersenyum hangat ke arahnya.


"Iya. Jadi sekarang, kau jangan menangis lagi. Karena tante akan pastikan tidak akan ada orang yang akan memarahimu atau Liana, okay?"


Leon lantas menyeka sisa air mata yang membasahi pipinya.


"Sekarang lebih baik kau minum hot chocolate yang tadi di berikan Aami, dan jangan menangis."


"Iya tante," ucap Leon.


Caroline mengambil secangkir hot chocolate lalu memberikannya pada Leon.


...***...