
Lucy membuka pelan ruang kerja mereka. Di tangannya, ia memegang sebuah berkas berisi informasi yang sebelumnya diberikan.
Ketiganya duduk di sofa empuk di sana. Mereka duduk mengelilingi meja kaca yang ada.
Lucy kemudian menaruh berkas di tangannya ke atas meja. Membukanya agar isi dari berkas itu dapat mereka lihat dengan jelas.
Di dalam sana terdapat beberapa lembar kertas berisi informasi mengenai calon target pertama mereka.
Dalam berkas itu juga sudah dijelaskan informasi kecil lainnya seperti siapa nama targetnya, dimana dia tinggal dan hal-hal lain yang dapat membantu misi mereka, selain itu dalam berkas itu juga sudah terdapat foto calon target yang akan mereka mata-matai.
Beatrix meraih salah satu foto yang ada. Ditatapnya lekat sosok pria berjas yang berada di foto tersebut.
Ia tersenyum meremehkan begitu melihat sosok pria di foto yang kini digenggamnya.
"Dia bahkan tidak terlihat berbahaya sama sekali, memang apa istimewanya dia? Sampai coach berpikir berkali-kali sebelum memberikan misi ini pada kita?" Sebelah sudut bibir gadis itu terangkat.
Memang benar dengan apa yang di katakan Beatrix. Pria itu tampak tidak berbahaya sama sekali. Namun mereka tentunya tidak bisa menilai sesuatu dari penampilannya.
Ibaratnya sebuah buku. Untuk tahu suatu buku itu bagus atau tidaknya, di nilai berdasarkan isi, bukan sampulnya.
"Terkadang apa yang kita lihat bisa saja berbeda dengan apa yang sebenarnya. Kita jangan terkecoh dengan penampilannya, karena bisa saja penampilannya ini hanya sebuah alibi untuk menutupi kejahatannya 'kan?" kata Lucy.
Beatrix meliriknya sekilas, sebelum kemudian menaruh kembali foto di tangannya ke tempat semula.
Sejurus kemudian, ia mulai melihat data-data dari calon target mereka. Dari kertas yang diambilnya, Beatrix membaca semua informasi data diri dari pria tersebut.
Fokus Lucy beralih pada Elena yang baru saja berucap demikian. Ia menepuk pelan pundaknya, kemudian dengan senyuman ia berkata, "kau tidak perlu khawatir, aku yakin kita pasti akan bisa menyelesaikan misi ini…"
"…Dan kau juga harus yakin dengan kemampuanmu. Jika kita bekerja sama, maka kita akan bisa menyelesaikan misinya dengan baik," ucapnya. Mencoba membuat Elena percaya bahwa mereka pasti bisa melewati ini semua dan menjalankan misi pertama mereka.
Elena termangu, kedua manik matanya memandang lekat ke arah Lucy yang kini tersenyum ke arahnya.
Jujur dihatinya ia merasa ragu dan takut kalau sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka. Namun sebisa mungkin ia berusaha berpikir positif dan percaya akan ucapan Lucy bahwa mereka akan berhasil menyelesaikan misi ini dengan kemampuan mereka.
"Baiklah, aku akan berusaha," sahut Elena sambil balas tersenyum ke arahnya.
"Aku senang mendengarnya. Kau memang harus percaya akan kemampuanmu sendiri."
Mereka berdua kembali fokus untuk mengecek semua informasi yang diberikan Bean pada mereka.
Ketiganya harus benar-benar teliti untuk membaca setiap detail informasi yang ada, agar ketika mereka terjun langsung ke lapangan, mereka sudah memiliki persiapan yang cukup matang.
"Baiklah, mari kita susun rencana sebelum kita beraksi!" Lucy menatap bergantian kedua rekannya.
Mereka mengangguk.
...***...