
"Semoga saja Elena tidak apa-apa," gumam Jean penuh harap.
"Ya, semoga." Daniel menyahuti.
"Aku heran, kenapa anak-anak yang lain hanya diam dan menonton?…"
"…Kenapa tidak ada salah satu pun di antara mereka yang mau membantu Elena atau setidaknya menghentikan Beatrix?…"
"…Mereka bahkan diam dan menonton seakan-akan mereka tengah melakukan atraksi sulap?" Lucy bersungut-sungut.
"Mereka tidak mau membantu Elena karena bagi mereka, Elena adalah orang yang sombong dan tidak pernah mau berbicara atau menyapa mereka, begitu menurut yang aku dengar," tutur Jean.
"Siapa yang berkata seperti itu?"
"Waktu itu siapa, ya? Aku tidak ingat siapa orangnya. Karena saat itu, aku hanya mendengarnya sekilas dari orang-orang yang berjalan di belakangku…"
"…Itu pun saat aku berjalan di koridor. Ketika aku berbalik untuk melihat siapa yang bicara, mereka sudah berbelok ke toilet. Karena saat itu, aku sedang buru-buru, jadi aku tidak berusaha mencari tahu," kata Jean.
"Sebenarnya Elena bukan gadis yang sombong…"
"…Dia hanya tidak terlalu pandai bergaul saja, karena semenjak kedua orang tuanya menitipkan dia ke panti asuhan, dia agak kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya…"
"…Di tambah lagi, dia orang yang pendiam, maka dari itu tidak terlalu banyak bicara," gumam Lucy.
"Ya, aku juga mengerti." Jean membenarkan dengan disertai anggukan kepala Daniel.
Saat mereka bertiga sedang berbincang, dokter keluar dari dalam ruang kesehatan.
Hal itu spontan membuat fokus mereka secara bersamaan beralih ke arahnya.
Ketiganya refleks bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri dokter untuk menanyakan keadaan Elena.
"Dokter, bagaimana dengan keadaan Elena di dalam?" tanya Lucy dengan raut wajah cemas.
"Lukanya cukup parah. Tapi sudah saya tangani, dan saya obati. Akan memakan waktu cukup lama untuk penyembuhan sampai keadaannya benar-benar membaik. Untuk sementara waktu, dia harus banyak beristirahat agar cepat sembuh," jelas dokter.
"Apakah Elena sudah sadar? Tadi 'kan, dia sempat pingsan saat kami bawa dia kemari." Jean bertanya.
"Apa kita bisa menjenguknya, dok?" tanya Daniel.
"Silahkan. Asalkan kalian tidak berisik dan jangan membuat keributan."
"Baiklah dok, terima kasih."
"Kalau begitu, saya permisi."
Dokter melangkah meninggalkan Lucy, Jean dan Daniel di depan pintu.
Detik berikutnya, mereka bertiga berjalan memasuki ruang rawat Elena.
Tiba di dalam, mereka bertiga duduk di kursi yang tersedia di sana. Ketiganya duduk di samping ranjang yang kini diisi oleh Elena yang masih belum sadarkan diri dari pingsannya.
Lucy memandang gadis itu lekat. Kedua manik mata birunya melucuti wajah Elena. Menatap wajah Elena dengan begitu intens.
Melihatnya seperti ini, membuat aku teringat akan Leon, batin Lucy.
Wajahnya tampak murung.
Jean menepuk pundak Lucy pelan, saat sadar ekspresi wajah sahabatnya itu berubah murung. Hal itu langsung membuat Lucy menoleh ke arahnya.
"Kau kenapa?" tanya Jean.
"Aku hanya teringat akan seseorang ketika melihat keadaan Elena yang seperti ini…"
"Siapa? Adik sepupumu?" Daniel menebak.
Lucy mengangguk, mengiyakan ucapan Daniel.
"Dulu, saat adik sepupuku di tindas sampai tubuhnya terluka… dia hampir mirip seperti Elena. Hanya bisa diam dan menangis…"
"…Lalu saat dia menangis seperti itu, aku selalu memarahinya kemudian mengingatkannya agar dia tidak boleh lemah seperti itu…"
"…Lalu dia mengangguk…"
...***...