
"Jean, Daniel, Sheilla! Berhenti kalian!" Nico berteriak seraya terus berlari mengejarnya.
"Sorry, sir…" Jean dan Daniel melirik sekilas ke arahnya. Tapi mereka tak ingin berhenti, apalagi ketika mereka menyadari di belakang sana, ada Nico yang sedang mengejar mereka. Jika mereka sampai tertangkap, maka hukuman tengah menanti mereka.
Sheilla berlari semakin jauh dari jangkauan Jean, Daniel, dan Nico. Ia tersenyum puas ketika ia pikir ia berhasil meloloskan diri dari mereka.
Brukk!
Untuk yang ke sekian kalinya, mereka bertabrakan. Lucy dan Sheilla terjerembab jatuh ke lantai ketika mereka bertabrakan dengan seorang lelaki di sana sampai mereka saling terpental.
"Arghh!" Mereka meringis kesakitan.
"Kalau jalan itu lihat-lihat!" teriak lelaki itu seraya mengusap pantatnya yang terasa sakit.
"Kau juga seharusnya lihat-li…" ucapan Sheilla terpotong ketika ia membuka matanya dan menatap sosok lelaki yang ditabraknya.
"Kau!" Keduanya berucap serentak dengan raut wajah terkejut.
Detik berikutnya, wajah mereka berubah kesal. Mereka berdiri bersamaan, begitu juga dengan Lucy yang kini berdiri dan menatap ke arah mereka dengan raut wajah heran.
"Lucy kau tidak apa-apa?" tanya Sheilla dengan raut wajah khawatir. Lucy menggeleng pelan.
"Kau sendiri baik-baik saja kan?" Lucy balik bertanya.
"Ya, aku baik-baik saja." Sheilla menyahuti. Pandangannya kembali beralih pada Grayson yang baru saja ditabraknya hingga terjatuh.
"Ini semua gara-gara kau. Kau menghalangi jalanku!" tuduhnya.
"Apa kau bilang? Bukankah seharusnya aku yang marah? Kau sendiri yang berlari tanpa melihat-lihat. Sudah jelas-jelas kau yang salah, malah kau juga yang marah. Dasar menyebalkan!" Grayson berdecak sebal.
"Apa kau bilang? Kau yang menyebalkan!" Sheilla tak mau kalah.
Tadi dirinya harus terlibat perdebatan antara Daniel dan Jean. Lalu sekarang, ia harus terlibat perdebatan antara Sheilla dan Grayson.
Lucy terdiam untuk sesaat, lelaki ini memiliki wajah tampan yang tak kalah dari Daniel. Namun, ia belum pernah melihatnya sama sekali. Sepertinya Grayson yang kini berdebat dengan Sheilla baru saja tiba.
Tak lama kemudian Daniel dan Jean sampai dihadapan Lucy membuat ia beralih pandang pada mereka.
Keduanya tampak ngos-ngosan karena berlari sejak tadi.
Mereka mencoba mengatur napas agar kembali normal. Belum sampai beberapa menit, Lucy kembali diperebutkan oleh keduanya.
"Lucy milikku sekarang!" Daniel memeluk erat tubuh Lucy membuat ia tak bisa bergerak.
"Dia milikku. Lepaskan dia!" Jean tak terima, ia mencoba melepaskan Lucy dari dekapan tubuh Daniel, tapi selalu berakhir gagal.
Di sisi lain, Sheilla dan Grayson masih terus berdebat tidak ada hentinya. Seketika kelimanya menjadi bahan tontonan banyak orang di sana.
Nico tiba, namun kehadirannya dihiraukan mereka semua.
Ia sangat marah ketika melihat tingkah kekanak-kanakan kelima anak remaja berusia tiga belas tahun-an dihadapannya itu.
"Berhenti!" Nico memekik membuat kelimanya terdiam dalam seketika dan serentak menatap ke arah datangnya suara.
Di sana, mereka mendapati Nico sang ketua pimpinan sekaligus pemilik sindikat mereka, sedang berdiri dengan raut wajah sebal.
Pria itu berkacak pinggang dan menatap tajam ke arah mereka.
"Berjejer lalu berdiri yang tegak!" titahnya dengan penuh ketegasan. Kelimanya bergegas mengikuti instruksi Nico dengan tangan yang gemetar begitu mendengar suaranya yang menakutkan.
"Sekarang, ikut!"
...***...