
Bean menaruh map di tangannya ke hadapan Nico.
"Aku berhasil menemukannya! Dalam berkas ini, aku sudah mendapatkan cukup bukti bahwa dia masih benar-benar hidup. Dan sekarang berada di tempat yang aman!" jelas Bean.
Air muka Nico berubah senang begitu mendengar penjelasan dari Bean mengenai pencariannya selama ini, akhirnya membuahkan hasil.
"Apakah kau serius? Kau berhasil menemukannya, dan kau punya buktinya?" tanya Nico.
"Sangat. Aku sangat yakin seratus persen. Kalau anda tidak percaya, silahkan lihat sendiri berkasnya. Di dalam sana, aku sudah menemukan bukti bahwa gadis itu masih hidup dan sekarang berada di tempat yang aman," ujar Bean.
Nico menyambar map kuning dihadapannya, lalu membuka dan menatap hasil penemuan dari Bean.
Semua pencocokan dan riset yang di buat Bean benar-benar sesuai dengan yang ia harapkan.
Nico tersenyum, ia lalu menatap Bean dengan mata berbinar.
Detik berikutnya, Nico beranjak bangun dari kursinya.
"Ayo kita jemput dia sekarang. Untuk sisanya, nanti kau jelaskan padaku di jalan. Tentang bagaimana kau bisa menemukannya!" ucap Nico penuh semangat.
"Baik, sir. Kalau begitu, ayo kita pergi dan menjemputnya." Bean beranjak keluar dari sana, di ikuti Nico dibelakangnya.
Di koridor, keduanya berjalan beriringan.
Raut wajah Nico benar-benar menampakkan bahwa dirinya tengah benar-benar senang mendapatkan kabar yang sangat bagus.
Setelah hampir lima tahun lamanya mereka mencari, akhirnya mereka menemukan gadis yang mereka cari.
Sepertinya, kali ini Dewi Fortuna sedang berpihak pada mereka.
...*...
"Apakah benar di sini tempatnya?" Nico menatap bangunan besar dihadapannya.
Saat ini mereka sudah tiba di sebuah panti asuhan besar yang jaraknya sangat amat jauh dari keramaian kota.
Butuh waktu hampir dua jam untuk mereka bisa sampai di tempat ini, setelah melewati jalan yang amat berkelok dengan jalanan yang rusak dan berbatu, akhirnya mereka tiba juga.
Walau tempat itu berada di tempat yang jauh dari kota, tapi bisa dikatakan tempatnya cukup bagus.
Bangunannya besar, berhiaskan pagar hitam yang tinggi menjulang.
Di bagian samping panti asuhan itu, Bean dan Nico dapat melihat sebuah taman bermain yang luas.
Di bagian lainnya, mereka melihat taman penuh bunga yang bermekaran indah dan Berwarna-warni.
Halaman panti asuhan itu dipenuhi rumput-rumput yang tingginya mencapai sepuluh centimeter dari tanah.
Tempat itu sepi dan di beberapa bagian depannya kotor.
Tampaknya, panti asuhan ini jarang dikunjungi pengunjung seperti mereka.
Dan tampaknya, tidak ada banyak anak yang diadopsi dari yayasan tersebut.
Bean keluar dari sana, lalu berdiri tepat di samping Nico.
Kedua manik matanya menatap ke arah bangunan besar di balik pagar hitam yang masih tertutup.
"Ya, memang benar ini tempatnya. Aku dengar, Peter dan Valentine memberikan nama samaran untuk anak mereka, Elena. Lalu menitipkannya di tempat ini agar ia terhindar dari bahaya," jelas Bean.
"Baiklah, ayo masuk. Aku penasaran apakah memang benar Peter menitipkan anaknya di sini." Nico kembali masuk ke dalam mobilnya.
Sementara itu, Bean membuka pintu gerbangnya, agar mobil mereka bisa lewat.
Begitu ia selesai, Bean kembali ke dalam mobil, lalu mengemudikannya masuk ke dalam sana.
Mereka segera masuk setelah memarkirkan mobilnya di halaman depan panti.
...***...