A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 35 - Melamun



Aami tak ingin mendengarkan ucapannya.


"Zut!" umpatnya begitu Aami pergi meninggalkannya sendiri di dapur.


(Sial!)



...*...


Paris, Prancis, saat ini.


2019


Lucy melambaikan tangannya di depan Aami yang entah mengapa senyum-senyum sendiri dengan wajah merona.


"Aami?" Lucy kembali memanggilnya, dan kali ini berhasil membuat wanita itu tersadar dari lamunannya.


"Huh? Ya? Kenapa, nona?" katanya gelagapan.


"Kau kenapa? Kenapa kau melamun?" Lucy menaruh cangkir dalam genggamannya.


"Melamun? Itu… tidak. Aku tidak melamun," elaknya.


"Wajahmu juga tiba-tiba berubah merah, apakah kau baik-baik saja? Apa kau demam?" Lucy memperhatikan wajahnya yang merah padam.


"A… aku baik-baik saja. Hiraukan saja. Omong-omong tadi kita sedang membahas tentang apa?" Aami mengalihkan pembicaraan.


Berbicara tentang masa lalu bersama Lucy membuatnya teringat akan kejadian memalukan yang sampai saat ini sulit untuk ia lupakan. Kejadian dimana Aami dengan bodohnya menerobos masuk ke dalam kamar Theodore dan Caroline ketika keduanya sedang memadu kasih.


"Aku baru saja berkata kalau aku harus pergi sekarang."


"Secepat itu, nona? Tapi, kenapa? Kita saja bahkan belum sempat makan bersama atau jalan-jalan. Setidaknya tinggallah hingga jam makan siang."


"Aku benar-benar tidak bisa. Siang ini, aku sudah janji untuk kembali ke London. Pekerjaanku di Paris sudah selesai."


"Apa?" Aami menampakkan raut wajah kecewa. "Sangat di sayangkan, padahal aku masih sangat ingin menghabiskan lebih banyak waktu daripada sekedar minum teh dan memakan camilan bersama nona."


"Aku juga berharap bisa tinggal lebih lama. Tapi sayangnya tidak bisa." Lucy beranjak dari tempat duduknya.


"Nona sungguh akan pergi sekarang?"


"Kalau begitu, tunggu sebentar. Biar aku ambilkan sesuatu untuk nona." Aami berlari menuju arah dapur untuk mengambil sesuatu.


Lucy hanya diam memperhatikan Aami yang langkahnya terus menjauh hingga sosoknya hilang di balik ruangan lain yang dilihatnya.


Tidak lama kemudian, Aami kembali dengan sebuah bingkisan ditangannya. Bingkisan itu di balut dengan sebuah tote bag yang ukurannya cukup besar.


"Ini untuk anda. Aku harap nona bisa kembali ke Prancis dan menemuiku lain kali saat anda berlibur." Aami menyodorkan tote bag itu pada Lucy.


"Apa ini?" Lucy menatap isinya. Ada sebuah bingkisan di dalamnya yang entah apa isinya, Lucy tidak bisa melihatnya.


"Nona akan tahu begitu anda membukanya nanti."


"Baiklah, terima kasih."


"Bukan masalah. Lain kali, jangan sungkan untuk berkunjung menemuiku di sini. Bagaimanapun, rumah ini akan selalu menjadi rumah nona dan tuan muda."


"Ya. Kalau begitu aku pamit."


"Biar aku antarkan nona hingga ke depan."


Aami dan Lucy beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Aami mengantarkan Lucy hingga ke halaman depan.


Di sana, mereka melihat Ancel yang duduk dengan cucunya.


Ancel menawarkan diri untuk mengantarkan Lucy secara langsung hingga ke bandara. Tapi, Lucy menolaknya cepat. Ada hal yang harus ia selesaikan sebelum berangkat.


Ancel lalu memerintahkan supirnya untuk mengantarkan Lucy hingga ke hotel yang ditujunya.


Lucy terdiam dengan pandangan mata menatap keluar jendela.


Supir Ancel yang ditugaskan mengantarkannya duduk di kursi kemudi sambil terus fokus pada jalan yang ia lalui.


Bertemu dengan Aami dan Ancel membuatku seakan kembali ke masa lalu, batin Lucy.


Fokus Lucy beralih. Ia baru ingat kalau ia harus mengabari Felix akan kembali ke hotelnya.


...***...