
"Woah… tempat apa ini?" Lucy berdecak kagum begitu tiba di dalam sana.
Tempatnya begitu ramai dengan banyak sekali orang dewasa yang beraktivitas di dalamnya.
"Sial. Kemana dia pergi?!"
Lucy menoleh ke arah datangnya suara saat ia mendengar suara lelaki tadi.
Ia membulatkan mata begitu sadar pria itu ada di luar sana.
Aku harus sembunyi secepatnya!
Lucy bergerak cepat, melangkah pergi ke dalam gedung itu.
Ia berjalan dengan biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Lucy hanya berharap tidak ada yang menyadari keberadaannya. Tapi di luar dugaan, orang-orang dewasa yang sejak tadi bergerak di sekitarnya langsung menoleh saat melihat ia datang.
Beberapa di antara mereka berbisik ketika sadar akan kedatangannya. Beberapa bahkan menatapnya lekat tanpa berusaha menahan langkahnya yang semakin jauh ke dalam gedung.
Ini sebenarnya tempat apa? Kenapa mereka semua menatapku seperti itu? Dan lagi… kenapa mereka tidak berusaha mengusirku saat tahu aku masuk tanpa izin? Berbagai pertanyaan muncul di benaknya.
"Dia sendiri? Dimana orang tuanya?"
"Apakah dia seorang yatim-piatu?"
"Dia cantik."
"Aku merasakan aura aneh ketika dia berjalan melintas di depan kita. Maksudku, auranya seperti seseorang yang selalu percaya diri dan begitu kharismatik."
Bisikan demi bisikan di dengarnya. Lucy masih berusaha memproses setiap kejadian yang dialaminya.
Ia terus melangkah menyusuri koridor. Sampai kemudian, ia secara tidak sengaja menabrak seorang wanita yang berjalan dari arah yang berlawanan dengannya.
Brukk!
Lucy menabrak kakinya. Ia meringis memegangi keningnya yang terbentur cukup keras pada kami wanita itu.
"Oh astaga, aku benar-benar minta maaf, sayang." Wanita itu berucap lembut sambil menunduk menatapnya.
Lucy beradu tatap dengan wanita cantik berambut kecokelatan yang berdiri dihadapannya.
Wanita itu mengenakan jas berwarna hitam, lengkap dengan celana berwarna senada, dan sebuah berkas berwarna kuning di tangannya.
Wanita itu berjongkok dihadapannya, mensejajarkan posisi mereka.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.
"Aku baik-baik saja," tutur Lucy pelan.
"Syukurlah, aku lega mendengar kau baik-baik saja." Wanita itu tersenyum simpul.
"Omong-omong dimana kedua orang tuamu? Kenapa kau sendirian?" Wanita itu, kembali bertanya saat sadar Lucy datang seorang diri.
"Aku tidak bersama dengan orang tuaku," ucap Lucy dengan suara pelan.
Memangnya kenapa aku harus bersama dengan papa dan mama? Aku 'kan baru saja pulang, dan hendak bertemu dengan mereka, batinnya.
"Astaga, bagaimana kalau kau sampai tersesat? Memangnya kenapa orang tuamu tidak bisa datang? Apakah mereka sibuk?"
Lucy mengangguk pelan sebagai jawaban. Masih dengan wajah polosnya yang tidak mengerti apa-apa.
"Kau benar-benar malang. Biar aku antarkan kau hingga bertemu dengan teman-temanmu." Wanita itu bangkit dari posisinya, meraih tangan Lucy dan membawanya pergi dari sana.
Lucy berjalan beriringan dengan wanita yang entah siapa namanya. Ia tak banyak bicara dan terus melangkah. Sementara itu, wanita yang sekarang bersamanya terus saja berbicara mengenai dirinya.
Lucy menghiraukan setiap kalimatnya yang membingungkan dan lebih fokus menatap ke sekeliling.
Di sepanjang jalan, Lucy menemukan banyak sekali hal yang membuatnya takjub. Mulai dari ruangan penuh alat-alat canggih, kendaraan, beberapa orang yang sedang berlatih beladiri, hingga beberapa orang yang tampak saling berlomba menghancurkan target mainan yang ada di hadapan mereka.
Tempat apa ini?
...***...