
Tenang, tenang. Maria membatin. Berusaha menenangkan diri.
"Baik akan kumulai," ujar Maria yang kemudian mengeluarkan kertas-kertas untuk presentasinya. Saat ini, ditangannya. Ia sudah memegangi kertas berisi gambar desain kostum yang telah dibuatnya.
Maria memulai persentasinya, menjelaskan setiap detail desain kostum sekaligus dengan menjelaskan setiap kegunaan dari kostum yang dirancangnya.
Kostum yang dibuatnya tampak fleksibel, dengan bahan yang ringan tapi sangat kuat dan tahan terhadap api.
Di tambah dengan bahan yang membuat penggunanya tidak merasa kepanasan walau warna kain yang digunakan adalah warna hitam.
Belum lagi beberapa bagian kecil yang sengaja ditambahkan untuk mendukung lancarnya misi.
...*...
"Huft~" Maria menghela napas. Ia menatap wajahnya lewat pantulan cermin di sana.
Saat ini dia berada di toilet. Maria baru saja selesai melakukan presentasinya dan ia merasa lebih lega setelah semuanya selesai.
"Syukurlah semuanya berjalan lancar. Aku sempat khawatir karena aku kira ini akan lebih sulit dari yang aku bayangkan. Tapi ternyata ini tidak terlalu sulit. Ini lebih seperti ketika aku menjelaskan desain kostum yang kubuat pada ibu." Maria bergumam pelan.
"Aku senang karena berhasil mendapatkan banyak pesanan. Semoga ini akan menjadi langkah awalku menjadi seorang desainer seperti ibuku." Maria tersenyum simpul.
Lucy berjalan menghampiri tempat Maria berada. Dia kemudian berdiri tepat disampingnya.
Lucy mencuci tangannya dengan air dan sabun.
Fokus Maria yang semula memandang ke arah cermin seketika teralih ketika kedua manik matanya menangkap sosok Lucy di sampingnya.
"Kau…" Maria memandanginya. Lucy refleks mendongak, menatap Maria lewat cermin.
"Kau?" ucap Lucy dengan wajah kaget. Ia baru menyadari kalau yang sejak tadi berdiri disampingnya adalah Maria. Gadis yang sempat bertabrakan dengannya di koridor.
"Dan kau adalah gadis yang tadi melakukan presentasi untuk kostum yang akan kau buat 'kan?"
"Ternyata kau masih mengingatku. Senang sekali mendengarnya."
"Ya aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi, dan ternyata kau masih ingat denganku."
"Tampaknya takdir memang sudah berencana untuk mempertemukan kita, haha…"
"Sepertinya begitu, hehe…"
"Oh ya, kebetulan karena kau ada di sini. Aku ingin memberikan ini padamu." Maria merogoh kantong pakaian yang dikenakannya. Menyodorkan secarik kertas ke arah Lucy.
Lucy bergegas mengelap tangannya yang baru saja dibilas dengan air bersih. Ia lalu meraih kertas yang di berikan Maria.
Ditatapnya kertas berwarna merah muda itu. Kertasnya cantik dengan ukiran indah berwarna keemasan, bagian ukiran itu dapat dirasakan ketika bersentuhan langsung dengan kulitnya.
Belum lagi aroma harum yang muncul dari kertas itu ketika dicium dan jika diperhatikan lebih teliti lagi, aroma yang timbul dari kertas itu memiliki bau yang khas aromanya.
Aroma yang memberikan kesan mewah.
"Ini…" Lucy membalik kertas itu.
"Itu adalah kartu namaku, disitu tertulis alamat tempat kerjaku. Jika kau memiliki waktu, jangan lupa untuk mampir. Aku akan sangat senang jika kau mau mampir. Jadi datanglah. Sekalian, aku juga ingin mengucapkan terima kasih padamu karena kau sudah membantuku tadi."
"Baiklah, lain kali saat aku punya waktu, aku akan mampir."
"Aku akan menunggu." Maria tersenyum ke arahnya. Lucy hanya mengangguk sebagai jawaban. "Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa lagi." Ia beranjak.
"Sampai jumpa."
...***...