
"Apa perlu, aku jelaskan semuanya padamu?" ucapnya.
"Aku mohon, lepaskan aku…"
...*...
"Dia duduk sendiri lagi," gumam Jean seraya melirik ke arah Elena yang duduk seorang diri di kantin.
Gadis itu duduk di salah satu meja paling belakang yang berada tepat di dekat jendela.
Wajahnya dan pergelangan tangan sebelah kirinya ditempeli plester.
Gadis itu makan dengan sangat lahap dan sejak tadi, tatapannya terus fokus pada makanannya.
Ia tidak menghiraukan orang-orang yang ada disekitarnya.
"Aku benar-benar merasa kasihan padanya. Kalau tadi kita tidak datang tepat waktu mungkin saja Beatrix sudah menghilangkan nyawanya." Daniel menimpali.
Ia kembali fokus pada makanan yang sejak tadi tersaji dihadapannya.
"Benar. Aku jadi penasaran kenapa Beatrix terlihat sangat membenci Elena? Padahal sejak awal Elena datang, dia tidak pernah sekalipun membuat masalah…"
"…Elena lebih banyak diam dan jarang sekali berinteraksi dengan teman-teman yang lain…"
"…Jika tidak dengan coach Bean dan sir. Nic, dia tidak pernah berbicara dengan siapapun." Jean menelan makanannya.
Ia lalu meraih jus yang dipesannya lalu meminumnya perlahan.
"Beatrix melakukan itu, karena sejak awal hobinya adalah menindas orang-orang yang terlihat lemah di matanya. Maka dari itu dia bersikap begitu padanya." Daniel melahap makanannya.
"Tapi mengenai ucapanmu tentang Elena yang tidak pernah berbicara dengan yang lain kecuali sir. Nic dan coach Bean memang benar," sambungnya.
"Aneh sekali 'kan?"
"Kudengar hari ini, dia tidak akan datang. Kau tahu sendiri 'kan, hari ini adalah hari spesial karena kelulusan sekolahnya. Jadi hari ini kedua orang tuanya memutuskan mengajak Lucy jalan-jalan untuk merayakan kelulusannya."
"Oh… pantas saja dia tidak datang."
"Ahh… aku iri padanya. Andai saja orang tuaku seperti orang tuanya. Pasti menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama dengan keluarga. Tapi sayangnya, orang tuaku lebih sibuk dengan pekerjaan mereka di kantor." Air muka gadis itu berubah cemberut.
Ia merasa sebal dengan kedua orang tuanya yang meski keduanya sudah pensiun dari pekerjaan mata-mata mereka, tapi tetap sibuk dengan pekerjaan kantornya.
Padahal Jean tahu betul kalau harta kekayaan keluarganya sangat banyak dan tidak akan habis dalam waktu singkat.
Tapi, kedua orang tuanya tetap saja sibuk mencari uang dan mengumpulkan hartanya menjadi makin menggunung.
Daniel melirik Jean yang berada dihadapannya.
Gadis itu cemberut dan mulai diam sambil memainkan makanannya. Tampaknya selera makan Jean hilang begitu saja.
"Sudah jangan cemberut. Bagaimana kalau setelah ini, kita pergi?" Daniel mencoba menghiburnya. Jean menoleh ke arahnya.
"Pergi kemana? Kita saja bahkan harus kembali latihan setelah ini," sahut Jean.
"Setelah ini, kita free. Coach Bean bilang karena hari ini sebagian siswa tidak masuk karena acara kelulusan dan acara keluarga, jadi kita bebas hari ini."
"Benarkah?"
"Ya. Makanya, bagaimana kalau setelah ini, kita pergi ke taman bermain? Aku yang traktir!"
"Memangnya kau punya banyak uang sampai ingin mentraktirku?"
"Kau meremehkanku karena aku tidak sekaya dirimu, huh? Berani sekali kau. Asal kau tahu saja ya, aku terlihat seperti orang biasa karena aku tinggal dengan kakek dan nenekku…"
...***...