
"Baiklah langsung saja, sebenarnya aku ingin mengadakan acara penyambutan yang seperti selayaknya. Tetapi tidak di sangka orang yang akan kusambut justru malah langsung membuat kerusuhan." Nico melirik ke arah Lucy, Aland, Amanda, Jean, dan Daniel yang kini duduk tepat di sebelah kiri dan kanan meja dekat dengannya.
Mereka semua tersenyum kaku ke arah Nico. Hanya Ethan dari tim tiga yang tidak ikut-ikutan.
"Yah… biarpun begitu, kalian tetap layak dapat sambutan," sambungnya sambil tersenyum.
"Lucy, Aland, Amanda, Daniel, Ethan, Jean. Selamat atas keberhasilan misi kalian dan selamat datang kembali." Nico memberikan selamat.
"Terima kasih, sir." Mereka semua berucap serentak sambil tersenyum ke arah Nico, Bean, dan anggota tim satu.
"Sekarang, ayo kita pergi sarapan bersama untuk merayakan keberhasilan sekaligus kembalinya kalian!" Bean mengajak semua orang.
"Selain itu, untuk seharian ini. Kalian akan kuberikan libur! Jadi, mari kita nikmati seharian ini dengan bersenang-senang bersama!"
"Yeay!" Semua orang bersorak gembira.
Mereka semua segera beranjak bangun dari tempat duduk masing-masing lalu melangkah pergi meninggalkan ruang utama untuk berangkat ke restoran yang sudah di reservasi atas nama Nico khusus untuk cara penyambutan yang dia rencanakan.
...*...
Tiba di restoran, Lucy dan yang lain lantas menghampiri meja yang sudah di pesan oleh Nico dan Bean untuk mereka.
Mereka duduk di kursi kosong yang sudah dipersiapkan. Namun sebelum duduk, keempat orang itu sudah lebih dulu kembali membuat kerusuhan.
Jean, Daniel, Amanda, dan Aland. Keempatnya berebut ingin duduk di sebelah Lucy.
Mereka bertengkar, membuat seisi pengunjung restoran menoleh ke arah mereka.
Lucy sejak tadi diperebutkan bagaikan piala yang berharga.
Ia hanya bisa menggelengkan kepala, saat mereka kembali berebut untuk bisa duduk bersamanya.
Sebelumnya, Lucy juga hendak duduk di sebelah Nico. Tapi Daniel melarang dan memintanya untuk duduk di kursi yang ia pilihkan.
"Pokoknya kau duduk disebelahku!" Jean tak mau kalah.
"Tidak. Kau harus duduk denganku!" Daniel menyambar.
"Hey! Kalian pikir, kalian siapa? Yang berhak duduk bersebelahan dengan Lucy hanya aku dan Amanda, karena kami satu tim." Aland merecoki.
"Betul! Senior Lou hanya boleh duduk dengan kami." Amanda ikut membela.
Di antara mereka berempat tidak ada yang mau mengalah sama sekali. Apalagi Amanda yang notabene-nya adalah orang paling cerewet di antara semua orang yang ada.
Selain cerewet, ia juga keras kepala dan tidak ingin kalah dengan senior-seniornya.
Nico pusing dibuatnya. Lagi-lagi anak-anak didiknya itu, berdebat bagaikan anak kecil.
Bahkan hanya untuk makan saja mereka harus berebut tempat duduk.
Nico menghela napas, ia memijat keningnya yang terasa pusing dengan perlahan.
"Tidak bisakah kalian tenang? Tolong jangan membuat keributan." Bean berusaha melerai mereka. Ia sudah bangkit dan berdiri menengahi di di dekat Lucy.
"Coach, diam sebentar. Kami belum selesai!" potong Amanda yang kembali berdebat dengan para seniornya.
Bean sampai tersentak kaget dan spontan diam.
Nico menolehkan kepala ke arah lain, tak ingin melihat perdebatan yang sedang terjadi dihadapannya. Namun begitu sadar mereka tengah menjadi tontonan orang banyak, Nico tak bisa tinggal diam.
...***...