A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 85 - Tentang Daniel



"Aku tinggal bersama kakek dan nenekku di Inggris. Keuanganku diatur dan dibatasi ketat oleh kedua orang tuaku. Mereka tinggal di Austria, dan setiap beberapa bulan sekali, mereka mentransfer uang untukku…"


"…Selama aku hidup dengan kakek dan nenekku di sini, aku jadi lebih sering menabung dan berhemat," ketusnya.


Daniel tak terima dirinya diremehkan Jean.



"Aku tidak bermaksud untuk meremehkanmu, hanya saja aku ragu karena kau 'kan masih sekolah dan lagi, kau belum memiliki penghasilan sendiri," gumam Jean.


"Huft~" Daniel menghela napas pelan, kemudian berkata, "baiklah untuk sekarang aku maklumi. Aku mengerti kau berkata seperti itu, karena kau tahu aku belum bekerja."


"Maaf."


"Tidak apa-apa."


Untuk sesaat keheningan menyelimuti kebersamaan mereka. Hanya kegaduhan di kantin yang mereka dengar.


Daniel meraih minumannya lalu meneguknya pelan.


Jean juga baru selesai. Ia lalu meminum jusnya sampai habis tidak tersisa.


"Omong-omong, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Jean hati-hati.


"Apa?"


"Kedua orang tuamu bekerja sebagai apa?"


"Awalnya mereka bekerja sebagai agen yang dulu bernaung di sindikat yang sama dengan coach Bean. Coach Bean adalah teman dari papaku…"


"…Setelah menikah dengan mamaku yang tak lain adalah salah satu teman dari sindikatnya, ia lalu pensiun dan memutuskan untuk pindah dari Inggris ke Austria…"


"Oh… begitu, lalu kenapa kau tinggal di Inggris, sementara kedua orang tuamu di Austria?"


"Aku tinggal di Inggris atas permintaan kedua orang tuaku. Mereka ingin aku mengikuti jalan mereka menjadi seorang agen…"


"…Awalnya aku menolak karena bagiku hidup sebagai warga sipil biasa dan menjadi anak seorang pengusaha kaya saja sudah lebih dari cukup…"


"…Tapi karena dulu saat tinggal di Austria, aku terlalu di manja dan seringkali berbuat seenaknya karena aku anak tunggal…"


"…Hal itu yang membuat papaku lelah dengan tingkahku. Mereka lalu memutuskan untuk menitipkanku tinggal di rumah kakek dan nenek sebagai hukuman sekaligus agar aku belajar untuk berperilaku lebih baik di banding sebelumnya…"


"…Apalagi mereka tahu, aku sangat takut pada nenekku. Karena setiap kali aku berbuat ulah, nenek pasti akan memarahiku habis-habisan. Setelah itu, menghukumku untuk tidak keluar kamar seharian dan merenungkan kesalahanku. Baru setelah sadar dengan kesalahanku dan meminta maaf, maka aku baru diperbolehkan untuk keluar," jelas Daniel.


"Jadi, bisa disimpulkan kau tinggal di Inggris karena di hukum oleh kedua orang tuamu. Begitu?"


"Ya. Awalnya aku pikir ini akan membosankan karena aku akan banyak dikekang oleh kakek dan nenekku serta tak bisa hidup dengan bebas…"


"…Tapi ternyata tidak. Ini lebih menyenangkan daripada perkiraanku. Aku bahkan merasa lebih bebas tinggal dengan kakek dan nenekku dibandingkan dengan tinggal bersama kedua orang tuaku," katanya.


"Secara perlahan dan tanpa sadar, kau mulai nyaman tinggal dengan kakek dan nenekmu di Inggris?"


"Tentu. Bahkan kalau aku tidak diminta untuk masuk ke sindikat ini, mungkin saja hidupku tidak akan menarik. Baiklah sudah ceritanya, ayo pergi!" Daniel beranjak bangun dari tempat duduknya.


"Kita akan ke taman bermain seperti yang kau ucapkan 'kan? Kalau begitu ayo kita pergi!" Jean tampak sangat bersemangat. Ia langsung berdiri dengan cepat.


"Kupikir kau akan menolak?"


"Tidak mungkin aku menolak gratisan!" ujarnya.


...***...