
Lucy duduk di meja belajarnya sambil memandangi lencana yang diberikan Nico sebagai tanda bahwa ia benar-benar diangkat sebagai agen resmi di akademi pelatihan.
Lucy tersenyum simpul, tangannya mengusap lencana yang dipegangnya.
"SGLSA." Ia bergumam membaca tulisan yang terukir dilencananya.
"Rasanya bagaikan mimpi aku bisa bertemu dan di angkat sebagai agen." Ia bergumam.
Senyumannya semakin merekah, entah mengapa ia merasa kalau impiannya selama ini untuk menjadi agen mata-mata terwujud dalam semalam. Bahkan bisa dibilang belum sepenuhnya terwujud dalam semalam, karena kejadiannya baru terjadi beberapa jam yang lalu.
"Lucy Lacina." Lucy kembali bergumam, mengingat nama samaran yang diberikan Nico untuknya.
...*...
London, Inggris, saat ini.
2019
Lucy melangkah keluar dari dalam mobil. Ia menghampiri gerbang depan rumahnya.
"Terima kasih untuk tumpangannya."
"Bukan masalah," sahut Jean dan Daniel.
"Kalau begitu, sampai jumpa besok di kantor."
"Sampai jumpa."
Lucy melambaikan tangan ke arah kedua sahabatnya yang kini melaju secara perlahan. Meninggalkan Lucy yang kini berdiri sendirian di depan rumahnya.
Sepeninggalan mereka, ia segera masuk menuju rumahnya.
...*...
Blam!
Pintu kamar mandinya di tutup pelan. Lucy yang berbalutkan kimono mandi, lalu menghampiri ranjang tidurnya dan duduk di tepi.
Lucy terdiam. Setelah mengeringkan rambutnya, fokusnya beralih pada pigura yang ada di atas nakes dekat ranjang tidurnya.
Lucy meraih pigura itu dan menggenggamnya erat.
Ada dua foto di dua pigura berbeda yang terpasang satu sama lain. Yang satu berisi foto dirinya saat masih kecil yang berdiri bersama kedua orang tuanya, sedangkan satu lagi adalah foto dirinya bersama seorang gadis cantik dengan mengenakan kostum hitam yang sama.
Air mukanya mendadak berubah murung saat melihat pigura dalam genggamannya.
Rasa sesak mendadak menghampirinya, kedua matanya memanas. Nyaris berkaca-kaca.
Seharian ini, dirinya seakan terjebak dalam labirin penuh kenangan. Seakan mengulang kembali detik demi detik yang pernah ia lalui dengan orang-orang tersayangnya di masa lalu.
Hatinya serasa tersayat oleh kenangan yang sama. Yang dulu sempat membuatnya trauma dan enggan untuk kembali ke titiknya berada saat ini.
Namun nuraninya menginginkan hal lain. Walaupun hatinya sakit, tapi ia tetap tidak bisa meninggalkan kenangan yang pernah di ukirnya di tempat ini.
Lucy mengulurkan tangan, mengusap layar kaca yang melapisi foto di dalam piguranya.
"Aku merindukan kalian…" lirihnya dengan suara bergetar.
Lucy merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Kepalanya menengadah ke arah langit-langit kamarnya, sementara kedua tangannya menggenggam pigura yang dia genggam.
Perlahan kedua matanya terpejam, berharap bisa membuat rasa rindunya terobati setelah memejamkan mata dan membayangkan orang-orang itu kembali hadir dalam hidupnya.
Lucy merindukan kedua orang tuanya. Theodore dan Caroline yang selalu memberikannya kasih sayang. Orang tua paling pengertian dan orang yang paling mendukung setiap keputusannya.
Belum sempat ia membalas kasih sayang dari kedua orang tuanya, karena mereka sudah lebih dulu pergi meninggalkan Lucy. Dan takkan pernah kembali dalam pelukannya.
Di saat yang bersamaan, ia juga merindukan Elena. Sosok yang lugu tapi pengertian, pendiam tapi begitu peduli, dan sosok yang lembut tapi begitu hangat.
Kepergian mereka dari hidupnya, benar-benar meninggalkan yang amat mendalam.
...***...