A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 54 - Tanpa orang tua



Selesai mengelap keringatnya, Sheilla lalu membuang itu ke tong sampah yang tak jauh dari posisinya.


"Ahh… sangat menyegarkan. Sekarang aku sudah tidak kehausan lagi, dan sekarang aku juga sudah mulai merasa bertenaga lagi." Sheilla bergumam.


Gadis itu lalu melirik ke arah Lucy disampingnya. Lucy balik menatapnya saat sadar dia di tatap lekat oleh Sheilla.


"Bagaimana kalau kita berlatih bersama?" ajak Sheilla.


Lucy menampakkan wajah bingung, ia terdiam mencoba mencari cara untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Sheilla.


Namun, belum sempat ia menjelaskannya. Sheilla sudah berdiri dan menarik tangannya.


"Ayo! Simpan saja tas dan minumanmu di sini," tuturnya.


Lucy melepaskan tas dan menyimpan minumannya karena Sheilla terus menariknya.



Ia di tarik menuju sudut lain dimana anak-anak seusianya tengah berlatih dengan menggunakan alat-alat beladiri seperti tongkat, pedang khusus berlatih, dan beberapa alat lainnya.


"Ayo berlatih!" katanya sambil membawa Liana ke sudut kosong di sana.


Ia lantas berdiri dan memilih salah satu tongkat yang ada di sudut ruangan. Mengambil salah satunya lalu memberikan tongkat tersebut untuk Lucy.


"Ini untukmu dan ini untukku." Ia mengambil satu lagi untuk dirinya. Lucy tidak banyak bicara, ia hanya mengikuti perintah Sheilla untuk memegang tongkat yang dia berikan.


Sheilla lalu berjalan agak sedikit menjauh, memberikan jarak untuk mereka.


"Baiklah, tugasmu adalah menangkis setiap serangan yang aku berikan. Mengerti?" ujar Sheilla.


Belum sempat Lucy menjawab, Sheilla sudah menyerangnya lebih dulu, membuat Lucy refleks menangkis serangannya dengan tongkat yang ia pengang.


Tidak hanya menangkis, Lucy juga sesekali menyerang balik Sheilla dengan tongkat yang dipegangnya.


Sheilla tersenyum ketika ia mulai menikmati permainannya dengan Lucy.


"Gerakanmu bagus juga!" pujinya seraya terus bergerak.


Dalam seketika, Lucy tanpa sadar mulai terhanyut dalam permainan mereka.


"Bean, Nico ingin bertemu denganmu," tutur seorang pria berjas padanya. Bean yang baru saja datang itu, lalu menoleh ke arahnya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Entahlah, tapi yang pasti dia hanya ingin kau datang ke ruangannya."


"Ada apa, ya…" Ia bergumam, seraya berpikir sejenak.


"Kalau begitu aku pergi dulu," tutur pria berambut cokelat tadi seraya beranjak pergi dari sana.


"Baiklah, terima kasih karena telah memberitahuku."


Bean lantas beranjak pergi menuju ruangan Nico.


Tiba di depan pintu ruangannya, Bean mengetuk pintu itu secara perlahan.


Setelah dipersilahkan masuk, ia segera masuk dan menemui Nico.


"Ada apa kau memanggilku, sir?" tanyanya pada Nico yang kini duduk di kursi kebesarannya dengan posisi memunggunginya.


Nico memutar kursinya hingga berhadapan dengan Bean.


"Aku dengar ada salah satu anak didikmu yang datang tanpa di dampingi oleh orang tua."


"Huh?" Bean menampakkan raut wajah bingung. "Seingatku tidak ada, sir. Semuanya di dampingi oleh orang tua masing-masing."


"Benarkah? Tapi Carla bilang, ada salah satu murid baru yang datang tanpa orang tua. Apakah dia salah lihat?"


"Siapa namanya sir? Biar aku coba cari tahu."


"Carla tidak bilang apa-apa. Dia juga tidak memberitahuku namanya karena dia pikir kalau memang ada anak didikmu yang datang tanpa orang tua."


"Tidak ada, sir. Aku mendapat konfirmasi langsung dari orang tua masing-masing, mereka mengatakan bahwa orang tuanya pasti akan datang untuk mengantarkan anak-anak mereka," jelas Bean panjang lebar.


"Lalu siapa?"


...***...