A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 38 - Bukti



"Mungkin kau ada benarnya. Kalau begitu, kita lakukan acara penyambutan sekaligus untuk merayakan keberhasilan mereka dalam misi kali ini."


"Baik, sir."


"Jangan lupa kumpulkan semua anggota tim satu, dua, dan tiga. Setelah itu, lakukan reservasi di restoran paling mahal, dan kita sarapan bersama di sana."


"Dimengerti, sir."


"Kalau begitu, kau boleh kembali bekerja."


"Oh ya, mengenai barang bukti dan tersangka juga sedang berada di perjalanan. Untuk tersangka kita sendiri sudah dikirimkan lebih dulu dengan tim khusus yang aku kirim, dan untuk barang bukti di pegang secara langsung oleh anggota masing-masing tim."


"Baik. Sekali lagi terima kasih atas kabar bahagianya."


"Okay, sir. Kalau begitu aku permisi." Bean membungkuk lalu beranjak meninggalkan Nico seorang diri di dalam ruangannya dengan wajah senang.


Mood-nya yang semula buruk, seketika naik setelah mendengar kabar bahagia yang dibawa Bean.



...*...


Bandara Heathrow London, Inggris.


Lucy, Aland, dan Amanda bergegas keluar dari bandara dengan membawa semua barang-barang mereka.


Tiba di luar, mereka melihat beberapa orang yang di suruh Bean menjemput mereka sudah menunggu di depan bandara.


"Aku benar-benar lelah. Setelah memberikan barang bukti ini pada sir. Nic, mari pulang dan beristirahat," ujar Lucy pada kedua rekannya.


"Ide yang bagus. Aku akan langsung kembali ke dormitory untuk beristirahat." Amanda menjawab.


"Kalau kau Al, apa yang akan kau lakukan?" Lucy menoleh pada lelaki yang sejak tadi duduk di sampingnya tanpa berkomentar.


"Oh benar, kita sudah cukup meninggalkan London 'kan?"


"Begitulah." Aland menjawab seadanya.


"Sampaikan salamku pada ayahmu."


"Pasti akan aku sampaikan."


"Kapan-kapan, bolehkah aku mengajaknya makan bersama? Maksudku, kita makan bersama. Sudah sangat lama aku tidak bertemu dengan ayahmu." Lucy berucap pelan, ia memberanikan diri untuk meminta izin pada Aland.


"Sepertinya senior Lou cukup dekat dengan ayahnya senior Al, apakah saat kalian berhubungan dulu, kalian cukup dekat juga?" Amanda menatap kedua seniornya.


"Kami memang dekat, karena ayahnya Al bilang, aku adalah wanita pertama yang diundangnya ke rumah, sekaligus orang pertama yang benar-benar dicintainya. Sampai-sampai Al berniat mengajakku menikah di usia muda," balas Lucy.


"Begitu rupanya… Tapi sangat di sayangkan karena kalian harus berpisah," gumam Amanda.


Lucy diam membenarkan ucapan Amanda. Sementara Aland, ia sama saja. Diam seperti Lucy, namun diamnya berbeda.


Aland sampai saat ini masih bingung bercampur penasaran tentang apa yang sebenarnya menjadi alasan Lucy meninggalkan dirinya.


Tepat di hari pernikahan mereka dulu, sesaat sebelum Aland hendak mengucapkan sumpahnya 'tuk sehidup semati dengan Lucy. Wanita yang saat itu berstatus menjadi calon isterinya mendadak membatalkan pernikahan mereka lalu memutuskan hubungan tanpa memberikan sedikitpun penjelasan mengenai alasan tentang keputusannya yang begitu mendadak.


Selanjutnya hening. Tidak ada sepatah katapun yang terlontar dari bibir masing-masing sampai mereka tiba di gedung kantor pusat SGLS.


Lucy, Amanda, dan Aland segera melangkah keluar dari dalam mobil begitu mereka tiba di sana.


Mereka hendak menemui Nico dan Bean serta menyerahkan barang bukti yang mereka bawa pada Nico untuk dipastikan.


Tiba di dalam, mereka sudah dapat melihat kehadiran mereka berdua.


...***...