A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 20 - Liana



Liana Lacina La Vergne adalah cucu pertama dari keluarga La Vergne yang mana juga adalah satu-satunya sepupu yang Leon miliki.


Kalau nama Liana diartikan, memiliki arti bangsawan berambut pirang yang lahir di musim semi.


Leon dan Liana memiliki orang tua yang berbeda, papa Leon adalah adik laki-laki dari papanya Liana.


Jika mamanya Leon berasal dari Indonesia, beda halnya dengan Liana. Mamanya Liana berasal dari Inggris yang memiliki darah campuran bangsawan inggris ditubuhnya.


Liana dan Leon memiliki persamaan, yaitu mereka sama-sama anak tunggal yang sama-sama tidak memiliki kakak ataupun adik kandung.


Liana memiliki wajah cantik nan imut, kulitnya tak kalah dari Leon, ia memiliki mata biru indah yang serupa dengan papanya, dan rambut pirang yang lebat seperti mamanya.


Tubuhnya bisa di bilang lebih pendek dibandingkan dengan Leon. Tetapi walaupun begitu, ia memiliki umur lebih tua beberapa bulan darinya.


Liana adalah anak perempuan yang sangat tomboi, dan lebih suka beraktivitas di luar ruangan.


Bebas layaknya kupu-kupu yang terbang di udara, ia akan terbang kemanapun yang ia inginkan. Hal yang paling membosankan baginya adalah ketika ia harus dihadapkan dengan pekerjaan rumah yang mengharuskannya menghabiskan waktu di dalam ruangan selama berjam-jam.



...*...


Paris, Prancis, saat ini.


2019


Lucy tersenyum simpul kala ingatan itu terlintas dibenaknya. Momen paling memorable yang takkan pernah bisa ia lupakan dari sosok Leon yang mana adalah adik sepupunya yang selalu di ganggu anak-anak yang tinggal di sekitar rumah nenek mereka.


Lucy berjalan sambil menatap setiap jalan yang di lewatinya. Saat ia terus berjalan, ia seakan bisa melihat Liana kecil yang berlari bersama Leon yang terus menerobos hujan salju dengan kaki kecil mereka.


Kedua bayangan dalam benaknya itu lantas membawa Lucy menuju ujung jalan dimana ia akhirnya tiba di sebuah rumah super besar nan mewah.


Lucy terdiam di tempatnya. Kedua iris matanya menatap lekat ke arah rumah besar dihadapannya.


Rumah nenek dan kakek… batin Lucy dengan mata yang kini mulai berkaca-kaca saat ia akhirnya bisa melihat kembali rumah kakek dan neneknya yang sampai saat ini masih berdiri dengan sangat kokoh dan masih sangat terawat.


Walaupun keluarganya Leon sudah tak lagi tinggal di Paris, pun keluarganya. Tapi rumah itu masih di rawat oleh para pelayan yang dulu bekerja untuk keluarga La Vergne yang mana merupakan keluarga kakek dan neneknya.


"Ternyata… tidak ada berubah sama sekali," gumam Lucy seraya menyeka air matanya yang menetes membasahi pipinya.


"Semuanya masih terlihat sama," lirihnya. Lucy memalingkan wajahnya saat luapan emosi tak lagi dapat dibendungnya.


Hatinya benar-benar di paksa untuk mengingat masa-masa indahnya ketika orang-orang yang disayanginya masih ada.


Banyak sekali kenangan indah di rumah besar itu saat ia dan keluarganya datang berkunjung setiap tahun untuk merayakan natal dan tahun baru bersama.


Hal itu, secara tak langsung membuat Lucy teringat kembali akan mendiang orang tuanya yang telah meninggal.


Lucy menghela napas berulang kali berusaha mengatur sesak di dadanya.


...***...