
"Mengapa ada banyak anak-anak yang dilatih dan mengapa ada banyak orang dewasa dengan pakaian rapi?" Lucy memberanikan diri untuk bertanya.
Nico terdiam untuk sesaat, tepat di belakang Lucy. Kedua matanya menatap ke arah Lucy dengan lekat.
"Apa kau benar-benar tidak tahu ini tempat apa?" Nico menatapnya penuh selidik. Lucy menggeleng pelan dengan wajah polos.
"Tidak. Aku bahkan tidak mengerti mengapa aku bisa berada di sini. Terakhir aku sedang di kejar-kejar oleh seorang pria misterius yang membawa pisau di tangannya. Lalu setelah itu, aku menemukan gedung ini berharap bisa menemukan persembunyian," jelasnya.
"Jadi kau tersesat?" Air muka Nico berubah terkejut.
"Iya…" kata Lucy dengan suara pelan. Nico terdiam sesaat mendengar penjelasannya.
"Jadi, apa anda bisa jelaskan ini tempat apa? Mengapa banyak anak yang dilatih beladiri dan menggunakan alat-alat canggih? Apakah ini semacam markas mata-mata?" tanya Lucy dengan polosnya.
Nico terkejut dengan tebakannya, ia menatap horor Lucy.
"Kau..." Nico memegang kedua pundaknya.
Lucy bingung. Detik berikutnya, Nico menghela napas, lalu berjalan kembali ke arah meja kerjanya.
"Bisakah kau keluar sebentar? Tunggu diluar dan tolong panggilkan Bean, pria yang tadi membawamu kemari!" tutur Nico akhirnya.
"Baiklah." Lucy berjalan keluar dari dalam ruangannya dan memanggil Bean.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sheilla dengan raut wajah cemas ketika ia melihat Lucy baru saja keluar dari dalam ruangan Nico.
"Aku baik-baik saja."
"Apa yang sir. Nic katakan?"
"Aku hanya diberikan beberapa pertanyaan. Setelah itu di minta untuk tunggu di luar, dan... Oh ya, tuan Bean di minta untuk masuk olehnya," ucap Lucy sambil melirik ke arah lelaki dewasa yang kini berdiri di depan pintu.
"Aku?" Bean menunjuk dirinya sendiri. "Astaga, ada apa lagi sekarang?"
Bean beranjak masuk ke dalam ruang Nico.
"Lalu, kau punya ide apa?" tanya Nico akhirnya setelah menjelaskan banyak hal.
"Bagaimana jika kita minta dia untuk menyimpan rahasia ini?" usulnya. Bukannya mendapatkan pujian, ia malah mendapatkan tatapan tidak bersahabat dari Nico.
"Kau pikir anak-anak seperti dia bisa menyimpan rahasia? Bisa saja anak itu keceplosan berbicara tentang sindikat kita pada orang lain!" kesalnya.
"Ahh… anda benar juga…"
"Ayo pikirkan ide lain."
Bean lalu terdiam untuk sesaat, ia mencoba mencari ide lain agar gadis malang yang tersesat itu bisa menjaga rahasia sindikat mereka.
Sebuah ide terlintas dibenaknya ketika secara tiba-tiba ingatannya mengenai kejadian Sheilla tadi mendadak hadir dipikirannya.
"Ah! Aku punya ide yang lebih bagus!" tuturnya seraya menjentikkan jari.
"Apa?" Nico menapakkan raut wajah penasaran.
Bean menghampiri lelaki yang menjadi pimpinan di sindikatnya tersebut, lalu berbisik tepat di telinganya. Memaparkan mengenai ide yang baru saja terlintas dibenaknya.
"Bagaimana?" tanya Bean meminta pendapat dari atasannya tersebut.
Nico terdiam sejenak sambil mencerna setiap kalimat yang baru saja terlontar dari mulutnya.
Nico mengangguk-angguk pelan menanggapinya.
"Ide yang bagus. Aku suka idemu kali ini!" tanggapnya.
"Jadi anda setuju?"
"Ya. Itu lebih baik daripada kita menempuh cara lain. Lagipula mendengar dari penjelasan darimu, sepertinya dia bisa berlatih dengan anak-anak baru di kelasmu."
...***...