
Sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang sebuah rumah yang hendak mereka masuki.
Seorang pria tua dengan rambut yang sudah beruban duduk di jok belakang dengan begitu tenang.
Fokusnya seketika beralih keluar jendela saat si supir menghentikan mobilnya di depan gerbang. Supirnya baru saja hendak menekan klakson guna meminta wanita berambut pirang yang berdiri di depan gerbang itu menyingkir dari jalanan, tapi lebih dulu pria tua itu menghentikan aksinya.
"Tidak perlu," potongnya cepat sebelum si supir berhasil menekan klakson dan membuatnya terkejut.
Ancel namanya, pria tua yang kini menyipitkan mata melihat Lucy yang berdiri di depan rumah mewah yang tak lain merupakan rumah kediaman La Vergne, rumah keluarga kakek dan neneknya dulu.
Aku seperti mengenalnya, pikir Ancel yang kemudian membuka pintu. Ancel meminta sang supir untuk tetap di dalam mobilnya sementara ia melangkah turun dan menghampiri Lucy yang masih berdiri di sana.
Ancel bergerak perlahan sambil terus memperhatikan Lucy.
"Mademoiselle?" panggilnya dengan ragu-ragu. Wanita pirang yang sejak tadi di perhatiannya itu, lalu menoleh dan tepat beradu tatap dengannya.
(Nona?)
Lucy membulatkan mata, pun Ancel yang melihat siapa wanita yang ada dihadapannya.
"Ancel," gumam Lucy masih dengan mata yang terlihat sedikit berkaca-kaca akibat menangis.
"Nona, apakah ini benar-benar anda?" Ancel speechless melihat Lucy yang berdiri di hadapannya. Kedua manik matanya berkaca-kaca menahan tangis bahagianya.
"Ya, ini aku Ancel," ujar Lucy. Ancel berjalan menuju Lucy dengan tatapan nanar, ia menghampiri wanita itu dan memeluknya erat.
Ancel menangis memeluk Lucy yang notabenenya adalah anak dari majikannya dulu. Sudah sangat lama mereka tak bertemu, sejak kembali ke London bertahun-tahun lalu, mereka tidak pernah bertemu lagi.
Pertemuan terakhirnya adalah saat Lucy berusaha delapan tahun, di Noël dan La Saint-Sylvestre terakhir bersama kakek dan nenek mereka sebelum akhirnya meninggal.
"Aku juga tidak percaya ternyata kita akan bertemu lagi." Lucy menyeka air mata yang membasahi wajahnya.
Ancel melerai pelukannya, menatap Lucy dari jarak yang amat dekat.
"Apa yang membawa nona kemari? Apakah anda ingin bertemu denganku dan Aami?" tanyanya.
"Aku sedang dalam perjalanan bisnis, dan aku ingat dengan kenangan ku di sini. Maka dari itu, aku menyempatkan diri datang kemari."
"Kalau begitu ayo masuk, Aami pasti akan sangat senang melihat nona datang."
"Aami ada di sini?"
"Ya, semenjak kepergian nyonya dan tuan, kami jadi tinggal satu rumah. Lebih tepatnya… Aami jadi menantuku."
"Apa? Benarkah?" Lucy tak percaya.
"Ya. Maka dari itu, mari masuk dan bertemu dengannya." Ancel menuntun Lucy. Sebelum itu, ia meminta pada si supir untuk memasukkan mobilnya.
Ancel membawa Lucy masuk.
Begitu tiba di halaman depan rumah, Lucy terdiam sejenak. Ia kembali memandangi sekeliling. Memperhatikan setiap inchi dan detail rumah peninggalan mendiang kakek dan neneknya itu.
Tidak ada yang berubah. Semuanya tampak sama, benar-benar persis sama walau sudah sangat lama semenjak terakhir kali ia berkunjung ke Paris.
"Baik aku ataupun Aami tidak mengubah apapun di rumah tuan dan nyonya, kami tetap mempertahankan semua posisinya agar kami senantiasa ingat padanya."
...***...