A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 60 - Lencana



"Orang tuamu pasti sangat khawatir karena kau belum pulang jam segini," kata Bean seraya menatap jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Baiklah."


"Kalau begitu aku akan siapkan mobil. Kau ambil tasmu dan aku akan menunggu di depan," ujarnya. Bean lalu menoleh ke arah Sheilla di sebelah Lucy. "Sheilla."


"Yes, coach?" Sheilla mendongak menatap ke arah Bean.


"Bisakah kau antarkan Lucy ke depan? Kalau dia pergi sendiri, takutnya dia tersesat."


"Baik, aku akan mengantarkannya ke depan," sahut Sheilla.


"Bagus. Kalau begitu, yang lain kembali ke ruang latihan. Beres-beres, lalu bersiap untuk pulang. Latihan hari ini cukup sampai di sini saja."


"Okay, coach," sahut mereka serentak. Anak-anak itu lalu bubar dari tempat mereka berdiri dan berjalan menuju arah ruang latihan untuk membereskan barang-barang mereka lalu bersiap untuk pulang.


"Kalau begitu aku tunggu kalian di depan, ya." Bean beranjak pergi, meninggalkan Lucy dan Sheilla.



"Ayo." Sheilla menarik tangan Lucy, pergi menuju tempat semula mereka bertemu.


"Sebenarnya apa yang terjadi selama kau di dalam sana tadi?" tanya Sheilla yang masih merasa penasaran dengan apa yang dialami Lucy di ruangan Nico.


"Tidak terjadi apa-apa. Mereka hanya menanyakan beberapa hal padaku."


"Pertanyaan seperti apa?"


"Ya, siapa namaku, lalu cita-citaku dan mereka juga menanyakan apakah aku belajar beladiri atau tidak. Sudah hanya itu saja."


"Oh… aku kira pertanyaan seperti apa." Kini rasa penasaran Sheilla mulai terjawab.


Tiba di lorong tempat mereka bertemu, Lucy lalu mengambil tas miliknya yang tergeletak di atas bangku kosong di dekat koridor. Ia meraihnya.


"Iya." Lucy berjalan mengikuti Sheilla yang kini berjalan beriringan dengannya.


Mereka melangkah pergi menuju arah halaman depan untuk bertemu dengan Bean yang sedang menunggu mereka sejak tadi di sana.


...*...


Hari berlalu. Setelah kejadian sore itu, Lucy lalu pulang dengan diantarkan oleh Bean sampai tiba di rumahnya dengan selamat.


Saat tiba di rumah, Theodore dan Caroline terlihat begitu lega, saat melihat Lucy akhirnya pulang.


Mereka begitu cemas begitu mengetahui Lucy belum pulang sampai jam empat sore.


Theodore sampai mencari-cari Lucy hingga menyusulnya ke sekolah tetapi sekolahnya sudah terkunci dan penjaga sudah pulang.


Begitu tiba di rumahnya, Bean segera menjelaskan semuanya pada kedua Theodore dan Caroline mengenai apa yang dialami Lucy seharian itu.


Bean berusaha untuk dekat dengan kedua orang tua Lucy agar ia bisa mendapatkan kepercayaan dari keduanya. Dengan begitu, Bean akan dengan mudah untuk lebih dekat dengan Lucy dan lebih mudah untuk mengawasinya sesuai perintah Nico.


Trik yang digunakannya berhasil. Ia bahkan sampai di undang makan malam bersama di rumah Lucy.


Setelah makan malam usai, dan Bean pamit pulang pada Theodore dan Caroline.


Lucy kini kembali ke kamarnya untuk belajar. Pekerjaan rumahnya banyak, di tambah lagi ada banyak hal yang harus dipersiapkannya sebelum dia memulai kegiatannya besok, sebagai agen resmi di akademi pelatihan.


Lucy begitu senang saat ia mengingat kejadian yang dialaminya hari ini.


Semua yang terjadi bagaikan mimpi Lucy bisa bertemu dengan sindikat rahasia dan di angkat menjadi agen pelatihan resmi di akademi.


Lucy duduk di kursinya.


...***...