A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 66 - Kenneth



Sheilla termangu di bangku lain dengan wajah murung.


Ia berpindah ke tempat yang lebih sepi agar bisa menenangkan diri serta menjernihkan pikiran.


Walaupun tidak terlalu berharap untuk debut menjadi agen lapangan, tapi Sheilla tetap saja merasa tertekan. Apalagi orang tuanya benar-benar menginginkan Sheilla untuk menjadi seperti Kenneth, kakaknya yang ahli dalam segala materi latihan.


Kenneth bahkan mampu debut sebagai agen lapangan hanya dalam beberapa bulan saja semenjak pertama kali bergabung dengan akademi pelatihan, sementara dirinya harus menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk bisa mencapai itu.


Di antara semua agen yang ada, Sheilla adalah satu-satunya agen yang sampai saat ini belum debut. Bisa di bilang, ia turun dan tinggal di kelas pelatihan selama bertahun-tahun.


Selain tertekan, mungkin karena Sheilla juga tidak terlalu tertarik menjadi agen, itu sebabnya performanya tidak pernah meningkat. Ia cenderung bersikap pasrah dan tidak peduli dengan hasil yang akan di dapatnya nanti setelah penilaian tahunan.


Di sisi lain, seorang pria tampan yang sejak kedatangannya menyita perhatian, menghampiri Sheilla yang duduk seorang diri.


Kenneth. Duduk di samping adiknya yang tampak murung. Ia bisa menebak apa penyebabnya gadis itu murung.


Sheilla mendongak saat melihat Kenneth mengambil duduk di sampingnya.


"K… Kenneth…" Ia tercekat. Kedua iris mata mereka saling beradu satu sama lain.


"Kau sudah mendengar hasilnya dari coach Bean?" tanyanya.


"Ya…" Sheilla menjawab dengan lesu. Ia kembali menampakkan raut wajah murung. Rasanya malu harus duduk di dekat kakaknya, terlebih menyadari nilai akademiknya berbeda jauh dengan Kenneth.


Kenneth tersembunyi simpul. Tangannya terulur mengucap puncak kepala adiknya pelan. Mengacak-acak rambutnya hingga membuat Sheilla kaget.


Sheilla mendongak menatap kakaknya. Support dari Kenneth selalu membuatnya merasa lebih baik, walaupun usia mereka terpaut cukup jauh, dan sejak kecil mereka tidak terlalu banyak menghabiskan waktu karena Kenneth yang langsung masuk akademi pelatihan di usia yang lebih muda dari Sheilla, tapi Kenneth selalu berusaha untuk menjadi kakak yang terbaik. Yang selalu menghiburnya di kala jatuh, dan menyemangati yang di kala lemah.


"Aku harap begitu, agar papa dan mama tidak terus menekanku," gumam Sheilla.


"Semuanya akan baik-baik saja."



...*...


"Pokoknya aku yang bicara dengan Lucy lebih dulu!" Jean menarik Lucy ke arahnya dan memeluk gadis itu erat. Sementara sebelah tangannya masih di genggam oleh Daniel.


"Tidak bisa! Aku yang akan bicara dengannya." Daniel menarik Lucy ke arahnya hingga lepas dari pelukannya.


Daniel memeluk erat Lucy agar Jean tak mampu menariknya.


"Dasar menyebalkan! Lepaskan Lucy, aku yang ingin bicara dengannya," teriak Jean yang berusaha merebut Lucy kembali dari pelukan Daniel.


Lucy hanya bisa diam. Ia bingung harus bagaimana, pasalnya perdebatan dari keduanya sejak tadi tidak ada habisnya.


Lucy sudah berusaha mencari cara untuk membebaskan diri dengan pura-pura ke toilet, tapi apa yang terjadi keduanya mengikuti Lucy hingga ke depan toilet lalu berdebat.


...***...