A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 15 - Pierre!



Lucy beralih saat ia melihat secarik kertas yang tertempel pada permukaan meja.


Ia meraih kertas itu dan membacanya. Ternyata sebelum pergi, Felix sempat meninggalkan pesan untuknya.


❛Morning my sunshine.


Aku minta maaf karena pergi tanpa pamit. Kau tidur begitu pulas, aku tidak ingin mengganggu tidurmu. Jadi aku tinggalkan pesan, kuharap kau membacanya. Aku sudah siapkan pakaian dan sarapan untukmu. Sebelum pergi, jangan lupa untuk sarapan.


Aku harap bisa bertemu denganmu sebelum kau kembali ke London. Pekerjaanku di Paris akan berlangsung selama beberapa hari lagi, jadi mungkin aku tidak akan bisa menemanimu pulang. Tapi, kita akan tetap bisa bertemu setelah aku pulang.


Sampai jumpa nanti. Aku mencintaimu.


Peluk cium dari kekasihmu.


Felix.❜


Lucy tersenyum simpul membaca pesan dari Felix. Lelaki itu selalu tahu bagaimana cara membuat bunga-bunga dalam hatinya bermekaran.


"Aku juga mencintaimu, sayang," gumam Lucy. Ia mengecup kertas dalam genggamannya.


Lebih baik aku pergi dulu sebentar setelah itu kembali untuk mengambil kostumku, batin Lucy. Ia beranjak pergi meninggalkan hotel.


Lucy melangkah menyusuri koridor hotel sembari mengotak-atik ponselnya hendak mengirimkan pesan pada Felix.


Lucy: Terima kasih karena kau sudah sangat perhatian padaku. Aku sudah sarapan dan mengenakan pakaian yang kau berikan. Aku akan pergi sebentar dan kembali setelah mengurus beberapa hal. Pada saat itu, ayo bertemu. Kalau kau punya waktu, hubungi aku.


Lucy tersenyum simpul. Tiba di lift, ia segera masuk dan menekan tombol lantai dasar.



Begitu keluar dari hotel. Lucy segera mencari taksi yang selanjutnya akan mengantarkan dirinya menuju tempat yang akan ia datangi.


Ia membayar ongkos taksi dengan beberapa lembar uang yang ia miliki.


Detik berikutnya, ia keluar dan melangkah menyusuri trotoar hingga tiba di sebuah taman bermain untuk anak kecil.


Lucy diam termangu menatap taman yang kini dipenuhi oleh anak-anak yang bermain dengan di temani oleh orang tua mereka.


Banyak anak yang tersenyum, tertawa sambil bermain bersama. Beberapa diantaranya bermain ayunan, sebagian bermain pasir, ada juga yang bermain sepak bola dan beberapa permainan lain.


Lucy berjalan menghampiri salah seorang anak yang duduk di sebuah bangunan terbuka. Ia duduk sambil menangis karena beberapa anak lain mengganggunya.


"Hey!" Lucy berseru pada sekelompok anak yang mengganggunya itu. Anak-anak itu seketika menoleh ke arah Lucy yang baru saja tiba.


"Dasar anak-anak nakal! Jangan ganggu dia?!" teriak Lucy menggunakan bahasa Prancis. Anak-anak itu seketika berlarian menjauh dari Lucy dan anak itu.


"Ternyata masih saja ada anak yang suka mengganggu temannya." Lucy menggelengkan kepalanya. Ia lalu beralih fokus pada anak yang duduk menangis di sana.


Lucy berjongkok dihadapan anak itu. "Kau baik-baik saja?" tanyanya lembut. Anak itu mengangguk pelan.


Lucy tersenyum simpul, tangannya terulur mengusap wajahnya yang berlinang air mata. "Semuanya baik-baik saja," bisik Lucy yang lalu memeluknya.


"Akan aku pastikan mereka tidak mengganggumu lagi."


"Pierre!" Seorang wanita paruh baya menyerukan nama anak laki-laki yang bersama Lucy.


"Mama!" Anak itu berlari menghampiri ibunya.


"Kau membuat ibu cemas, darimana saja kau?" tanya wanita itu cemas. Lucy menghampiri wanita itu.


...***...