
"Yang pertama sudah remaja, sedangkan Estelle ini adalah anak keduanya."
"Begitu rupanya." Lucy tersenyum simpul dan kembali melihat Estelle. "Dia begitu manis, dan wajahnya benar-benar seperti Aami. Hanya saja, Aami versi kecil. Mungkin kalau aku tahu wajah Aami saat kecil, pasti sangat mirip dengannya."
"Kakek, apakah kakek membawa hadiah?" Atensi mereka kembali beralih pada Estelle.
"Tentu saja kakek membawanya."
"Dimana hadiahnya sekarang?"
"Ada di dalam mobil. Bagaimana kalau kita ambil?"
"Ya, ayo!" Estelle sangat bersemangat.
Ancel menoleh pada Lucy. "Nona, lebih baik anda masuk duluan. Aku akan menyusul setelah mengambil hadiah untuk Estelle."
"Baiklah," sahut Lucy.
Ancel dan Estelle beranjak dari saja. Tak lama, Lucy menghampiri pintu masuk. Ia berjalan pelan, kepalanya tak henti menoleh ke kiri dan kanan. Setiap detail rumah ini memiliki kepingan ingatan dari masa lalunya.
Lucy diam di depan pintu. Fokusnya tertuju pada sudut teras dimana dulu, ia pernah dimarahi oleh Ancel karena sudah membawa Leon tanpa izin keluar rumah dan membuat seisi rumah heboh.
Lucy terkekeh pelan. Ia masih ingat betul seberapa takutnya ia pada Ancel dulu. Tapi si kakek tua yang dulu jadi pelayan di rumahnya itu, kini bahkan menjadi salah satu orang yang paling ia sayangi.
"Mademoiselle." Seorang wanita berucap dengan suara keras hingga fokus Lucy terbagi.
Ia menoleh ke arah datangnya suara, mendapati Aami yang kini berjalan menghampirinya.
"Aami." Lucy tersenyum melihat wanita yang dulu jadi pengasuhnya.
Aami memeluk Lucy erat. Ia menangis kencang dalam pelukannya.
"Ini bukan mimpi 'kan? Ini benar-benar nona 'kan?" lirihnya dalam bahasa Prancis.
Lucy balas memeluknya.
"Ini memang aku," jawabnya.
"Aku juga merindukanmu."
Aami melerai pelukannya dan menatap Lucy lekat. Kedua matanya beradu dengan iris Lucy yang sama indahnya dengan dulu.
"Aku tidak menyangka, nona jadi lebih cantik. Sudah lama kita tidak bertemu, nona jarang sekali berkunjung ke Paris."
"Ada banyak pekerjaan di London, maka dari itu aku tidak pernah berkunjung kemari."
"Lalu, bagaimana dengan tuan Theodore dan nyonya Caroline? Bagaimana kabar mereka? Apakah mereka baik-baik saja?"
Lucy mengubah air mukanya. Ia seketika murung begitu mendengar Aami bertanya dengan mendiang kedua orang tuanya.
"Mama dan papa sudah meninggal."
"Apa?!" Aami terkejut.
"Mereka mengalami kecelakaan."
Aami semakin tersedu-sedu. "Tuan dan nyonya adalah orang yang baik, kenapa mereka harus pergi begitu cepat? Kenapa nona tidak memberitahuku atau Ancel di sini?"
"Maaf, aku benar-benar tidak tahu kemana harus menghubungimu. Maka dari itu, aku tidak memberitahu. Lagipula kau tahu sendiri 'kan, kalau sudah sangat lama kita tidak bertemu."
"Aku turut berduka atas kepergian tuan Theodore dan nyonya Caroline."
"Terima kasih. Sudahlah jangan menangis." Lucy berusaha menghibur Aami yang begitu sedih.
"Bagaimana mungkin aku tidak sedih? Tuan dan nyonya adalah orang yang sangat baik hati." Aami malah semakin menangis kencang.
Lucy memeluknya sambil mengusap punggung berusaha membuatnya sedikit lebih baik.
"Jangan menangis lagi, lebih baik kita masuk," ujar Lucy.
Aami mengangguk pelan. Mereka kembali merelai pelukannya dan beranjak masuk ke dalam rumah bak istana itu.
Aami membawa Lucy menuju ruang tamu.
...***...