
"Aku tidak tahu juga mengenai makna nama itu, kecuali sir. Nic sendiri tentunya."
Mereka terus berjalan sampai akhirnya tiba di jalan pertigaan. Mereka berbelok ke arah kanan dan terus lurus hingga tiba di salah satu kamar.
Sheilla dan Lucy lalu berdiri tepat di depan kamar bernomor sama yang ada di kunci Lucy.
Lucy segera membuka pintu dorm nya dan melangkah masuk bersama Sheilla.
Di sana, Lucy bisa melihat ada satu tempat tidur kecil, lemari, dan rak sepatu kecil yang di tata rapi.
"Di sini adalah ruanganmu. Saat kau ingin istirahat, kau bisa berbaring di sana, di lemari itu kau bisa menaruh barang-barangmu. Di dalam lemari, juga sudah ada kaos dan celana yang sama denganku yang bisa kau pakai. Lalu di sini, ada sepatu yang dapat kau gunakan untuk berlatih. Selanjutnya, itu adalah pintu kamar mandi," jelas Sheilla panjang lebar.
"Kau bisa ganti bajumu dulu, dan aku akan menunggu di luar."
Sheilla melangkah keluar, meninggalkan Lucy untuk berganti pakaian.
Lucy lalu bersiap untuk berganti pakaian.
...*...
Lucy dan Sheilla melanjutkan perjalanannya menuju ruang latihan. Saat tiba di depan ruangan, Sheilla bertemu dengan Bean yang membuat langkah mereka terhenti.
"Lucy, Sheilla!" panggilnya yang dalam sekejap membuat fokus keduanya beralih pada datangnya suara.
"Coach…" Sheilla menatap Bean yang berdiri dihadapannya.
"Ada yang perlu aku sampaikan sebelum kau masuk. Lucy, bisakah kau menunggu di lapangan bersama yang lainnya, sebentar?"
"Baik, aku akan ke lapangan." Lucy mengangguk lalu beralih menoleh pada Sheilla. Gadis itu segera beranjak meninggalkan Sheilla dan Bean berdua di depan ruang latihan.
Tiba di ruang pelatih. Sheilla segera menghampiri ruangan Bean yang ada di pojok ruangan.
Mereka masuk ke dalam sana.
Bean duduk di kursinya sambil meraih kertas berisi laporan tahunan yang biasa di terimanya setiap ajaran baru.
Tahun ini, seharusnya Sheilla debut menjadi agen lapangan bersama dengan teman-teman sekelasnya yang lain.
"Apa yang ingin anda sampaikan, coach?" Sheilla menatapnya dengan raut wajah penasaran. Hatinya mendadak tidak enak, seperti ada sesuatu yang akan terjadi padanya. Terlebih saat melihat ekspresi dari Bean yang kini menggenggam hasil laporan tahunan yang akan di terimanya.
Bean mendongak menatapnya. Ia menghela napas pelan sebelum bicara.
"Aku memiliki kabar kurang mengenakkan untukmu."
Sheilla menelan ludahnya susah payah. Hatinya semakin resah begitu mendengar ucapan Bean.
"A… apa?" Sheilla bergumam dengan terbata.
"Aku benar-benar minta maaf, seperti yang kau tahu… setiap pelatihanmu selalu mengalami evaluasi oleh kedua orang tuamu serta kakakmu Kenneth."
Bean diam sejenak, mengambil jeda.
"Aku tahu kau tertekan karena berada di bawah tuntutan kedua orang tuamu. Tapi aku tidak bisa berbuat banyak, terlebih setiap nilai yang kau dapat memang tidak sebagus teman-temanmu yang lainnya…"
"…Sekali lagi aku minta maaf. Tapi tahun ini, kau belum bisa debut dengan yang lainnya." Bean berucap dengan suara lemah. Ia sendiri merasa tidak enak harus menyampaikan ini pada Sheilla yang bertahun-tahun terus berjuang untuk menjadi seperti apa yang kedua orang tuanya inginkan. Tapi lagi-lagi, Sheilla harus mengulang hal yang sama. Gagal debut untuk yang kesekian kalinya.
...***...