
Elena diam sambil memegangi kepalanya yang benar-benar terasa sakit akibat pukulan keras dari tongkat yang dihantamkan keras oleh Beatrix padanya.
Tangannya gemetar, tubuhnya lemas, dan kedua matanya mulai berkaca-kaca.
Dalam kondisi seperti ini bahkan tidak ada seorangpun dari teman-teman sekelasnya yang mau membantunya.
Beatrix masih tak tinggal diam, tangannya yang memegang tongkat itu, kembali terangkat dan siap untuk kembali menghantamkan pukulan keras tepat di kepala Elena yang kini tengah tertunduk.
Namun ia terhenti, ketika seseorang memekik ke arahnya.
"Beatrix, hentikan!" teriak Lucy di sana.
Fokus orang-orang langsung tertuju pada tiga orang yang baru saja tiba di sana.
Lucy, Jean, dan Daniel berdiri di ambang pintu.
Beatrix berdecak sebal, ia menurunkan tongkat dalam genggamannya.
Ia sangat benci kalau Lucy sudah mengganggu kesenangannya.
Lucy dan kedua sahabatnya bergegas menghampiri mereka. Ia berjongkok tepat di samping Elena.
Dia menatap tajam ke arah Beatrix yang berdiri tepat di hadapannya. Mereka saling melayangkan tatapan tajam satu sama lain.
Fokus Lucy beralih pada Elena. Ia khawatir, karena gadis itu tampaknya terluka cukup parah.
"Kau terluka cukup parah, ayo ikut aku. Biar kuantarkan kau ke ruang kesehatan," tutur Lucy dengan penuh kelembutan.
Di sebelah lainnya, Jean juga mengkhawatirkannya.
"Apa kau bisa berdiri? Kita bawa kau ke ruang kesehatan, ya?" Jean menimpali.
Ketika Lucy dan Jean sibuk dengan Elena. Beatrix memanfaatkan kesempatan ini untuk melampiaskan kekesalannya pada mereka.
Tangannya sudah terangkat, hendak memukul Lucy dan Jean dengan tongkat dalam genggamannya.
Sekarang rasakan ini, karena kalian telah mengusik kehidupanku! Beatrix membatin.
Beatrix mendongak menatap sosok pemilik tangan yang mencengkram erat tongkat ditangannya.
Daniel melayangkan tatapan tajam ke arahnya.
"Kalau kau berani melukai mereka, maka kau akan berurusan denganku!" ucap Daniel penuh penekanan di setiap kalimatnya.
Beatrix menghindari tatapannya, ia bergegas menurunkan tongkat yang dia genggam.
Beatrix tak ingin berurusan dengan pria seperti Daniel. Apalagi ia tahu jika tingkat kemampuan beladiri pria itu jauh diatasnya.
Lucy dan Jean bangkit sambil memapah Elena. Mereka membawanya pergi dari ruang latihan untuk ke ruang kesehatan agar keadaannya bisa di periksa.
Daniel mengikuti mereka dari arah belakang.
Sementara itu, teman-teman yang sejak tadi hanya menonton, beralih fokus, dan kembali menatap Beatrix sebagai pelaku utama dari penindasan yang baru saja terjadi.
Alih-alih merasa bersalah, Beatrix justru bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Dengan santainya, dia melangkah keluar dari ruang latihan, dan pergi meninggalkan yang lain.
...*...
Tiba di ruang kesehatan, Elena segera ditangani oleh dokter ahli yang berjaga di sana.
Lucy, Jean dan Daniel menunggunya di luar ruangan untuk menunggu hasil periksa dari dokter.
"Apa yang sudah di lakukan Beatrix tadi itu keterlaluan!" gumam Lucy.
"Iya. Dan aku benar-benar kesal padanya, karena lagi-lagi dia membuat kekacauan. Lalu lagi-lagi yang menjadi incarannya adalah Elena." Jean menimpali.
"Sejak awal kedatangan Elena, Beatrix jadi semakin tidak terkendali," kata Daniel menambahkan.
Raut wajah ketiganya nampak kesal. Pasalnya Beatrix, selalu saja membuat keadaan yang tenang menjadi kacau.
...***...