A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 29 - Maxime



Theodore menurunkan Leon. Sejak tadi tangannya menggenggam sebuah paperbag berisi makanan yang akan diberikan pada Liana dan Leon.


"Karena kau sudah berbaik hati mau menyambut oncle, maka kau berhak mendapatkan hadiah," katanya. Leon dan Liana menatap Theodore dengan raut wajah penasaran dengan apa yang akan diberikan sebagai hadiah.


("Paman" dalam bahasa Prancis)


Theodore mengeluarkan sebuah kotak besar dari dalam paperbag yang dibawanya.


"Ini untuk kalian." Theodore menyodorkan kotak tersebut ke arah mereka.


Liana dan Leon membukanya bersamaan, dilihatnya isi dalam kotak itu. Ternyata isinya adalah macaron dengan berbagai varian warna yang berbeda. Macaron itu tertata rapi dalam kubikel kotak tersebut.



Macaron adalah sebuah kue busa manis khas Prancis yang bahannya terdiri dari putih telur, tepung gula, gula rafinasi, tepung almond, dan pewarna makanan.


Macaron sendiri menurut tradisi pertama kali dikenalkan di Prancis oleh koki milik ratu Catherine De Medici selama masa renaisans.


Sejak abad ke sembilan belas, macaron ala Prancis disajikan dengan ganache, krim mentega, atau isi selai yang diapit diantara dua biskuit, yang menjadikannya mirip dengan biskuit lapis.


Makanan tersebut diidentikkan dengan atasan yang halus dan sedikit melengkung, bulatan yang kasar, dan alas yang rata. Selain itu, macaron agak lembab dan mudah meleleh di mulut.


Keduanya merekahkan senyum begitu melihat kue kesukaan mereka. Mereka lalu menatap Theodore dan tersenyum ke arahnya.


"Merci, oncle," tutur Leon berterima kasih.


"Merci, papa," kata Liana selanjutnya. Liana dan Leon lantas memeluk Theodore sebagai ucapan terima kasih mereka.


Theodore hanya tersenyum sambil balas memeluk mereka.


"Omong-omong Leon, ini kenapa?" Theodore bertanya ketika menyadari wajah anak itu berbalutkan plester. Leon memegang plester yang menempel menutupi luka diwajahnya.


Belum sempat ia menjawab, suara pintu yang terbuka membuatnya menoleh.


Pintu masuk terbuka, disana mereka dapat melihat sosok Maxime yang sama tampannya dengan Theodore, hanya saja pria kali ini memakai warna pakaian yang berbeda dan tidak berkacamata.


"Je suis à la maison," ucapnya seraya berjalan masuk.


"Bienvenue à la maison." Zabrina yang sejak tadi diam lalu menjawab. Ia lantas beranjak bangun dan bergegas menghampiri suaminya. Maxime mencium keningnya penuh kemesraan.


(Selamat datang dirumah)


"Papa!" Leon berlari menghampiri Maxime.


"Leon!" Maxime mengangkat putranya itu, lalu memeluknya dalam gendongan, perlakuannya sama seperti Theodore tadi. Maxime mencium kening Leon.


Maxime Laurent La Vergne, anak kedua dari keluarga La Vergne. Orangnya royal terhadap siapapun yang dekat dan akrab dengannya.


Ia memiliki wajah yang tampan seperti Theodore, yang membedakannya hanya dibagian penampilan dan tentunya dia tak berkacamata.


Maxime bisa dikatakan adalah cetak biru dari Theodore, walaupun keduanya kakak beradik yang lahir di hari, bulan, dan tahun yang berbeda, tetapi wajah keduanya hampir mirip bak anak kembar.


Perhatian Maxime teralihkan saat dirinya menangkap hal ganjil di wajah putra tunggalnya. Ia mengangkat wajah Leon agar ia bisa melihat dengan jelas.


"Leon! Pourquoi ton visage?" tanyanya pada Leon. Leon terdiam, kedua manik matanya menatap Maxime dengan raut wajah ketakutan.


(Kenapa wajahmu?)


"Leon?" Maxime memanggil putranya sekali lagi.


"Mon amour. Jangan membuatnya takut. Itu hanya luka kecil karena dia terlalu semangat bermain," kata Zabrina cepat. Maxime melirik ke arahnya sekilas kemudian kembali memandang Leon.


(Sayang)


...***...