A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 65 - Pertengkaran



Lucy dan Jean mendadak diam mengatupkan bibir mereka saat melihat Daniel yang mereka bicarakan menghampiri meja yang mereka duduki.


Sosok lelaki yang sejak tadi tengah mereka bicarakan, kini duduk tepat berhadapan dengan Lucy dan Jean.


Ia duduk di kursi kosong yang ada.


Daniel menatap keduanya lekat. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulutnya. Hanya tatapan mendalam yang dilayangkan ke arah Lucy.


Lucy balas menatapnya bingung. Ia merasa heran mengapa Daniel menatapnya dengan intens seperti ini.


Lucy mulai terganggu dengan tatapan Daniel. Apalagi, lelaki itu tersenyum ke arahnya.


"Hey! Jangan membuatnya takut." Jean menyikut lengan Daniel, membuatnya spontan menoleh ke arahnya.


"Berhenti menatap Lucy seperti itu!" tukas Jean lagi.


"Aku hanya kagum, dia begitu cantik. Siapa namamu?" Daniel menjawab, lalu kembali menatap Lucy.


"Namaku Lucy," ucap Lucy memperkenalkan diri sambil menyodorkan tangan.


"Aku Daniel." Lelaki itu menjabat tangannya. Daniel diam sesaat sambil menatapnya lebih lekat, tangan mereka masih saling bertaut satu sama lain.


"Sudah kubilang jangan membuatnya takut!" Jean merangkul pundak Lucy sambil menepis tangan Daniel hingga jabat tangan mereka lepas.


"Memangnya aku ini menakutkan?" Daniel menaikkan sebelah alisnya.


"Sangat. Sangat menakutkan! Lihat, Lucy sampai tak berkedip menatapmu."


"Dia tidak berkedip karena terpesona akan parasku," ucap Daniel penuh percaya diri.


"Percaya diri sekali kau." Jean mendelik ke arahnya.


"Dasar menyebalkan. Memangnya kau ini siapa? Kenapa bersikap begitu posesif padanya?" Daniel kesal jadinya.


"Namaku Jean! Aku adalah sahabatnya, dan sebagai sahabatnya, aku bertugas untuk melindunginya dari orang menyebalkan sepertimu. Jadi lebih baik sekarang kau pergi!" Jean mengibaskan tangannya mengusir Daniel.


"Jean, kau benar-benar menyebalkan. Kau adalah gadis paling menyebalkan yang pernah aku temui!"


"Aku menyebalkan? Apa tidak terbalik? Bukankah kau yang paling menyebalkan?"


"Astaga ternyata kau tidak sadar juga. Memangnya kau tidak sadar, dengan kedatanganmu kemari, kau sudah membuat kami terganggu dan itu menyebalkan. Pembicaraan kita jadi terpotong!" kesal Jean.


Lucy terdiam seribu bahasa memperhatikan perdebatan keduanya.


Astaga, mereka jadi berdebat hanya karena hal yang tidak penting, batin Lucy. Ia mengalihkan perhatiannya ke arah Sheilla tadi duduk di koridor.


Sheilla? Dia kemana? Bukankah tadi dia duduk di sana? Lucy bangun. Ia hendak mengecek Sheilla yang tiba-tiba hilang dari pengawasannya.


Baru saja Lucy beranjak bangun, tiba-tiba Jean menarik tangannya hingga membuat Lucy kembali terduduk.


"Lucy, aku masih ingin mengobrol denganmu," tutur Jean seraya menatapnya.


"Tunggu. Kau sudah berbicara dengannya sejak tadi, sekarang biarkan aku yang berbicara dengannya." Daniel menepis tangan Jean dan menarik Lucy ke arahnya.


"Hey! Kau pikir kau siapa? Aku Yang lebih dulu berbicara dengan Lucy." Jean tatap Daniel sengit.


"Kau sudah bersama dengannya sejak tadi. Sekarang giliranku! Aku juga ingin berbicara dengannya."


"Tidak bisa. Aku yang lebih dulu berbicara dengannya!"


"Tidak, sekarang giliranku!" Daniel menarik Lucy ke arahnya.


"Aku tidak terima!" Jean tak mau kalah.


Lucy merasa bingung harus berbuat apa. Pasalnya perdebatan mereka tak dapat dihentikan.


"Pokoknya aku yang lebih dulu bicara dengan Lucy!"


"Sekarang giliranku!" Daniel membantah.


"Tidak bisa. Lucy harus bicara denganku dulu."


"Aku tidak mau!"


"Lepaskan tanganmu darinya! Dasar menyebalkan," gerutu Jean.


...***...