
Danny terus melangkah menyusuri lorong gelap. Sesekali ia melirik ke ujung jalan dan ke beberapa gang lain, takutnya ada polisi yang berpatroli dan secara tidak sengaja memergokinya.
Semuanya aman, sepertinya aku saja yang terlalu cemas, pikir Danny yang terus melangkah dan berbelok ke arah salah satu persimpangan jalan.
Begitu memastikan keadaan sekitar gang itu aman, ia segera masuk ke dalam sana dan kembali melangkah dengan tenang.
Di sisi lain, tanpa dia sadari. Seseorang tengah berjalan mengikutinya dari arah belakang. Dengan langit yang begitu tenang dan berbalutkan kegelapan.
Pria itu terus berusaha mengimbangi langkahnya sampai membuat Danny mulai merasa bahwa dirinya tengah di awasi.
Pria itu menoleh. Ia tercekat begitu mendapati sebuah bayangan tengah melangkah menuju arahnya.
Bayangan?
Siapa itu?
Danny menyipitkan kedua matanya. Keringat dingin entah kenapa mendadak mengucur. Membuat tubuhnya gemetar dan jantungnya berdebar.
Danny memeluk koper dalam genggamannya erat-erat.
Bayangan itu terus mendekat seiring waktu.
Drrttt…
Perhatian Danny beralih pada ponselnya. Ia segera menerima panggilan yang baru saja masuk pada ponselnya itu.
"Halo?" Danny mulai berjalan secara tergesa sambil menerima panggilan telponnya dari Rio.
"Kau di mana? Klien kita sudah menunggu sejak tadi!"
"A… aku sedang berjalan menuju tempat kita bertemu." Danny berucap dengan terbata-bata. Ia sesekali menoleh ke arah belakang di mana bayangan itu masih di lihatnya melangkah terus dekat padanya.
"Kenapa kau bicara terbata-bata begitu?"
"A… aku di ikuti," bisik Danny pelan.
"Apa?"
"Ada yang sedang mengikutiku. Sepertinya polisi. Apa yang harus aku lakukan?"
"Sial! Kenapa kau tidak lebih berhati-hati?!"
"Arghh…" Rio mendengus kesal. "Begini, tetap tenang. Dan terus melangkah secepat yang kau bisa. Berjalan dengan langkah biasa agar orang yang mengikutimu itu tidak semakin curiga. Setelah itu bersembunyi di tempat yang aman."
"Baiklah."
"Aku akan mengulur waktu agar klien kita tidak kecewa."
"Okay."
Rio memutus sambungan telponnya. Detik berikutnya, Danny fokus pada langkah yang entah kenapa mendadak terasa berat seiringan dengan orang di belakang sana yang terus mengikutinya.
*
"Dimana dia? Kenapa lama sekali?" Seorang pria berdiri di dalam sebuah ruangan yang disinari cahaya remang-remang.
Pria itu tengah menunggu seseorang yang akan mengirimkan barang beliannya.
Drrttt…
Perhatian pria itu mendadak beralih pada suara ponsel yang di dengarnya. Ia segera menerima telpon tersebut.
"Hey! Di mana dia? Kenapa dia belum datang juga? Kau sengaja mengulur waktu agar aku di marahi bosku, ya?"
"Maafkan aku, tuan. Anak buah kami sedang mengalami kendala ketika di per—"
"Oh, itu dia. Akhirnya datang juga!" Pria itu mengalihkan atensinya pada seorang yang baru saja datang.
Seseorang melangkah dengan mengenakan celana dan Hoodie. Di tangannya ia menggenggam koper yang sepertinya adalah koper berisi barang beliannya.
"Eh?"
"Aku sudah bertemu dengannya," kata pria itu yang segera memutus sambungan telponnya dengan Rio.
"Akhirnya kau datang juga. Kau tahu? Aku sudah menunggumu sejak tadi. Kau benar-benar membuatku tidak tenang. Sekarang cepat berikan!" Pria itu mengulurkan tangannya, meminta sosok itu untuk memberikan koper dalam genggamannya.
Sosok bayangan itu bergeming.
***