A Maze Of Memories

A Maze Of Memories
Maze 64 - Kantin



Sheilla meremat kaos yang dikenakannya dengan kepala tertunduk. Ini bukanlah hal yang pertama kali ia rasakan.


"Sebagai gantinya, kau masih akan tetap berada di dalam kelasku dan kau akan satu kelas yang sama dengan Lucy," ujar Bean.


"Tidak apa-apa, coach. Aku mengerti, lagipula… sejak awal aku memang tidak ingin menjadi agen mata-mata. Jadi aku tidak masalah berapa lama pun aku harus menunggu hingga debutku."


"Kau sungguh baik-baik saja?"


"Ya," sahut Sheilla sambil mengangguk pelan.


Memang sejak awal bukan keinginannya untuk menjadi mata-mata. Tapi kedua orang tuanya terus saja memaksa Sheilla untuk masuk akademi pelatihan agar bisa menjadi mata-mata, mengikuti jejak kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya, Kenneth.


...*...


"Ini. Kau pasti haus." Seorang gadis cantik yang kemarin sempat terlihat berdebat dengan orang tuanya itu menyodorkan minuman kaleng pada Lucy yang terduduk di kursi bundar yang ada di ruang istirahat.


Lucy mendongak menatap Jean yang baru saja tiba. Gadis itu tersenyum hingga membuat wajahnya semakin nampak jelita.


"Terima kasih," ucap Lucy sambil meraih minuman yang baru diberikan.


Jean mengambil duduk di sebelah Lucy.


Mereka baru saja selesai latihan dan saat ini sedang istirahat. Perhatian Lucy sejak tadi tertuju pada Sheilla yang duduk di salah satu bangku di koridor. Gadis itu duduk seorang diri, dan enggan untuk di dekati. Sejak bertemu dengan Bean tadi, sikap Sheilla jadi aneh.


Lucy membiarkannya sejenak guna memberinya ruang untuk menenangkan diri.


"Latihan yang melelahkan, ya?" Jean berucap hingga mengalihkan fokusnya.


"Ya…" kata Lucy dengan suara lemas.


"Omong-omong gerakanmu tadi benar-benar bagus. Aku menyukainya. Bisakah lain kali kau mengajariku gerakanmu?"


"Aku… tidak yakin bisa mengajarmu. Jujur saja, aku sendiri juga masih belajar sama sepertimu."


"Ayolah, bantu aku untuk memiliki gerakan sebagusmu, ya? Latih aku, aku mohon…"


"Yeay!" Jean tersenyum kegirangan karena Lucy mau mengajarinya.


"Oh ya, kita belum kenalan. Namaku Jean." Jean mengulurkan tangannya.


"Aku Lucy," jawabnya sambil menjabat tangannya seraya tersenyum.


Lucy sebenarnya tahu nama gadis itu. Karena kemarin, Jean berdebat dengan ibunya tentang nama yang ia gunakan.


"Namaku seperti laki-laki 'kan? Hehe…" Jean terkekeh pelan.


"Ya, tapi keren. Aku suka namamu."


"Benarkah? Ah… sudah aku bilang, nama Jean memang keren. Tapi mamaku malah tidak mengerti dan dia berkata bahwa nama itu untuk laki-laki. Katanya nama itu tidak cocok untukku," gerutu Jean mengingat kembali perdebatannya kemarin bersama sang ibu.


Lucy hanya tersenyum menanggapi ucapan Jean. Gadis yang cukup asyik untuk di ajak bicara, walaupun baru saling kenal beberapa menit. Tapi, Lucy merasa sudah langsung akrab dengannya.


Atensi Lucy mendadak tersita oleh kedatangan lelaki yang berjalan masuk dengan segerombolan orang.


Jean ikut beralih pada lelaki yang baru saja masuk.


"Aish dasar, apakah gadis-gadis itu tidak memiliki pekerjaan lain selain mengikuti lelaki itu?" Jean berkomentar.


Lucy menoleh pada Jean yang baru saja berucap.


"Kau kenal dengannya?"


"Namanya?" Jean mengerutkan kening berusaha untuk mengingat-ingat kembali nama lelaki yang baru saja masuk ke ruang kantin.


"Aku tidak ingat dengan namanya," gumam Jean.


Jean tiba-tiba terdiam.


...***...