
Tukk!
Nampan di tangannya beradu ketika tidak sengaja menaruhnya bersamaan dengan sosok dihadapannya.
Gadis yang sedang memegang nampan itu, lantas mendongak ke arah sosok pemilik nampan yang baru saja beradu nampan dengannya. Raut wajahnya berubah kesal ketika melihat sosok pria dihadapannya.
"Aku yang lebih awal tiba di sini!" tukas keduanya serentak. Orang-orang di sekitar mereka menoleh secara serentak, begitu mereka mendengar teriakan keduanya.
"Enak saja kau bilang!" Lagi-lagi keduanya berbicara kalimat yang sama dan secara serentak pula.
"Berhenti meniruku!" teriak mereka lagi.
"Aish, lihat mereka. Benar-benar seperti sepasang kekasih. Jangankan tempat duduk, mereka bahkan berbicara dengan kalimat yang sama dan berbarengan pula." Jean berkomentar di sebelah sana, kedua manik matanya memandang ke arah Grayson dan Sheilla yang berada tepat di meja sebelah mereka duduk.
"Kau benar, dan lagi-lagi mereka membuat seisi ruangan ini menoleh ke arah mereka. Membuat mereka jadi pusat perhatian." Daniel menanggapi.
Ia meraih minumannya lalu menyeruputnya pelan.
Jean beralih pada Daniel yang duduk di hadapan Lucy.
"Kau jangan khawatir dengan itu, Dan! Bagi para fansmu, kau tetap yang paling menyita perhatian mereka," ledek Jean.
"Tentu saja, aku 'kan idola mereka!" Daniel angkuh.
Jean memutar bola matanya jengah, ia menyesal sudah berkata seperti itu. Karena hal itu malah membuat Daniel semakin percaya diri.
Di sisinya, Lucy tak ingin berkomentar. Ia memilih diam dan terus fokus pada makanan yang tersaji dihadapannya.
Lagi-lagi, sesi istirahat mereka, dihiasi oleh perdebatan antara Grayson dan Sheilla yang tidak ada habisnya.
Padahal sudah bertahun-tahun berlalu. Tapi permusuhan di antara mereka seakan tak pernah ada kata usai.
Mereka terus berseteru dalam segala hal, termasuk hal kecil sekalipun.
"Kau saja yang pergi. Aku lebih dulu tiba di sini, lagipula ini tempat biasa aku duduk!" Grayson tak mau kalah.
"Tidak mau. Kau yang pergi, lagipula siapa pun boleh duduk di sini dan kau tidak berhak untuk melarangku untuk duduk di meja ini. Sekarang cepat pergi dan cari mejamu sendiri!"
"Pokoknya aku tidak mau. Kenapa tidak kau saja? Lihat! Di sini masih banyak meja yang kosong, kenapa kau ingin duduk di tempatku!"
"Tempatmu? Jangan mengada-ada. Cepat pergi!" Sheilla berusaha keras untuk mengusir pria itu.
Grayson bergeming. Nampannya di taruh di atas meja, ia berdiri dengan kedua tangan yang di lipat di depan dada.
"Aku tidak akan pergi!" ucapnya tak acuh.
Sheilla semakin kesal. Ia juga sama-sama tidak ingin pergi dari meja itu, karena ia menyukai meja itu.
Sheilla merasa dengan dirinya duduk di meja itu, dia dapat dengan tenang menikmati makanannya, dan lagi ia tidak terlalu suka duduk dekat jendela.
Ia lebih suka duduk di tengah ruangan. Di antara satu meja yang dekat dengan jendela.
Sheilla lantas mengambil duduk di sana, menghiraukan Grayson.
"Jika kau tidak mau pergi, aku juga tidak akan pergi!" tukasnya.
"Jadi kau tidak mau pergi?"
"Tidak. Jika kau mau, kau saja yang pergi," sahut Sheilla dengan nada ketus.
"Okay kalau begitu…"
...***...